Hud, Asisten ABG, dan Mak Edah

0

Oleh: Icha Bukhori

Lahirlah Hud, pada tanggal 24 Agustus 2012. Hadiah Lebaran yang paling indah sepanjang hidup saya. Penantian panjang selama sembilan bulan diakhiri pada hari itu. Kehamilan yang juga mengundang kerut di kening dan penuh perjuangan.

Janin Hud hidup bersama dengan sebuah alat kontrasepsi dalam rahim saya. Puji syukur alhamdulillah Makarim Huda Bukhori lahir tanpa kurang suatu apapun dalam keadaan sehat, dengan bobot yang lumayan besar 3900 gram.

Tidak sedikit orang yang bertanya pada saya pada kehamilan yang kelima ini, apakah saya mempunyai seorang asisten di rumah. Sejak kehamilan saya menginjak usia empat bulan asisten andalan saya berhenti bekerja. Sampai menjelang melahirkan saya terus berharap dan berdo’a agar ada seseorang yang bisa membantu saya mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Tapi dia tidak pernah muncul.

Kebanyakan orang terbelalak mengetahui saya tidak mempunyai asisten. Sementara perut saya terus membesar, bayi saya yang lahir tahun lalu  pun membesar, Aktivitasnya menuntut perhatian ekstra. Sedang meumeujeuhna, kata orang Sunda. Belum lagi mengurus pekerjaan (kalo susah dibilang karier), anak-anak yang lain, pekerjaan rumah tangga,  aktivitas sosial, ahh sepertinya gak mungkin. Orang geleng-geleng kepala. Mungkin dalam hatinya berdo’a supaya tidak diberikan “nasib” seperti saya hehe..

Repot? Yaaah.. kalau saya bilang nggak, itu bohong. Yang jelas  suami juga turun tangan mengurus anak-anak, sampai ke masalah tetek bengeknya. Kurang tidur, ya. Badan terasa ringsek sampai saya merasa perlu untuk memberikan wasiat pada suami, ya,  hehe…  Otak terus berputar bagaimana caranya supaya segala sesuatunya bisa well organized, efisien dan efektif.

Dua hari setelah pulang dari rumah sakit saya dapatkan seorang asisten. Seorang ABG mungil berusia limabelas tahun, seorang anak piatu sejak batita. Masih perlu pengarahan, begitu keterangan dari pengantarnya. Saya dulu juga seorang anak piatu, gak ada seorang mama yang mengajari saya masak. Mmm.. ok, saya jadi sangat memaklumi hal itu.

Pakaian digulung setelah disetrika, tidak bisa dibedakan sudah disetrika atau belum. Saluran sink cuci piring mampat. Menggoreng tanpa minyak. Masak nasi tanpa air. Mesin cuci yang dia putar ke menit tertentu tapi tidak berapa lama kemudian dia putar lagi supaya berhenti. Lantai yang masih bernoda meskipun sudah disapu dan dipel. Caranya melipat selimut membuat saya tidak ingin melihat bentuknya. Dengan senang hati pergi begitu saja untuk bermain sementara keadaan masih berantakan.

Ternyata benar sungguh aku sangat perlu dikasihani. Akhirnya meleleh juga air mata ini di suatu subuh, ditemani rasa cenat-cenut bekas luka operasi di perut. Kehendak hati ingin melakukan banyak hal, tapi dibatasi oleh kelemahan fisik. Ada asisten kok ya malah menambah pekerjaan…

Setelah seminggu lebih  datanglah Mak Edah, seorang dukun beranak (paraji) dari kampung ibu mertua. Di usianya yang awal 60an tubuhnya masih tegap. Beliau datang untuk mengusir penat otot-otot badan saya. Dan mengalirlah cerita tentang pengalamannya di tempat transmigrasi. Termasuk pengalamannya membidani sendiri kelahiran lima anaknya.

“Muhun, Neng. Mak mah ngalahirkeun ku nyalira. Bujeng-bujeng doktor, da Emak kan di tengah leuweung. Karaos ceceletitan teh ku emak dicandak damel weh, kenging meureun satengah hektar mah. Tah tos karaos pisan ngampih weh emak teh ka kasur, dihamparan. Barudak dititah arameng. ..”  (Iya, Neng. Mak mah melahirkan sendiri. Boro-boro dokter, Emak tinggal di tengah hutan. Begitu terasa nyelekit Emak teruskan bekerja, sekitar setengah hektar pekerjaan yang Mak selesaikan. Setelah benar-benar ingin melahirkan Mak naik ke kasur, sedangkan anak-anak disuruh bermain.)

Seketika saya mendengar ada orang yang berteriak, ” WHAT?! DO YOU HEAR THAT?!” yang ternyata adalah suara hati saya sendiri.

Subhanallah …

Di usia  yang masih terbilang muda, Mak Edah dan suami berangkat ke tanah transmigrasi, banting tulang berdua untuk mencari bekal di hari tua. Penghasilan dari  kelapa sawit hasil kerja keras masih mereka nikmati sampai sekarang ketika pulang ke kampung halaman. Satu dari sedikit keluarga yang bertahan dan berhasil sebagai transmigran.

Mengembara ke tanah orang, tanpa sanak saudara. Keterbatasan fasilitas dan jarak tempuh yang jauh dari kota membuat Mak Edah harus bertahan sendiri. Termasuk menolong dirinya sendiri melahirkan lima dari enam anaknya, dengan peralatan yang sangat sederhana. Beliau memotong tali ari-ari bayinya menggunakan sembilu, dan obat-obatan herbal untuk pemulihan.

Ketika Mak Edah pamit pulang, saya salami beliau erat –erat. Mungkin beliau tidak tahu, ucapan terimakasih saya bukan hanya untuk jasanya mengurut badan saya. Kekuatan dan kepercayaan diri saya rasanya kembali ke tempatnya semula. Aku bisa, aku juga kuat. Sepantasnya aku lebih bisa.

Saya semakin yakin, Allah memberikan kemampuan kepada manusia untuk beradaptasi dengan tantangan. Apapun bentuk ujiannya; apakah masalah anak, pekerjaan, atau lainnya. Allah memberikan ujian, sepaket dengan solusinya asal manusia menjalankan upaya,

Semoga  Allah SWT memberikan kekuatan untuk melampaui semua ujian hidup yang datang menghampiri. Sehingga dengan datangnya ujian itu menjadikan diri semakin berkualitas. Dan yang lebih penting lagi, membuat semakin dekat kepada Allah dan mendapatkan ridhoNya. []

 

Amin amin allahumma amiin.

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.