Hijrah Menyejarah

, Hijrah MenyejarahOleh: Sofistika Carevy Ediwindra

Hari ini, di hari yang sama, sekitar 1435 tahun yang lalu, menjadi momen yang paling berharga bagi umat Muslim. Di hari ini, satu Muharram, seribu empat ratus tiga puluh lima tahun yang lalu menjadi momen besar nan spesial hingga harinya pun dijadikan rujukan awal tahun bagi kalender Hijriyah, kalender Muslim sedunia. Momen itu bernama hijrah.

Hijrah bukan semata bermakna pindah. Ada bersamanya konsekuensi besar yang oleh manusia sadar akan dimaknai sebagai suatu revolusi, perubahan besar. Siapa yang mau diri dan keluarga, sahabt dan orang-orang tercintanya harus terusir dari tempat/tanah yang begitu dicintai? Siapa yang tak berat, harta dan sejuta kenangan di tanah sebelumnya, harus ditukar dengan tempat yang bahkan belum dikenal. Berat? Jelas. Sulit? Pasti. Tapi ajaran orang-orang nan ikhlas berkata lain. Mereka lebih menyambut titah Tuhan mereka yang janjiNya tak pernah tersalahi. Ya, titah untuk hijrah.

Tanah yang bernama Mekkah tersimpan di dalamnya berjuta keindahan dan kasih sayang. Sanak saudara baik yang hidup maupun tiada, semua berbalut tanah itu, Mekkah. Rumah sederhana, perdagangan yang jadi usaha, cinta yang dirajut sejak mula, anak dan peradaban impian, semua terbangun kokoh di sang Mekkah. Namun ia bukan bermakna kecintaan yang buta. Ya, mereka orang-orang luar biasa itu ajarkan kita cinta sejati, cinta yang tiada terbutakan. Cinta yang mengarus pada penghambaan pada Illahi. Dan Muhammad menjadi pemimpin pembuktian eksistensi cinta itu.

Adalah hijrah, ada padanya perjuangan untuk berangkat. Berangkat dari status quo diri menuju tanah tujuan, tanah perubahan. Adalah hijrah. Ada bersamanya pembuktian. Bukti akan teman sejati; mana yang mau membersamai dan mana yang enggan mengikuti. Ya, ia adalah bukti. Ada bersama hijrah pula kerelaan untuk skenario Tuhan merajai. Ya, bukti dan kerendahan diri di hadapNya bahwa kita semata hanyalah pion-pion kecilNya. Adakah kita mengelakNya? Ada bersama hijrah harapan, mungkin jua kecemasan. Ada bersamanya impian, meski ia berbalut kekhawatiran. Bersama hijrah pasti ada lelah, menjadi dahaga yang bahkan sangat menyiksa, mendulang lapar yang kadang berujung putus asa. Tapi tidak bagi sang insan perkasa. Ia memang lelah, tapi tak ubah jadi kalah. Ia memang payah, tapi tetap mengurungkan kesah. Ia terus berjuang karena ada padanya keyakinan untuk menang.

Mungkin hijrahku sekadar pindah kontrakan. Mungkin hijrahmu sekadar pakai hijab sempurna. Mungkin hijrah mereka sekadar beritikad untuk memulai sedekah. Mungkin pula hijrahnya sekadar ingin mulakan solat di awal waktu. Atau mungkin hijrah kita sekadar jujur dalam tindakan dan melakukan apa yang dibicarakan. Hijrah apapun, sesederhana apapun, mulakan dengan niatan perubahan, perubahan karenaNya. Hijrah sekecil apapun adalah berharga karena tak semua berani tu beranjak. Tak semua dimampukan untuk berkutat dalam lelah.

Hijrah kita memang sederhana, pun seperti hijrah sang pemimpin, Muhammad. Mereka mungkin mengawali langkah dengan niatan kecil, menuruti titah Tuhan mereka, selamatkan akidah. Tapi kita bisa lihat, niatan sederhana mereka berolah berkah berlimpah, tercatat di sejarah nan indah. Hijrah yang menyejarah.

Mari jadikan hijrah kita bersejarah, hijrah yang menyejarah. Hijrah untuk bersama meniti titian kecil yang kelak menjadi daulat di tanah peradaban. Mari kokohkan niatan hijrah diri kita. Adakan syukur dalam dada lantaran kesempatan hijrah kita masihlah ada, diberi olehNya. Teruslah berjuang menyongsong tujuan hijrah yang berkah, yakni perubahan menuju kebaikan. Teruslah bertahan, karena bukan berarti lepas berpindah ujian kan selesai menghadang. Bisa jadi ia kian membesar membendung di hadapan. Maka kuatkan keyakinan. Jangan mundur, jangan pernah mundur. []

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.