Kala Orang yang Hina, Mengantikan Orang Terpandang

0 1.030

Tanda akhir zaman semakin dekat, kita melihat kondisi yang tak begitu baik. Di mana kejadian buruk mulai banyak terjadi. Keanehan demi keanehan terlihat begitu jelas. Tetapi, kita menganggap hal itu sebagai perbuatan yang biasa. Salah satunya ialah orang-orang terpandang dan terhormat digantikan oleh orang-orang hina yang tak terhormat.

Salah satu dari tanda akhir zaman (kiamat) adalah meninggalnya para pribadi terhormat, orang-orang arif dan bijaksana dan para ulama. Kemudian  muncullah at-Tuhut sebagai gantinya, yaitu orang yang tak terpandang dan orang yang tak punya kelebihan. Mereka bisa tampil di tengah-tengah masyarakat karena didukung oleh situasi.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya, hari kiamat belum akan terjadi hingga perbuatan nista dan sifat kikir merebak, orang jujur dikatakan pengkhianat dan pengkhianat dipercaya, al-Wu’ul tidak ada lagi dan at-Tuhut bermunculan.”

Para sahabat kemudian bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan al-Wu’ul dan at-Tuhut?” Beliau pun menjawab, “Al-Wu’ul adalah para pemuka dan orang terpandang dalam satu masyarakat, sedangkan at-Tuhut adalah orang-orang hina yang tak terhormat dalam masyarakat dan tidak dikenal sebelumnya,” (HR. Hakim dalam al-Mustadrak serta Thabrani dalam al-Wasath. Syaikh al-Albani mengkualifikasikan hadis ini sebagai hadis shahih).

Orang-orang yang tak berkualitas seperti ini terkadang muncul  karena mereka kebetulan menjadi pejabat,   gencarnya pemberitaan media massa tentang mereka , banyaknya pendukung yang mengidolakan mereka.

Sementara itu al-Wu’ul – orang terkemuka dan terhormat yang merupakan orang pintar dan bijaksana — tenggelam dan jauh dari pemberitaan. Akibatnya, orang yang nampak di hadapan masyarakat hanyalah mereka yang terkenal dengan lagu-lagu mereka, goyangan mereka, maupun perbuatan asusila mereka. Mereka yang pintar, bermoral, dan ahli dalam ilmu pengetahuan tidak mendapatkan tempat.

Saat ini, tanda ini sudah muncul secara nyata. Kendati kita sekarang masih bisa melihat sekelompok masyarakat yang berbondong-bondong menghadiri pengajian-pengajian agama, dan masih banyak pula menjumpai orang-orang yang menghormati para ulama dan para dai serta antusiasme mereka dalam mengikuti majlis-majlis dzikir. Mereka juga masih ada yang setia mengikuti acara-acara keagamaan di televisi. Stasiun-stasiun televisi Islam pun terus bertambah hari demi hari. Bahkan, kita juga bisa mendapati kalangan non muslim yang ikut mendengarkan, serta memetik pelajaran dan manfaat dari ceramah-ceramah agama Islam yang disiarkan oleh stasiun-stasiun televisi itu. []

Referensi: Kiamat Sudah Dekat?/Karya: Dr. Muhammad Al-‘Areifi/Penerbit: Qisthi Press

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

you're currently offline