Jilbab Bagi Muslimah; Pakaian & Identitas Diri

 

, Jilbab Bagi Muslimah; Pakaian & Identitas DiriBagi seorang muslimah, berjilbab bukan hanya sekadar menutup aurat saja. Tapi lebih dari itu, berjilbab merupakan sebuah ketaatan dalam menuruti perintah Allah dan Rasul-Nya.  Perintah memakai jilbab dan Pakaian tertutup memang sudah dianjurkan oleh Nabi SAW dan tuntutan dari Allah agar selalu menutup seluruh aurat terkecuali telapak tangan dan wajah.

PAKAIAN     

Hal-hal  tersebut  dapat muncul dari cara berpakaian, berhias, berjalan, berucap, dan sebagainya.

Berhias tidak dilarang dalam ajaran Islam,  karena  ia  adalah naluri   manusiawi. Yang dilarang adalah tabarruj al-jahiliyah, satu istilah yang digunakan Al-Quran (QS  Al-Ahzab  [33]:  33) mencakup  segala  macam cara yang dapat menimbulkan rangsangan berahi kepada  selain  suami  istri.  Termasuk  dalam  cakupan maksud  kata  tabarruj menggunakan wangi-wangian (yang menusuk hidung). Rasul Saw. bersabda: “Wanita yang memakai parfum (yang merangsang) dan lewat di satu majelis (kelompok pria), maka sesungguhnya dia ‘begini’ (yakni berzina),” (HR At-Tirmidzi).

Al-Quran mempersilakan perempuan berjalan di  hadapan  lelaki, tetapi  diingatkannya  agar  cara  berjalannya  jangan  sampai mengundang perhatian. Dalam bahasa Al-Quran disebutkan:  “Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka ‘sembunyikan’,” (QS Al-Nur [24]: 31).

Al-Quran  tidak  melarang  seseorang  berbicara  atau  bertemu dengan  lawan  jenisnya,  tetapi  jangan  sampai sikap dan isi pembicaraan  mengundang  rangsangan  dan  godaan,…  demikian maksud firman Allah dalam sural Al-Ahzab (33): 32: “Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginan orang yang ada penyakit dalam jiwanya,” (QS Al-Ahzab [33]: 32).

Demikian, sebagian tuntunan Al-Quran tentang perhiasan.

PERLINDUNGAN (TAKWA)

Di  atas  telah  dikemukakan  bahwa  salah satu fungsi pakaian adalah “perlindungan”. Bahwa pakaian  tebal  dapat  melindungi seseorang  dari  sengatan  dingin, dan pakaian yang tipis dari sengatan panas,  bukanlah  hal  yang  perlu  dibuktikan.  Yang demikian ini adalah perlindungan secara fisik.

Di   sisi  lain,  pakaian  memberi  pengaruh  psikologis  bagi pemakainya. Itu sebabnya sekian banyak negara mengubah pakaian militernya,  setelah mengalami kekalahan militer. Bahkan Kemal Ataturk di Turki, melarang pemakaian  tarbusy  (sejenis  tutup kepala bagi pria), dan memerintahkan untuk menggantinya dengan topi ala Barat, karena tarbusy dianggapnya mempengaruhi  sikap bangsanya serta merupakan lambang keterbelakangan.

Dalam  kehidupan  sehari-hari  kita  dapat  merasakan pengaruh psikologis dari pakaian jika kita ke pesta. Apabila mengenakan pakaian   buruk,   atau  tidak  sesuai  dengan  situasi,  maka pemakainya  akan  merasa   rikuh,   atau   bahkan   kehilangan kepercayaan diri, sebaliknya pun demikian.

Kaum  sufi,  sengaja  memakai  shuf (kain wol) yang kasar agar dapat menghasilkan pengaruh positif dalam jiwa mereka.

Memang, harus diakui bahwa pakaian tidak  menciptakan  santri, tetapi   dia  dapat  mendorong  pemakainya  untuk  berperilaku seperti santri atau sebaliknya menjadi setan, tergantung  dari cara  dan  model  pakaiannya.  Pakaian  terhormat,  mengundang seseorang  untuk  berperilaku  serta  mendatangi  tempat-tempat terhormat,  sekaligus  mencegahnya ke tempat-tempat yang tidak senonoh.  Ini  salah  satu  yang  dimaksud   Al-Quran   dengan memerintahkan wanita-wanita memakai jilbab. “Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenal  (sebagai Muslimah/wanita terhormat) sehingga mereka tidak diganggu.”

Fungsi  perlindungan  bagi  pakaian  dapat juga diangkat untuk pakaian ruhani, libas at-tagwa. Setiap  orang  dituntut  untuk merajut sendiri pakaian ini. Benang atau serat-seratnya adalah

tobat, sabar, syukur, qana’ah, ridha, dan sebagainya. “Iman itu telanjang, pakaiannya adalah takwa.”

Demikian sabda Nabi Muhammad Saw.

Al-Quran  mengingatkan  kepada  mereka  yang telah berhasil merajut pakaian takwa: “Janganlah kamu menjadi seperti seorang perempuan (gila dalam cerita lama) mengurai kembali tenunannya sehelai benang demi sehelai, setelah ditenunnya dengan kuat (QSAl-Nahl [l6]: 92).

PENUNJUK IDENTITAS

“Yang  demikian  itu  lebih mudah bagi mereka untuk dikenal,” (QS Al-Ahzab [33]: 59)

Demikian terjemahan ayat yang menggambarkan fungsi pakaian. Identitas/kepribadian  sesuatu   adalah   yang   menggambarkan eksistensinya   sekaligus   membedakannya   dari   yang  lain.

Eksistensi  atau keberadaan seseorang  ada yang bersifat material  dan  ada  juga yang imaterial (ruhani). Hal-hal yang bersifat material antara lain  tergambar  dalam  pakaian  yang dikenakannya.

Anda  dapat  mengetahui sekaligus membedakan murid SD dan SMP, atau  Angkatan  Laut  dan  Angkatan  Darat,  atau  Kopral  dan Jenderal  dengan  melihat  apa  yang  dipakainya.  Tidak dapat disangkal lagi bahwa pakaian antara lain berfungsi menunjukkan identitas  serta  membedakan  seseorang  dari  lainnya. Bahkan tidak jarang ia membedakan status sosial seseorang.

Rasul Saw. amat  menekankan  pentingnya  penampilan  identitas Muslim, antara lain melalui pakaian. Karena itu: “Rasulullah Saw. melarang lelaki yang memakai pakaian perempuan dan perempuan yang memakai pakaian lelaki,” (HR Abu Daud).

Kepribadian  umat  juga  harus  ada. Ketika Rasul membicarakan bagaimana cara yang paling tepat untuk menyampaikan / mengundang kaum Muslim melaksanakan shalat, maka ada di antara sahabatnya yang mengusulkan menancapkan tanda, sehingga  yang  melihatnya segera  datang. Beliau tidak setuju. Ada lagi yang mengusulkan untuk menggunakan terompet, dan  komentar  beliau:  “Itu  cara Yahudi.”  Ada  juga yang mengusulkan membunyikan lonceng. “Itu cara Nasrani,” sabda beliau. Akhirnya  yang  disetujui  beliau adalah  adzan  yang  kita kenal sekarang, setelah Abdullah bin Zaid Al-Anshari  dan  juga  Umar  ra.  Bermimpi  tentang  cara tersebut.  Demikian  diriwayatkan  oleh Abu Daud. Yang penting untuk digarisbawahi adalah bahwa Rasul  menekankan  pentingnya menampilkan  kepribadian  tersendiri, yang berbeda dengan yang lain. Dari sini dapat dimengerti mengapa Rasul Saw. bersabda: “Siapa yang meniru satu kaum, maka ia termasuk kelompok kaum itu.”

Kepribadian  imaterial   (ruhani)   bahkan   ditekankan   oleh Al-Quran, antara lain melalui surat Al-Hadid (57): 16: “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun, dan janganlah mereka seperti orang-orang sebelumnya yang telah diberikan Al-Kitab (orang Yabudi dan Nasrani). Berlalulah masa yang panjang bagi mereka sehingga hati mereka menjadi keras. Kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang fasik.”

Seorang   Muslim  diharapkan  mengenakan  pakaian  ruhani  dan jasmani yang menggambarkan identitasnya.

Disadari sepenuhnya bahwa Islam tidak datang  menentukan  mode pakaian tertentu, sehingga setiap masyarakat dan periode, bisa saja menentukan  mode  yang  sesuai  dengan  seleranya.  Namun demikian  agaknya  tidak berlebihan jika diharapkan agar dalam berpakaian tercermin pula identitas itu. []

 

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.