Gak Pintar Matematika, So What?

 

, Gak Pintar Matematika, So What?Oleh: Yudi Bachtiar

Matematika, bagi sebagian orang dinilai sebagai mata pelajaran yang sangat sulit sehingga menjadi semacam fobia. Alasan fobia tersebut beraneka ragam, mulai dari masalah otak yang dianggap tidak kuat, trauma semasa kecil karena pernah dijemur di lapangan atau berdiri di depan kelas gara-gara tidak bisa mengerjakan soal matematika, sampai sosok guru yang killer.

Di antara orang yang mengalami fobia tersebut adalah saya. Trauma di masa kecil adalah alasannya. Sewaktu Sekolah Dasar (SD) dahulu, saya sering kena hukum karena tidak bisa menghafal perkalian dari 1-10, hukuman yang guru berikan waktu itu adalah berlari di lapangan atau berdiri di depan kelas. Maksud guru saya mungkin baik, tapi bagi saya, semua itu menimbulkan trauma yang dalam dan berkepanjangan, bahkan sampai hari ini.

Berdiri di depan kelas, atau berlari di lapangan disaksikan oleh teman-teman, guru, dan pedagang, membuat saya malu dan juga tertekan. Ditambah perasaan bersalah dan takut jika hal tersebut sampai diketahui oleh orang tua.

Tapi, sebesar apa pun ketakutan saya terhadap matematika, saya tidak bisa lari darinya. Dari SD sampai kuliah di Sekolah Pascasarjana sekarang ini, saya masih berjumpa matematika, bahkan dalam bentuk yang menurut saya lebih sulit, yaitu statistika.

Mengambil kata-kata hikmah dari film kartun Kapten Tsubasa, “pertahanan terbaik dalam sepak bola adalah dengan menyerang,” saya mencoba untuk menghadapi ketakutan saya sendiri; memulai untuk menyukai apa yang saya benci. Dan hasilnya? Saya belum juga menyukainya.

Pendidikan di Indonesia memang belum sepenuhnya mengadopsi teori kecerdasan majemuk (multiple intellegency) Howard Gardner, yang menyatakan bahwa setiap orang memiliki bakat dan kecerdasan yang berbeda satu sama lainnya. Sehingga guru tidak boleh serta-merta menjustifikasi bahwa seorang anak adalah anak yang bodoh hanya karena tidak bisa menghafalkan perkalian 1-10. Dianalogikan seperti perlombaan lari yang diikuti oleh kelinci dan kura-kura, dalam perlombaan tersebut sudah pasti kelinci akan menang karena ‘kepintarannya’ dalam berlari, namun apakah kura-kura itu bodoh? Coba sekarang lombanya diganti menjadi lomba menahan nafas di dalam air. Kura-kura pasti menang karena ‘kepintarannya’ dalam menahan nafas di dalam air.

Jadi, kecerdasan itu sangat tidak pas jika diukur dari satu variabel saja. Bayangkan jika seorang Profesor Bahasa Sunda disuruh memahat, betapa pun pintarnya, ia tidak akan mampu membuat karya ukir yang bermutu tinggi. Pun sebaliknya, jika seorang ahli pahat yang hanya lulusan SD diminta mengajar B. Sunda di perguruan tinggi, sudah pasti tidak akan bisa mengajar dengan baik karena tidak memiliki kecerdasan dan ilmu yang mumpuni. []

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.