Hadiah Buku

0

 

, Hadiah BukuOleh: Yusuf Maulana, Lahir di Cirebon dan ketika dewasa tinggal di Yogyakarta. Setia menekuni industri kreatif dalam dunia literasi. Senang menyimak komunikasi politik dan bertukar ide dengan aktivis mahasiswa.

Bagaimana rasanya bila buku yang pernah kita turut di dalamnya menjadi hadiah bagi kita? Seorang kenalan istri pernah menghadiahi buku yang diterbitkan kantor (lama) saya sebagai kado pernikahan kami. Jelas sekali judul buku tersebut bukan barang baru bagi saya. Mau ditolak, tentu tidak baik, apalagi pemberian orang. Yang barangkali membuat saya urung menghadiahkan ulang buku tersebut lantaran ada tulisan ucapan selamat di halaman awal.

Kasus seperti hadiah pernikahan tadi bukan yang pertama. Dulu saya juga pernah diberi hadiah oleh mahasiswa setelah memberikan pelatihan menulis. Entah mengapa, mungkin—lagi-lagi—karena tidak tahu panitia menghadiahi buku yang juga milik kantor (lama) saya. Jelas buku itu tidak saya butuhkan; bukan karena isinya tidak penting, tapi memang ia sudah bagian dari ritme kerja saya.

Dalam kasus kedua, ada yang beruntung karena panitia belum menuliskan petatah-petitih di lembaran awal buku. Seorang teman yang butuh buku tersebut, sementara dia punya buku berjudul lain yang saa incar, mendapatkannya dengan jalan barter. Berganti kepemilikan. Dia butuh buku praktis soal merajut pernikahan bagi aktivis dakwah; saya mendapatkan buku ’berat’ soal sejarah peradaban. Saya malah, dalam hati, bersyukur atas hadiah dari mahasiswa tadi. Hadiah sebenarnya bukan dari mereka, melainkan dari proses barternya. Dan merekalah perantara untuk berlangsungnya takdir ini.

Secara prinsip, sebagai seorang Muslim saya tentu tidak boleh meneolak hadiah atau pemberian orang. Mereka sudah berupaya mengikhtiari berdasarkan prasangka baik kepada saya. Bahwa kemudian saya tidak membutuhkan, atau tidak lagi memprioritaskan sebagai kebutuhan, ini perkara berbeda. Barter dengan teman atau menjual pernah saya tempuh—di masa bujang.

Paling tidak ini jalan tengah menghadapi hadiah berupa buku yang kita sudah punya judul sama atau belum prioritas membaca, atau bahkan berbeda pandangan ideologi. []

 

 Artikel Terkait

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

you're currently offline