in

Jika Memakai Celana Panjang Namun Longgar (2-Habis)

wanita muslimahImam Nawawi dalam syarahnya shahih Muslim, ketika menjelaskan wanita berpakaian tapi telanjang mengatakan, yaitu memakai pakaian tipis yang membentuk lekukan tubuhnya.

Ibnu Abdil Barr, seorang ulama Maliki, dalam kitabnya at-Tamhîd juga mengatakan yang sama, bahwa yang dimaksud dengan wanita berpakaian tapi telanjang adalah, wanita yang berpakaian tipis dan membentuk tubuhnya. Ia kemudian berkata, “Secara lahir ia berpakaian, tapi hakikatnya ia telanjang,” (kâsiyât bil ism, ‘âriyât fil haqîqah).

Dengan demikian, pakaian apapun selama masih memenuhi persyaratan-persyaratan di atas, diperbolehkan, untuk memakainya termasuk celana panjang. Dengan syarat, celana itu menutup aurat, tidak ketat, tidak transparan dan tidak memancing perhatian orang yang melihat. Di samping itu, mereka yang memakai celana panjang diusahakan agar bajunya juga panjang sampai dengkul atau kaki. Karena jika celana panjang tersebut memenuhi semua persyaratan, akan tetapi baju yang dipakainya pendek tentu juga tidak dibenarkan, karena akan mengundang banyak perhatian orang lain, dan akan membentuk tubuh bagian belakangnya.

Almarhum Syaikh ‘Athiyyah Shaqar, seorang ulama ‘alim dan shaleh dari al-Azhar, dalam bukunya Mausu’ah al-Usrah (Cetakan Maktabah Wahbah: 2/111) pernah mengatakan, bahwa celana panjang sudah dikenal oleh bangsa Arab sejak dahulu kala. Mereka menyebutnya dengan as-sirwâl. Bahkan Nabi Ibrahim, menurut sebuah riwayat, adalah yang pertama kali memakainya. Bahkan dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW pun pernah memakainya.

Bukan hanya itu, celana panjang ini juga, lanjut Syaikh ‘Athiyyah, juga dipakai oleh kaum wanita, bahkan Rasulullah SAW dalam sebuah hadis dhaif riwayat Imam al-Baihaki, Ibnu ‘Adi dan al-‘Uqaily pernah bersabda, “Pakailah oleh kalian celana-celana panjang, karena ia pakaian yang paling menutup. Dan jagalah dengan celana-celana panjang tersebut isteri-isteri kalian ketika mereka keluar (maksudnya pakaikan juga kepada isteri-isteri karena lebih menutup mereka).”

Hanya saja, hadis di atas lemah. Namun, Imam Ahmad bin Hambal, sebagaimana dikutip Syaikh Athiyyah Shaqar, pernah ditanya tentang boleh tidaknya memakai celana panjang ini, Imam Ahmad membolehkan dan berkata, “Celana panjang itu lebih menutup dari pada kain sarung.”

Akan tetapi jika tidak memenuhi syarat-syarat diatas seperti celana panjang yang tidak bisa menutupi seluruh aurat bagian bawah, berukuran ketat yang ketika dilihat menampakkan lekuk tubuh, dan transparan dengan batasan ketika dilihat menampakkan bentuk tubuh, maka hukum wanita memakai celana yang seperti itu tidak diperbolehkan/ dihukumi haram karena celana tersebut dianggap tidak bisa menutupi aurat secara sempurna. Wallahu ‘alam bissowab.

Wanita sebaiknya ketika menggunakan rok yang longgar juga mengenakan celana agar terjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan. Hal ini seperti, ketika naik motor auratnya terjaga, apabila tertiup angin aurat juga tetap terjaga, tenang saat melakukan gerakan atau aktivitas di luar ruang yang tinggi, subhanallah. [Sumber: leggingjeans]

HABIS

What do you think?

Written by

Writer di Rumah Keluarga Indonesia

Jika Memakai Celana Panjang Namun Longgar (1)

Begini Caranya Jadi Muslimah Anggun