Kelahiran Anak Ketiga

0

Oleh: Suminar Widyawati

27 September, malam Selasa. Selepas isya, suami saya beranjak keluar rumah. Memasukkan motor ke dalam rumah. Daun-daun pohon pace di sebelah rumah bergetar karena diterpa angin. Suami saya bergumam pelan, “Sepertinya akan hujan malam ini.”

Satu jam kemudian, hujan membasahi bumi. Deras. Seluruh penghuni rumah bersuka cita dan bersyukur. “Ayo panjatkan doa,” kata suami saya kepada Si sulung dan nomor dua, “supaya Bunda segera melahirkan dengan selamat, sehat, dan normal. Begitu pula dengan bayinya.”

Paginya, sambil mengantarkan si nomor dua sekolah, saya dan suami saya berjalan-jalan di taman kota. Wajah suami saya tampak berseri-seri, memandang ke langit, “Hujan tadi malam membangkitkan rasa optimisme yang luar biasa. InsyaAllah, hari ini mungkin mudah-mudahan bayi kita lahir.”

Saya mengaminkan, dan menukas, “Ya, kita sebagai manusia selalu punya peluang untuk salah. Allah pasti sudah memperhitungkan semuanya dengan cermat.”

“Ya, jangan pernah takut menghadapi apapun, sepanjang kita tidak bermaksiat dan menduakan Allah…”

Semua anggota keluarga memang sudah sangat menantikan kelahiran bayi yang sedang dikandung oleh saya. Bayi yang ketiga. Bidan memperkirakan tanggal 5 September, sedangkan dokter menyebut tanggal 10 September. Sudah dua pekan berjalan, prediksi itu meleset semua.

Sorenya, suami saya dan saya kembali berjalan-jalan. Kali ini Si sulung dan si nomor dua ikut serta. Sesampai di rumah hujan kembali turun. Saya memeriksa diri sendiri dan kemudian berkata, “Ayah, kita harus ke bidan sekarang tampaknya. Sudah keluar darah.”

Suami saya dan saya kemudian bergegas ke bidan. Sudah pembukaan dua. “Sebaiknya jangan pulang lagi. Malam ini langsung bermalam di sini ya. InsyaAllah jam 10 atau 11 malam, lahiran.”

Suami saya dan saya mengaminkan dan lega. Suami saya pulang mengambil semua peralatan yang sudah disiapkan. Kali ini si sulung dan si nomor dua ikut serta. Saya terus bersama dengan keduanya. Sementara suami saya tak hentinya membaca Surat Maryam. Kata Ustad, agar kelahiran lancar.

Jam 11 lewat. Saya masih saja pembukaan dua. Jam dua, ketuban pecah. Tapi masih tetap menunggu. Suami saya makin khusyu tilawah Surat Maryam dan juga melakukan shalat malam. Jam setengah empat dini hari, saya sudah pembukaan 8. Suami saya minta izin untuk shalat berjamaah Subuh. Tapi sepertinya tidak memungkinkan untuk pergi ke masjid. “Ayah shalat dulu, ya…” kata saya kepada suami. Ibu saya, yang ikut berjaga di bidan, gantian mendampingi saya.

Selepas shalat, suami saya bersujud dan berdoa agak lama. Di ruang persalinan, saya sudah dalam posisi siap. Suami saya kembali menggantikan ibu saya. Bidan memberikan aba-aba, “Ayo mengejan, Bu … Nah, sekali lagi…”

Kurang dari satu menit, terdengar suara bayi merobek ruangan dan Subuh yang sunyi. Bayi sudah lahir dengan selamat. Suami saya melirik jam, pukul 5.11. suami saya menangis sambil berazan di telinga bayi. Semuanya normal dan sehat.

Suami saya mengabari abah dan keluarga besar lewat telefon. “Bayinya perempuan, 3,4 kg dan panjang 51 cm.” Semuanya mengucapkan syukur.

Jam 7 pagi, si sulung dan nomor dua dijemput suami saya. Berdua menunggui bayi.  []

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.