Hanya Tamu Thalhah yang Makan

 

Dalam timbangan Islam, memberi bukan sekadar memberi sesuatu buat orang lain. Lebih dari itu. Islam mengajarkan memberi dengan sesuatu yang terbaik. Bukan sekadarnya. Firman Allah swt., “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahui.” (QS. 3: 92)

Seorang sahabat Rasul, Thalhah, pernah memberi contoh. Sahabat Anshar itu  siap menjamu tamu Rasulullah saw. di rumahnya. Padahal, ia dan keluarga tak punya apa-apa kecuali dua porsi makanan yang direncanakan buat ia, isteri plus anak-anak.

Thalhah tak kehilangan akal. Ia siapkan sebuah rencana bersama isterinya. Ketika makanan buat tamu terhidangkan, lampu dimatikan. Sang tamu tidak tahu kalau cuma dirinya yang makan. Sementara, tuan rumah tidak.

Paginya, Thalhah menghadap Rasul. Rasul mengatakan kalau ada ayat turun semalam berkenaan dengan Thalhah. Saat itulah, sang tamu tersadar kalau cuma dirinya yang makan semalam.

Ramadhan memberikan banyak makna bahwa hidup tak selalu menerima. Akan selalu ada kelebihan yang patut disyukuri. Dan memberi adalah salah satu wujud syukur seorang hamba kepada Pencipta-Nya. []

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.