Jika Anak Sakit

, Jika Anak Sakit

Anak  itu  bagaikan permata  yang tidak ternilai harganya bagi setiap ayah dan bunda. Malah, ikatan  suci  yang  menjadi pengikat hubungan antara anak dan ibu ini senantiasa terikat erat dalam hati. Begitulah betapa hebatnya rasa cinta dan kasih sayang ibu bapak terhadap anak-anak, sesuatu yang sukar untuk dijabarkan. Kasih sayang dan perhatian yang dicurahkan tidak pernah terbagi.  Maka, tidak heran jika anak jatuh sakit, deritanya turut dirasakan oleh ibu dan ayah.

“ Aku menghadiri solat hari raya bersama Rasulullah SAW,  baginda memulai solat sebelum khutbah tanpa azan mahupun iqamat. Kemudian baginda berdiri sambil bersandar pada Bilal, serta memerintahkan umat manusia agar bertakwa kepada Allah, dan menaati-Nya. Kemudian baginda  pun berlalu, dan menghampiri para wanita, lalu mengingatkan, ‘Bersedekahlah kalian, kerana kebanyakan kalian adalah bahan bakar Jahannam!’. Maka berdirilah salah seorang wanita dari kalangan orang yang terbaik mereka yang di pipinya ada kehitaman, lalu bertanya, ‘Mengapa, wahai Rasulullah?’. Baginda  menjawab, ‘Karena kalian banyak berkeluh kesah dan kufur kepada suami.’ Maka wanita-wanita ini mulai bersedekah dengan membuka dan melemparkan perhiasan seperti anting-anting dan cincin-cincin,” (Riwayat Muslim no. 885).

Oleh kerana itulah, setiap manusia yang dihimpit musibah seperti anak yang sakit ini, perlu kembali kepada Allah, tawakal, ridha, dan jangan putus harap.  Sepertimana yang dinyatakan di dalam al-Quran, melalui surah  Al-Baqarah, ayat  155-157 :

“Dan sungguh akan Kami berikan ujian  kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, kekurangan jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, iaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mengatakan, ‘Kami ini milik Allah dan kepada-Nya pula kami akan kembali’. Mereka itulah yang mendapatkan kebaikan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Berbagai ujian yang disebutkan di dalam firman Allah SWT ini pasti akan menimpa setiap manusia, karena Dzat Yang Maha Mengetahui telah mengkabarkannya, sehingga pasti hal itu akan terjadi sebagaimana yang telah Allah SWT  beritahukan.

Di saat itu, manusia akan terbagi kepada dua golongan, orang yang sabar dan orang yang tidak sabar. Orang yang tidak sabar akan mendapatkan dua musibah; kehilangan orang yang dicintai serta kehilangan sesuatu yang lebih besar daripada itu, yaitu kehilangan pahala menempuh kesabaran yang diperintahkan oleh Allah SWT. Dia mendapat kerugian, berkurang keimanannya, hilang kesabarannya, dan yang tinggal hanyalah rasa marah.

Sementara bagi orang  yang diberikan taufik untuk bersabar dan berhasil menahan diri agar terhindar dari kemarahan akibat ketidakpuasan hati, baik yang diungkap melalui percakapan maupun perbuatan. Dia akan diberikan balasan pahala yang jauh lebih agung daripada musibah yang menimpanya.

Inilah janji Allah SWT, yang termaktub di  dalam ayat yang lain. “Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az-Zumar: 10)

Setiap manusia perlu bersabar  di saat ditimpa musibah. Percayalah, setiap kelapangan maupun kesusahan sebenarnya tersembunyi sebuah kebaikan baginya. Demikianlah yang dituturkan oleh Rasulullah s.a.w, dan dinukilkan oleh  Suhaib bin Sinan: “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” (Riwayat  Al-Bukhari no. 5645).

Di saat keresahan dan kebimbangan memikirkan derita yang terpaksa ditanggung oleh si buah hati, janganlah lupa untuk berharap, semoga Allah SWT memberikan taufik untuk bersabar. Allah SWT yang membimbing kita untuk menempuh kesabaran, Allah jugalah yang akan memberikan pahala kesabaran itu. Ingatlah itu, Ummi. [majalah-i]

 

 

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.