Kehilangan Anak

Oleh: Suminar Widyawati

Suatu kali, saya melakukan perjalanan wisata bersama sekolah TK anak saya. Selayaknya acara anak, maka perjalanan itupun dipenuhi keceriaan dan nyanyian khas anak-anak. Tapi kemudian ditengah perjalanan ada hal yang membuat saya terhenyak sekaligus miris. Saat itu pemandu memutar nyanyian Band ST 12 yang memang lagi hit. Dan dengan serentak semua anak perempuan yang duduk di bagian belakang bersama saya ikut bernyanyi.

Ada lima lagu yang diputar dan semua anak itu menghapal setiap kata di setiap baitnya. Dengan khawatir saya melirik anak saya yang duduk bersama mereka, dan betapa leganya saya ketika melihat dia tak ikut bernyanyi. Saya bersyukur, karena ia sama sekali tak mengenali lagu-lagu tersebut.

Ketika pemandu bertanya, kenapa anak saya tak hapal lagu itu saya katakan bahwa lagu itu lagu dewasa dan anak saya masih terlalu kecil untuk mengenal lagu semacam itu. Saya mengernyikan kening, dan bertanya-tanya ketika ia tampak kecewa ketika dia mengatakan lagu itu layak dihapal karena enak dan terkenal.

Beberapa bulan kemudian, saya kembali mengadakan perjalanan wisata. Kali ini bersama rekan suami dan karyawan perusahaannya. Dalam perjalanan inipun saya mengalami kemirisan yang sama. Saat itu diadakan lomba menyanyi untuk para karyawan, semuanya mmemilih lagu ST 12 untuk dinyanyikan sedang  lagu wajibnya adalah lagu anak-anak. Tapi kemudian, takada satupun peserta yang hapal lagu anak-anak.

Saat ini banyak kita jumpai anak-anak yang begitu fasih menyanyikan lagu dewasa. Begitupun banyaknya band baru yang muncul bak jamur dengan mudah diidolakan banyak anak- selain remaja tentunya. Sehingga bukan hanya lagu yang dihapal tapi juga sikap, dandanan bahkan gaya hidup si idola yang dihapal dan dicontoh. Dan sebagian besar orang, termasuk orang tua tidak menganggap hal itu jadi masalah (atau malah diam-diam bangga). Padahal seharusnya kita sadari, lagu-lagu itu berisi lirik yang tidak layak diucapkan anak-anak. Misalnya saja kisah cinta yang rumit atau bahkan ajakan untuk selingkuh.

Banyak orang tua yang merasa aman dengan pengidolaan anak pada lagu dewasa dengan berpikir kalau anak takkan memehami isi liriknya, katakanlah sekedar hapal doang. Ini adalah salah besar, karena apapun yang didengar seorang anak akan dia simpan di memorinya dan suatu saat bisa dijadikan pembenaran.

Bagi saya sendiri fenomena ini meninggalkan tanda tanya besar, kenapa begitu banyak anak yang mengidolakan lagu dan band dewasa? Dalam pemikiran saya, bisa jadi itu karena saat ini anak –anak negeri ini tidak punya sosok idola anak yang sesuai dengan usia mereka. Dahulu, ketika stasiun televisi masih satu ada acara khusus buat anak-anak. Menampilkan penyanyi anak dan nyanyian anak. Ketika stasiun tv swasta bemunculanpun acara anak masih dipertahankan hingga akhirnya pelan tapi pasti penyanyi anak mulai tersisih dan akhirnya hilang.

Generasi terakhir  penyananyi anak adalah Tasya dan Sherina. Mereka berdua senantiasa menyanyikan nyanyian anak yang cerdas dan ketika tampilpun mereka tampil dengan dandanan dan gayalayaknya anak-anak. Dan ketika mereka menginjak usia remaja tidak ada lagi penyanyi anak yang menonjol.

Maka, sayapun merasa gembira ketika ada stasiun tv yang menayangkan acara pencarian bakat penyanyi anak-anak. Tapi lagi-lagi saya harus kecewa. Karena ketika acara itu ditayangkan saya hanya melihat anak-anak yang bertingkah layaknya orang dewasa. Mereka berdandan bahkan menyanyikan lagu orang dewasa. Yah, sayapun harus menerima kenyataan  kalau acara ini sudah masuk dunia industri yang tentu saja lebih mengutamakan sisi finansial dan selera pasar.

Ketika saya mengingat kembali para karyawan remaja yang tidak hapal lagu anak-anak, sayapun berpikir bisa jadi mereka melewati masa kecil tanpa mengenal lagu anak-anak yang dinyanyikan penyanyi anak. Dan sayapun takkan merasa heran kalau anak-anak tk itu akan menjadi generasi yang sama. Toh, saatinipun, mereka telah akrab dengan dunia dan permasalahan orang dewasa. Saya malah khawatir kalau anak-anak kita hari ini lebih dewasa dalam berpikir dan bersikap sebelum waktunya.

Saya hanya berharap semoga tumbuh kesadaran  pada kita semua bahwa kebisaan anak mengikuti dunia orang dewasa bukanlah sebuah kebanggaan. Justru

harus kita khawatirkan. Karena seharusnya anak-anak mengisi masa kecil mereka sebagaimana layaknya seorang anak. Dan semoga kita-orang dewasa- bisa menyediakan ruang berkaryauntuk mereka dengan apa adanya, tanpa harus memoles mereka menjadi lebih dewasa. Jika tidak, maka sesungguhnya kita akan kehilangan lebih banyak anak. []

 

 

 

 

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.