Hukum Membayangkan Wanita Lain Ketika Berhubungan dengan Istri (1)

, Hukum Membayangkan Wanita Lain Ketika Berhubungan dengan Istri (1)

Dalam ajaran Islam motivasi dalam melakukan suatu perbuatan sangat ditentukan oleh niat yang melatarbelakanginya. Setiap perbuatan seorang mukallaf akan bernilai ibadah atau malah sebaliknya itu semua bergantung pada niatnya. karena pentingnya keberadaan niat dalam aktivitas seorang mukallaf, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya perbuatan (seseorang) bergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari).

Niat secara bahasa adalah maksud (al-Qashdu), sedangkan secara istilah adalah ‘aqd al-qalbi ‘alâ `îjâd al-fi’li jazm[an] “Komitmen dalam hati untuk mewujudkan suatu perbuatan.”(Ruwwas Qal’ah jie, al-mawsû’ah al-fiqhiyyah al-muyassarah, juz. 2 hal. 1916, lihat pula Abi Ishaq Ibn Ibrahim Ibn Ali ibn Yusuf al-firuz abadi al-Syirazi, al-Muhadzdzab fi fiqh madzhâb al-Imâm al-Syafi’i).

Selain hadits di atas, kehujjahan (argumentasi) tentang niat juga dikuatkan oleh kaidah-kaidah fiqih sebagai berikut:

1. Kaidah fiqih tentang niat menurut ulama hanafiyyah, lâ tsawâba illa bi al-Niyyah, “tidak ada pahala bagi pekerjaan yang dilakukan tidak dengan niat.”
2. Kaidah fiqih tentang niat menurut ulama Syafi’iyyah, al-Umûru bi maqâshidihâ, “setiap pekerjaan bergantung pada niatnya.” (jalal al-din ‘abdurrahman ibn abu Bakar al-Suyuthi, al-Asybah wa al-Nazhâ`ir. Halaman. 36).

Dalil-dalil di atas semakin menguatkan pentingnya keberadaan niat dalam suatu perbuatan. Lantas timbul pertanyaan, seberapa jauh dampak keberadaan niat dalam perbuatan? Seorang ulama kontemporer syaikh Muhammad Ruwwas Qal’ah jie, membagi perbuatan seorang mukallaf menjadi tiga bagian.

Pertama, perbuatan taat. Kedua, perbuatan ma’shiyat dan ketigaperbuatan mubah (boleh). Untuk perbuatan kategori pertama ini sangat terkait dengan niat seseorang, karena keberadaan niat dalam setiap perbuatan taat akan berdampak pada pahala yang akan diraihnya; begitupun sah atau tidaknya perbuatan.

Jika seseorang melaksanakan perbuatan taat dengan niat untuk mendapatkan kebaikan dan pahala, maka ia akan mendapatkan pahala, namun jika sebaliknya maka dosa yang akan ia raih. Ketentuan untuk kategori perbuatan pertama tersebut tidak berlaku untuk kategori perbuatan kedua; artinya jika seseorang melakukan maksiyat dengan niat ibadah dan mendapatkan pahala, maka perbuatan tersebut tetap dianggap maksiat. Seperti contoh seseorang berzina, namun niatnya menikah/nikah mut’ah yang sudah diharamkan dalam Islam, maka perbuatan tersebut tetap terkatagori maksiyat.

BERSAMBUNG

 

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.