Ibunda Kita

, Ibunda Kita

Saya sedang berada di bandara kota Medan menanti pesawat yang akan membawa saya ke Jakarta, ketika telpon genggam saya berbunyi.  Suami saya mengabari bahwa ibu sahabat saya, Muthiah, meninggal dunia.  Innalillahi wa inna ilaihi raajiun.

Terkejut, setengah tidak percaya dan tidak menyangka.  Terbayang, belum lama saya menyapa dan mencium tangannya ketika saya berkunjung ke rumah anaknya.  Sesosok wanita mungil, halus, yang mengenakan jilbab di usianya yang enampuluh.  Bagi saya, ibu sahabat saya adalah ibu saya juga.  Our moms, ibunda kita.

Air menggenang di pelupuk mata saya membayangkan kesedihan sahabat saya itu, rasa sedih kehilangan ibu.  Saya jadi ingat ibu saya sendiri.  Perasaan takut kehilangan ibu kerap membayangi langkah saya. Bayang-bayang itu terus menyapa saya, sejak saya kecil hingga saat ini ketika saya sudah punya tujuh anak.

Saya jadi teringat cerita adik saya tentang pohon apel dan anak kecil.  Ketika masih kecil, seorang anak selalu bermain di bawah pohon apel dan mengharapkan buahnya jatuh.  Pohon apel merasa senang karena selalu ditemani.  Sampai akhirnya, anak itu menjadi besar dan tidak pernah bermain lagi.  Ketika dewasa, ia datang lagi. Ia dapati pohon apel yang tua itu sudah tidak lagi berbuah. Tapi, ia membutuhkan daun dan ranting-rantingnya untuk suatu keperluan.  Pohon apel merasa gembira karena anak yang sudah dewasa itu datang lagi.  Akhirnya pohon apel itu nyaris merenggas dan menyisakan sedikit ranting dan daun. Hanya batang dan akarnya yang masih kokoh.

Ketika sudah jadi kakek, si anak itu datang lagi ke pohon apel. Ia berdialog dengan pohon tersebut. “Aku tidak butuh apa-apa lagi darimu, baik buah maupun ranting. Yang kubutuhkan saat ini hanyalah bersandar di batang dan akarmu yang kokoh ini.”

“Tak apa. Kedatanganmu saat ini saja sudah sangat menyenangkanku,” gumam pohon apel dengan penuh kebahagiaan.

Tahukah Anda tamsil cerita adik saya itu.  Pohon apel itu tak lain adalah sosok ibunda kita. Dia selalu ada dan menyambut kita ketika kita pulang sekolah.  Ia juga penyejuk hati kita ketika kita mengalami goncangan di sekolah, dengan guru maupun teman. Bahkan, ia pun siap menjadi tong sampah, tempat kita memuntahkan segala uneg-uneg kesedihan dan kegagalan kita.

Ibunda kita menangis dan berdoa di samping kita ketika suhu tubuh kita meninggi.  Sulit baginya memicingkan mata selagi demam kita belum turun.  Ia begitu takut kehilangan kita.  Ia juga shalat malam berdoa dengan khusuk saat kita akan menempuh ujian akhir.

Di sebuah artikel Jakarta Post (Mei 2002) Chandrika R. menulis: “I think mother a few years back had something which is lacking in the mother of to day, time.  She gave her undivided attention when we came from school, allowed us to use her as  a sounding board, pacified us when we were hers.

“Of course she scolded us, corrected us, criticized us, pulled us up for bad academic performance, egged us on to do better, made a better person out of us.

Ya, satu perbedaan yang nyata antara ibunda kita dulu dengan ibu-ibu kini, termasuk kita, adalah prosentase waktu yang dimiliki.  Ibunda kita memberikan perhatian yang tak terpecah atau terbagi ketika kita pulang sekolah. Dengan sepenuh hati, ia menghibur kita jika kita mendapat masalah.

Walaupun, ia juga memarahi kita, mengoreksi, mengkritisi, menegur kemalasan dan nilai kita yang buruk.  Itu karena ia selalu menginginkan kita agar menjadi orang yang lebih baik. Saat itu, kita merasa kesal. Kita pun akhirnya sangsi, apakah ibu masih menyangi kita.

Kini, setelah kita menjadi ibu, sebuah kesadaran baru muncul. Bahwa marah, kesal, dan kerasnya ibu meluruskan kita, adalah ungkapan kasih sayangnya yang belum kita pahami. Cara terbaik untuk berempati dan mengapresiasi peran ibu adalah dengan menjadi seorang ibu.

Dulu kita kesal karena didisiplinkan untuk belajar.  Ternyata, kini sebagai ibu-ibu modern kita lebih kejam dalam menuntut anak kita untuk berprestasi dengan selalu mengingatkan mereka.  Bahwa, mereka hidup di dunia global yang kompetitif.

Ketika teman saya dengan air mata menggenang bercerita bagaimana hingga di detik-detik terakhir ibunya menyempatkan menjahitkan baju untuk cucunya Aisyah dan memasak untuk Azizah cucunya yang ke delapan.  Saya jadi teringat lagi kisah pohon apel. Hingga usia tua pun mereka tetap saja berguna untuk kita yang akan selalu kembali padanya.

Kini setelah Ibunda kita beranjak tua.  Ada baiknya kita bertanya pada diri kita.  Ia dulu selalu ada untuk kita.  Kini apakah kita selalu ada di saat ia membutuhkan kita.

We really have so many activities so we really have not time for our moms.  Kita memiliki begitu banyak kesibukan sehingga kita tidak punya waktu untuk ibu kita.

Kita dulu ingin segala keluhan kita bertengkar dengan teman, dimarahi guru didengar olehnya.  Tapi kini kadang kita merasa cepat jemu mendengar segala keluhannya tentang tetangga-tetangga dan teman-teman lamanya saat mereka reuni.

Belum lagi keluhannya tentang penyakitnya mulai jantung berdebar, keringat dingin, kaki mendadak lemas hingga rasa pusing dan batuk yang tak kunjung henti.

Dulu ibunda kita selalu siap membuatkan teh dan susu untuk kita serta menjaga kita ketika kita sakit.

Kini kesibukan kita di berbagai lapangan kehidupan membuat kita tidak punya waktu untuk melayani, memijitnya dan membuatkan teh untuknya.

Saya menjadi teringat kisah seorang ibu di Amerika yang memiliki empat anak perempuan yang sudah menjadi wanita dewasa yang sukses.  Suatu hari ia ingin makan dan jalan-jalan dengan salah seorang anaknya.  Putri pertama ketika di telpon olehnya mengatakan sedang sibuk rapat.  Putri kedua sedang sibuk siap-siap pindah ke apartemen baru.  Putri ketiga sedang sibuk dengan tokonya.  Dan putri keempat sibuk dengan kandungannya yang sudah mulai kian membesar.

Akhirnya ibu itu pergi seorang diri dan terjatuh dari supermarket.  Lalu di bawa orang ke ruang gawat darurat Rumah Sakit.  Setelah mulai siuman ia memberi nomor telepon anak-anaknya.  Dalam tempo singkat keempat putrinya yang sibuk hadir di dekat sang ibunda.

Sang ibunda berkata lirih, “Haruskah ibu “sekarat” dulu, baru kalian datang berkumpul bersama dan menemani ibu?” keempat putrinya hanya bisa tertegun malu.

Jika dulu ketika sakit, ibunda bersimpuh berdoa, bermunajat kepada Allah mengharapkan kesembuhan kita.  Kini takutkah kita kehilangan dia?

Mari kita dekap ibunda kita sebelum semuanya menjadi terlambat.  Kami mencintaimu Ibunda, sungguh.  Munajat kami pada Illahi semoga ibunda senantiasa dalam lindungan, ampunan dan kasih sayangNya. []

 

 

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.