“I Hate Monday”? Tak Perlu!

0

Pernahkah Anda merasa bahwa hari Senin begitu melelahkan dan mengungkapkannya dalam teriakan “I Hate Monday”?

Mungkin Anda bukan satu-satunya orang yang merasakan hal tersebut. Tapi tahukah Anda bagaimana istilah “I Hate Monday” ini bermula?

Penyakit hari Senin atau Monday Disease dulu umumnya menimpa para pekerja penyortir wol (bulu domba). Para pekerja ini ternyata telah mengidap alergi terhadap bulu domba, dan setiap kembali bekerja setelah hari libur yakni pada hari Senin, kebanyakan dari mereka akan mendapatkan serangan asma. Kondisi ini menjadi tekanan tersendiri yang dihadapi oleh para pekerja sehingga muncul perasaan benci terhadap hari Senin.

Pada masa kini, penyakit hari senin masih banyak ditemui di kalangan pekerja. Sebuah studi menyebutkan jika gejala stres banyak muncul di kalangan pekerja kantoran pada hari Senin sekitar pukul 08.00-09.00. Yang lebih mengkhawatirkan sekitar jam tersebut serangan jantung di kantor atau di tempat kerja pun mengalami peningkatan.

Namun tentu saja jenis stressor yang dialami tidak lagi sama dengan pekerja wol pada zaman dulu, kini beberapa faktornya bisa disebabkan oleh tidak ada kepuasan dalam bekerja, merasa tidak berbahagia, atau merasa bekerja sebagai beban. Perasaan negatif semacam ini memicu berbagai rasa tertekan, frustasi, konflik dan rasa krisis dalam diri yang memicu munculnya serangan jantung spesifik pada hari Senin.

Kita hidup di negeri yang mengatur Senin sebagai permulaan hari kerja. Ada baiknya mungkin kita selalu ingat keutamaan bekerja bagi seorang laki-laki dalam Islam.

Dari Al-Miqdam bin Ma’dikarib Az-Zubaidiy, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Tidaklah seseorang bekerja suatu pekerjaan yang lebih baik dari pada bekerja dengan tangannya sendiri. Dan apasaja yang seseorang belanjakan untuk keperluan dirinya, keluarganya, anaknya dan pembantunya maka itu merupakan sedeqah”. [HR. Ibnu Majah juz 2, hal. 723, no. 2138]

Dari Ka’ab bin ‘Ujrah, ia berkata, “Ada seorang laki-laki lewat di hadapan Nabi SAW, maka para shahabat Rasulullah SAW melihat kuat dan sigapnya orang tersebut. Lalu para shahabat bertanya, “Ya Rasulullah, alangkah baiknya seandainya orang ini ikut (berjuang) fii sabiilillaah”. Lalu Rasulullah SAW menjawab, “Jika ia keluar untuk bekerja mencarikan kebutuhan anaknya yang masih kecil, maka ia fii sabiilillaah. Jika ia keluar bekerja untuk mencarikan kebutuhan kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia maka ia fii sabiilillaah. Jika ia keluar untuk bekerja mencari kebutuhannya sendiri agar terjaga kehormatannya, maka ia fii sabiilillaah. Tetapi jika ia keluar karena riya’ (pamer) dan kesombongan maka ia di jalan syaithan”. [HR. Thabrani dalam Al-Kabir juz 19, hal. 129, no. 282, dan para sanadnya orang-orang shahih].

Ingatlah, jika Anda ingin bahagia satu hari, cutilah bekerja. Jika ingin bahagia satu pekan, menikahlah. Jika ingin bahagia seumur hidup, cintailah pekerjaan dan sekeliling Anda.

So, hate monday? Tak perlu kan? []

  Artikel Terkait

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

you're currently offline