Haramnya Berbohong bagi Kaum Muslimin

0

Mudah-mudahan kita tidak pernah berbohong. Namun, mungkin bisa jadi pernah juga, baik sengaja ataupun tidak. Baik disadari atau tidak. Kita tentu sudah tahu kalau berbohong merupakan perbuatan negatif yang akan berdampak buruk baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu, kita harus berbuat jujur.

Terkait dengan ini, Allah SWT menyatakan, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan & hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (QS. Al-Isra’ : 36). Dan Allah SWT juga berfirman, “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaaf : 18).

Rasulullah telah memberikan penjelasan kepada kita, bahwa dosa bisa menjerumuskan pelakunya ke neraka. Dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya kejujuran itu menuntun kepada Al-Birr (kebaikan), sedangkan kebaikan itu mengantarkan ke dalam surga. Sesungguhnya seseorang senantiasa bersikap jujur hingga ia dicatat di sisi Allah Ta’ala sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya Al-Kadzib (kebohongan) itu mengarahkan pada kejahatan, sedangkan kejahatan itu menjerumuskan ke dalam neraka. Sungguh seseorang senantiasa berbohong hingga dicatat sebagai pendusta” (HR. Bukhari (10/423).

Dalam menafsirkan hadits diatas, para ulama menyatakan: Sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada amalan shalih yang bersih dari segala cela. Al-Birr adalah sebutan umum bagi segala kebaikan. Ada juga yang berpendapat bahwa Al-Birr adalah Surga.

Jadi, Al-Birr bisa dimaknai segala amal shalih dan surga.
Adapun Al-Kadzib (kebohongan), maka perbuatan ini akan mengantarkan pada kejahatan, yaitu berpalingnya dari sifat istiqamah. Ada juga yang mengatakan bahwa kebohongan adalah kemaksiatan yang paling cepat menyebar.

Tentang tercelanya membicarakan segala sesuatu yang ia dengar, Rasulullah bersabda, “Cukuplah seseorang dianggap pendusta jika ia selalu membicarakan segala sesuatu yang ia dengar” (HR. Muslim 1/10).

Abdullah bin ‘Amr berkata, “Rasulullah pernah datang ke rumah kami, waktu itu aku masih kecil, akupun keluar utk bermain. Ibuku kemudian memanggil, “Ya Abdullah kemari, nanti akan ibu beri sesuatu”. Maka Rasulullah bertanya: “Apa yang akan kamu berikan?” Dia mejawab, “Saya akan memberi kurma”. Rasulullah kemudian bersabda, “Seandainya engkau tak melakukan (apa yang engkau katakan), berarti telah dicatat atasmu satu kedustaan” (HR. Abu Daud no. 4991).

Nabi bersabda, “Seseorang yang senantiasa dan terbiasa dengan dusta akan dicatat di sisi Allah ta’ala sebagai pendusta.” (HR. Bukhari 10/423, Muslim no. 2606).

Wahai saudara Islam, berdasarkan pemaparan di atas, maka berhati-hatilah dari akibat kedustaan, karena kedustaan adalah pangkal segala kejahatan. Hal itu sebagaiamana yang dinyatakan dalam sabda Rasulullah diatas “Sesungguhnya kedustaan itu akan mengantarkan kepada kejahatan, sedangkan kejahatan akan menjerumuskan ke dalam neraka”. [istiqomah]

Artikel Terkait

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.