Kalau Anak Masih Tidur dengan Kita (2-Habis)

, Kalau Anak Masih Tidur dengan Kita (2-Habis)

Sebaliknya, makin jauh kehadiran orang tua—makin susah dan makin lama orang tua hadir ketika dibutuhkan anak—makin bertambah kecemasan pada diri anak. Nah, di dalam rasa aman ini, secara perlahan anak akan makin siap untuk ditinggal oleh orang tua untuk tidur sendiri. Jadi, tidak benar bila kita berpendapat bahwa seharusnyalah sejak kecil anak sudah harus tidur terpisah dari orang tua supaya ia terbiasa tidur sendiri. Sekali lagi saya tekankan, ANAK MEMERLUKAN KEHADIRAN ORANG TUA SECARA DEKAT SUPAYA TERCIPTA RASA AMAN PADA DIRINYA.

Oleh karena setiap anak unik, maka tingkat kecemasan yang dibawa anak juga tidak sama. Ada anak yang mengembangkan rasa aman secara cepat tetapi ada pula anak yang lambat mengembangkan rasa aman. Itu sebab ada anak yang mudah dipisah, namun ada pula anak yang susah dipisah. Begitu kita beranjak pergi, ia pun menangis dan baru berhenti menangis setelah kita kembali berada di sisinya.Adakalanya karena letih, kita pun hilang sabar dan memarahinya serta memaksanya untuk tidur sendiri.

Memang pada akhirnya anak akan tidur sendiri karena terpaksa namun sesungguhnya, untuk suatu masa, ia akan harus hidup dalam KETEGANGAN. Jadi, yang seharusnya dilakukan adalah, BUKAN memarahinya tetapi justru menenangkannya dan menidurkannya kembali. Setelah ia tertidur barulah kita meninggalkannya. Memang besar kemungkinan pada awalnya ia akan bangun dan menangis lagi begitu menyadari bahwa kita tidak berada di sampingnya. Tidak apa. Yang perlu dilakukan adalah kembali menemaninya sampai ia tertidur lagi. Perlahan tetapi pasti ia akan mengembangkan rasa aman yang tidak lagi bertumpu pada kehadiran kita terus menerus, melainkan pada kepastian bahwa kita akan hadir tatkala dipanggilnya.

Kembali kepada pertanyaan, pada umur berapakah anak seharusnya memulai proses untuk tidur terpisah, sebagai pedoman, ukuran yang dapat kita gunakan adalah KESIAPANNYA UNTUK DILEPAS SENDIRI. Bila ia mulai dapat dilepas untuk bermain sendiri, itu berarti sudah tiba saatnya buat kita untuk memulai proses pemisahan tidur.

Kadang proses pemisahan tidur terhambat oleh masalah lain. Misalnya, konflik suami-istri atau suasana lingkungan yang mencekam dapat menambah rasa cemas anak. Bila ini terjadi, kita harus fleksibel dan bersabar untuk mendampinginya namun tetap dengan cara yang sama, bukan dengan tidur dengannya terus menerus. Adakalanya kita pun mempunyai masalah meninggalkan anak sendirian karena ingin terus menyayangi dan melindunginya. Akhirnya ia makin bergantung dan tidak berkesempatan mengembangkan kemandirian. Sudah tentu ini tidak sehat. Bukannya menolongnya, kita malah merugikannya sebab ia terus bergantung pada kita. []

HABIS

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.