Jomblo-Jomblo Bahagia; “Tantangan” Terbuka Buat Ikhwan

Tulisan ini terinspirasikan oleh sebuah keadaan yang sering saya temukan. Entah ini sebuah fenomena ataukah kasuistik. Yang pasti ketika masalah ini muncul, dapat dipastikan pembicaraan menjadi sangat “renyah”. Apalagi kalau bukan mengomongkan masalah pernikahan.

Topik ini juga menjadi sangat “hot” karena yang menjadi agen adalah kaum JOJOBA (Jomblo-Jomblo Bahagia) alias yang belum pada nikah. So, tahu sendirilah gimana ramenya. Ini disebagian akhwat yang saya temui, entah di ikhwan saya nggak tahu pasti. (Kelihatannya nggak jauh beda, kalau nggak salah lho…).

Satu hal yang menarik untuk dibidik adalah masalah kriteria. Biasanya pembicaraan ini akan terus mengalir. Yang pada endingnya bermuara pada hal ini juga. “Saya ingin suami yang tertarbiyah matang, mapan, cerdas, komit pada dakwah, amanah, organisatoris..bla..bla…dan sederet kriteria lain yang membuat saya terbelalak. Lha, kalau semua akhwat menginginkan seperti itu, lantas siapa yang mau pada ikhwan yang “biasa, sedang-sedang” saja.

Itu memang hak prerogatif mereka. Saya tidak punya hak untuk melarang, apalagi menghujat. Sebuah keinginan, cita-cita, dan pengharapan seperti itu boleh-boleh saja. Saya pikir sah-sah saja, manusiawi, wajar, toh kenapa harus diingkari. Iyakan?

Ada kasus menarik yang saya temukan di lapangan. Ada teman saya, seorang ikhwan yang “belum mapan” mengajukan lamaran pada keluarga akhwat. Berkali-kali dia coba, tapi hasilnya nol, gagal. Semua menolak. Tahu kenapa?

Orang tua si akhwat “nggak rela” kalau anaknya “terlantar” gara-gara calon menantunya secara materi belum ‘kelihatan’. Yah, kembali lagi pada sebuah kemapanan finansial memang menarik untuk dilirik. Nggak boleh muna lho ya…

Kembali pada permasalahan. Saya ingin mengajukan sebuah “tantangan terbuka” bagi ikhwan, yang saya pikir ini perlu untuk disampaikan pada ikhwan-ikhwan kita tercinta. Kenapa harus disampaikan? Sekali lagi karena ini penting menyangkut kemaslahatan bersama.

Proses ikhwan – akhwat menuju pernikahan biasanya banyak terbentur pada “birokrasi” orang tua. Gara-gara masalah ini, proses bisa menjadi gagal total. Apa ikhwan tahu? Yap, jawabnya adalah masalah materi.

Asumsi saya untuk masalah transedensi, di ikhwan kita sudah TOP. Lebih di atas rata-rata “orang biasa” (semoga…). Tinggal masalah materi yang perlu dibenahi. Bukan berarti saya meremehkan kondisi materi dan perekonomian di ikhwan. Sekali lagi tidak. Bukan itu tujuan saya. Saya punya satu tantangan buat ikhwan terkait dengan masalah ini. Tantangan yang saya ajukan cuma satu: ikhwan memang harus “kaya”. Harus sukses.

Ini bukan berarti saya sebagai salah satu representasi akhwat tarbiyah sudah terjangkiti penyakit “matre”. Tapi, ini sebuah realitas yang perlu dicari solusinya bersama. Bagi saya, ikhwan harus “kaya” dalam semuanya, baik kaya ilmu, kaya jiwa, tak ketinggalan pula harus kaya harta. Kenapa?

Sekali lagi, materi memang bukan pokok, tapi penting. Dengan materi yang cukup, kita dapat berbuat lebih banyak untuk kepentingan dakwah, jamaah, dan ummah. Membentuk generasi rabbani, butuh dana yang sangat banyak, untuk biaya pendidikan, beli buku, ini itu, dan seabreg kebutuhan lain yang diperlukan. Dengan materi yang memadai, sebuah keluarga bisa membantu orang lain yang membutuhkan bantuannya. Selain itu, mobilitas dakwah akan semakin mudah.

Di sinilah peran materi diperlukan bagi masyarakat yang masih ammah atau sangat ammah. Masyarakat kebanyakan masih memandang segala sesuatu dari sisi materi, peran materi masih sangat “berlaku”. Dengan materi yang tidak “keteteran”, keluarga aktivis dakwah dapat dengan mudah masuk menginternalisasikan nilai-nilai Islam pada mereka. Sekali lagi saya tandaskan, bahwa materi bukanlah hal yang pokok tapi hal yang penting. Jadi jangan salahkan kalau akhwat “matre”, ya.

Oke, saya bisa memaklumi ketika terlontar jawaban seorang ikhwan ketika saya mengajukan pertanyaan “kenapa sih ikhwan kita belum ada yang terlihat mapan, mandiri secara ekonomi, padahal-kan ikhwan kita cerdas-cerdas”. Dia mengatakan “ikhwan kita-kan lebih banyak dakwahnya dibanding memikirkan duniawinya”.

Jawaban yang men-skak mati. Oke, saya bisa menerima dengan logika saya karena saya berada dalam komunitas dakwah. Nah, bagaimana dengan orang tua, tetangga-tetangga ataupun “orang biasa” yang tidak paham dengan konsep-konsep dakwah? Kalau persoalan materi masih belum jelas, boleh jadi pernikahan belum bisa sebagai amalan “renyah”. Tapi, akan tetap tinggal hanya sebagai pembicaraan “renyah”. Wallahu a’lam bishowab. []

Oleh: Prembayun Miji Lestari, S.S

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.