Jika Wanita Sholehah Cemburu Kepada Suami

0

suami istri 1Suami istri menjadi pasangan halal, karena telah terjadi pernikahan. Pernikahan ini menyatukan dua karakter orang yang berbeda menjadi satu. Dapat kita bayangkan, jika salah satunya memiliki paham yang berbeda. Pasti akan ada perdebatan. Dan biasanya nih, di antara suami istri perdebatan disebabkan oleh faktor cemburu. Bagaiamna Islam memandang tentang cemburu kepada pasangan hidup? Berikut penjelasannya.

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan rasa cemburu pada diri wanita dan jihad pada diri laki-laki. Siapa di antara wanita tadi yang sabar dalam menghadapinya dengan penuh iman dan ihtisab, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mati syahid,” ( Hadits Riwayat Thabrani).

Nabi SAW, bersabda, “Sesungguhnya aku sangat cemburu, dan tiada seorang pun yang tidak cemburu melainkan terbalik hatinya,” (Hadits Riwayat Al Bazzar dan Daruquthni).

Cemburu adalah sifat fitrah bagi manusia, maka wanita yang tidak memiliki rasa cemburu dapat dikatakan tidak sesuai dengan fitrahnya. Allah swt. telah menyamakan antara cemburu pada wanita dengan jihad pada lelaki. Itu adalah suatu nikmat yang besar. Di samping akan mendapatkan pahala sabar dan mati syahid, juga dengannya Allah akan menambahkan rasa kasih dan sayang di antara suami istri, yaitu jika rasa cemburu tersebut dilapisi dengan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa,” (Al-Hujurat: 12).

Abdullah bin Ja’far berwasiat kepada putrinya, “Hati-hatilah terhadap rasa cemburu karena sungguh ia merupakan awal perceraian, dan hindarilah banyak cemberut karena ia adalah pemicu kebencian. Usahakanlah untuk selalu mengunakan celak karena ia sebaik-baik perhiasan, dan wewangian adalah air.”

Hendaknya sedang-sedang saja dalam cemburu, yaitu tidak dalam urusan yang ditakutkan keburukannya, juga tidak terlalu berlebihan. Sehingga berburuk sangka, mencari-cari ketergelincirannya dan mengintai-intai batinnya.

Al-Ghazali menulis bahwa cemburu yang melampaui batas sehingga seolah-olah sangat diyakini olehnya, itu sangat dilarang keras dalam agama, sebab termasuk ke dalam ber-suuzhan kepada orang lain.

Seorang wanita berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, Sesungguhnya aku mempunyai seorang madu, apakah aku berdosa jika kukatakan bahwa suaminya telah memberiku sesuatu, padahal ia tidak memberi apapun kepadaku?”

Beliau menjawab, “Orang yang pura-pura menerima sesuatu yang tidak diberikan kepadanya, seperti orang yang mengenakan dua pakaian palsu.”

Maksudnya, kecemburuannya telah ia iringi dengan perbuatan bohong dan menipu diri sendiri dan orang lain. Hal ini adalah perbuatan dosa. [st]

  Artikel Terkait

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

you're currently offline