Hedonisme di Kampus Pendidikan

0

 

, Hedonisme di Kampus PendidikanOleh: Neng Ratna, mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Kampus Purwakarta

Paham yang satu ini rupanya sudah banyak menyentuh lini kehidupan saat ini, termasuk pada dunia pendidikan, sebut saja kampus. Hedonisme tumbuh subur didalamnya dan menjelama menjadi budaya kekinian yang banyak dianut oleh mahasiswa.

Gaya hidup hedonis membuat para mahasiswa perlahan telah banyak mengalami disorientasi.Hingga pada akhirnya hal-hal personal akan moral terposisikan pada urutan yang tidak diutamakan. Salah satunya, terlihat dari cara berpakaian seorang mahasiswa pendidikan (Academic University) atau sebut saja mahasiswa keguruan yang mulai tidak mencerminkan kepribadian bahwa dirinya sebagai seorang calon pendidik.

Berbeda dengan mahasiswa kampus umum (Research University) yang dicetak bukan untuk menjadi seorang pendidik atau guru.Tentu dalam hal ini penampilan seorang mahasiswaAcademic University jelas berbeda, setidaknya ketika ia sudah masuk dalam lingkungan akademik—seharusnya bukan gaya-gaya artis yang sedang trend, perokok, rambut gondrong, dan sejenisnya, sekali lagi tentang calon seorang pendidik.

Dominasi mahasiswa Academic University yang dicetak untuk menjadi pendidik atau guru merupakan teladan yang dibentuk untuk menjadi model of role bagi anak didiknya nanti. Dan itu perlu pembiasaan yang mencerminkan sebuah pendidikan.

Lalu kita soroti saja, banyak penampilan kepribadian mahasiswa calon pendidik itu, rata-rata begitu fashionable, tak ubahnya muda-mudi yang hendak pergi ke mall. Lalu apakah ini bentuk berontak mahasiswa yang didukung dengan arus perkembangan zaman?

“Mindset” Mahasiswa Keguruan

Pola pikir mereka yang sepertinya sudah ter-set bahwa hidup hanya sekali, maka nikmati. Pemikiran dasar itulah sesungguhnya menciptakan pola hidup hedonis, dan pola-pola lain yang memunculkan perilaku tersebut. Pola pergaulan, pola pikir, dan pola informasi yang tersampaikan diartikan sebagai bentuk paham kesenangan, bukan sebuah aturan yang terkekang untuk memaksa mereka, yang pada akhirnya lupa hakikat diri bahwa ia akan menjadi seorang pendidik atau guru.

Kampus pendidikan yang notabene mencetak seorang akademisi, ketika dibenturkan dengan kenyataan, yakni lewat tampilan pakaian, cenderung jauh dari pondasi yang terbangun dari pendidikan yang ada di kampus dan lingkungan pendidikan.

Para mahasiswa itu terjangkit virus-virus konsumerisme yang dipicu maraknya pusat perbelanjaan. Tidak bisa dipungkiri bahwa kecendrungan mengikuti tren mutakhir dari sikap hidup merupakan salah satu kriteria hedonisme.

Jika ia calon pendidik/guru tentu pakaian mereka menjadi cerminan kepribadiannya. Boleh jadi kelak keteladan itu hanya sampai pada lingkungan formal saja—sekolah, tetapi tidak dengan keberdaannya saat tidak mengenakan “titel” seorang pendidik.  Lalu bagaimana anak muridnya nanti ketika melihat gurunya di luar tidak mencerminkan seorang pendidik? Dan itu adalah kekhawatiran ketika hal ini justru akan menjadi budaya baru dalam dunia pendidikan, perilaku para calon pendidik itu akan ditiru habis-habisan oleh para penerus generasi bangsa ini.

Setidaknya itulah yang saya tangkap, tanpa bermaksud untuk mencela siapa-siapa. Walau begitu memang tidak semua mahasiswa terjangkit virus hedonis tersebut, namun alangkah indahnya jika calon pendidik memberikan contoh dan perilaku yang baik setidaknya kepada adik-adik kelas untuk kemudian ke masyarakat. []

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.