Hikmah Pindahan

Oleh: Drg. Anne Adzkia Indriani

ADA yang pernah ngalamin pindahan? Ada profesi tertentu yang ‘memaksa’ kita untuk sering pindahan. Seperti profesi saya (dokter gigi) dan suami (engineer tambang), polisi, anggota TNI atau PNS.

Buat saya, pindahan itu menyenangkan. Melihat tempat baru, kenalan dengan orang baru, traveling dan sebagainya. Selalu ada sesuatu yang saya nikmati dalam proses pindahan, meskipun capeknya juga lumayan.

Sejak kecil, sepertinya sudah nggak bisa dihitung dengan jari berapa kali saya pindah rumah. Ada juga sih yang beberapa kalinya pindahan kontrakan. Yang ini sih masih dalam satu kota. Tapi sebagian besar adalah pindahan antar kota. Dan yang terakhir antar negara.

Pengalaman pindahan yang berkesan di mulai ketika saya dan keluarga (saya sudah berkeluarga saat itu) harus pindah antar pulau, yaitu dari Jawa Barat ke Kalimantan Selatan.

Pertama  kalinya membangun keluarga, saya awali ketika tinggal di Purwakarta, Jawa Barat pada tahun kedua pernikahan. Setelah setahun sebelumnya menumpang di rumah ortu. Saya pindah ke Purwakarta karena harus mengikuti PTT*, sementara suami saat itu bekerja di Kaltim. Jadi hubungan kami masih LDR.**

Satu setengah tahun pertama, kami masih jadi kontraktor. Baru kemudian kami berhasil nyicil rumah mungil. Dan pindahlah kami dari kontrakan ke rumah mungil tersebut. Disanalah kami mulai membangun keluarga sebenarnya. Mengumpulkan perabot sedikit demi sedikit, mempercantik rumah mungil kami supaya nyaman dan mendukung pertumbuhan anak pertama kami yang masih batita.

Saya selesai PTT pada tahun ketiga, artinya setelah satu setengah tahun kami menempati rumah cicilan. Lalu, suami berniat memboyong saya dan anak-anak (saat itu anak kedua baru aja lahir) ke Kalimantan. Artinya, rumah baru kami yang bahkan cicilannya belum tuntas, udah harus ditinggalin. Dan kami harus memulai semuanya dari awal lagi.

Akhirnya, pindahlah saya dan anak-anak ikut ke lokasi tempat kerja suami di kota kecil di ujung Kalimantan Selatan. Rumah di Purwakarta dikontrakkan, barang-barang yang udah kami kumpulin, terpaksa sebagian besar dijual. Karena biaya relokasi lumayan besar.

Jadilah kami memulai lagi membangun keluarga. Senang? Tentu. Karena kali ini formasi kami lengkap. Ditambah lagi tempat yang baru ini menambah pengalaman kami. Disinilah pengalaman harus dibayar oleh properti yang kami kumpulkan dari hasil keringat selama lebih dari tiga tahun.

Di Tanjung, nama kota tempat kami tinggal, kami jadi kontraktor lagi. Dengan perabot seadanya dan kembali nyicil satu demi satu. Satu setengah tahun berikutnya, kami berhasil beli rumah lagi, karena mengontrak ternyata lebih banyak ngeluarin uang dibanding nyicil rumah. Rumah kali ini bukan lagi rumah mungil. Cukup besar buat kami, dan lebih bagus dari sebelumnya. Kami berhasil mendesain rumah kami sesuai keinginan, karena tabungan kami lumayan cukup saat itu. Bahagia tinggal di rumah sendiri. Lebih leluasa mengatur rumah, tanpa takut diprotes pemilik kontrakan .

What’s next? Belum setahun kami menikmati rumah baru, suami kembali harus pindah. Duuh, saya sempat stress kali ini. Lagi seneng-senengnya menata rumah baru, tiba-tiba harus ditinggalin lagi. Belum lagi perabot yang sudah lumayan lengkap harus dijual lagi. Apalagi kali ini kami pindah ke luar negeri yang nggak mungkin bawa banyak barang.

Semua kami jual dengan harga murah. Dari mulai sendok, sampai kendaraan.  Nggak sedikit yang dibagikan gratis. Habis-habisan deh.

Tapi akhirnya, semua proses ini menumbuhkan keasyikan tersendiri. Pindah tempat baru, rumah baru dan barang baru. Praktis kami nggak punya barang yang usianya lebih dari lima tahun. Hampir semuanya diperbarui tiap 3 tahun sekali.

Ada sebuah hikmah yang saya tangkap, bahwa dunia itu sifatnya fana.

Proses kehidupan manusia berputar terus.

Dari alam rahim yang penuh kenyamanan, kita dilahirkan tanpa membawa apa-apa. Harus berjuang dari awal agar bisa bertahan hidup. Lalu di dunia, apakah harta yang kita kumpulkan akan kita bawa ke alam kubur? Tentu tidak.

Hanya kekayaan ruhiyah yang menemani dan menyelamatkan kita di tiap tahap kehidupan. Dimanapun kita berada, di belahan dunia manapun, bahkan di alam barzah kelak.

Semua ini membuat kami menikmati pindahan dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Ada sesuatu yang lebih berharga dibanding harta yang ditinggalkan, yaitu pengalaman batin. Pengalaman yang mudah-mudahan menjadi bekal hakiki kehidupan kita menembus batas dunia.

Catatan:

*PTT: Pegawai Tidak Tetap, yaitu semacam wajib dinas bagi dokter/dokter gigi baru yang masa kerjanya rata-rata berlangsung 3 tahun.

*LDR: Long Distance Relationship alias hubungan jarak jauh

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.