Keluarga Ustat

115

 

 

lukisanAda gula ada semut. Ada yang menarik, selalu ada yang berminat. Tapi, berhati-hatilah buat sang semut. Karena mati semut bisa karena manisan.

Berbahagialah keluarga yang menjadi pusat perhatian positif masyarakatnya. Tetangga sekitar selalu menganggap ada yang lebih dari keluarga itu. Mulai dari penataan fisik rumah, hingga pada keserasian jiwa penghuninya.

Keluarga model itu, kerap menjadi rujukan dan panutan. Persis seperti doa yang diajarkan Allah dalam Alquran. Ya Allah, anugerahkanlah kami pasangan dan keturunan yang menjadi penenteram hati, dan jadikanlah kami pemimpin orang-orang yang bertakwa.

Sayangnya, tak semua yang tampak seperti air memang benar-benar air. Ada fatamorgana. Dari jauh menjadi harapan, begitu dekat justru kegersangan. Setidaknya, hal itulah yang kini dialami Pak Jojo.

Ayah dua anak ini punya ujian khusus dari Allah. Ujian itu sepintas enak, tapi punya beban yang lumayan berat. Masyarakat sekitar rumah Pak Jojo begitu kepincut dengan keberadaan keluarganya. Bisa dibilang, mereka jadi sosok teladan: pintar, ramah, dermawan, harmonis, dan alim.

Empat julukan baik seperti pintar, ramah, dermawan, dan harmonis; masih belum jadi beban buat Pak Jojo. Itu biasa. Wajar karena dia dan isterinyalah yang lulusan sarjana di kampung itu. Selebihnya, cuma SD dan SMP. Paling tinggi SMA. Dan itu pun sudah bisa terpilih jadi kepala kampung. Sekali lagi wajar. Biasa. Apalagi, ia dan isterinya bekerja sebagai dosen, guru mahasiswa. Lha, jadi mahasiswa saja sulit, apalagi jadi gurunya. Teramat wajar kalau masyarakat menganggapnya sebagai keluarga pintar.

Namun, soal alim itulah yang sangat memberatkan Pak Jojo. Menurut anggapan Pak  Jojo, alim bisa disetarakan dengan fuqoha. Atau orang yang serba tahu tentang urusan agama. Mulai dari ilmu akidah sampai soal fikih. Di kampung yang baru setahun ia tinggali itu, sarjana bidang pertanian ini terkenal dengan panggilan ustadz: ‘Ustat Jojo’.

“Duh, berat banget!” ujar Pak Jojo ke isterinya suatu kali. Berat, karena jangankan hafal tiga puluh juz Quran, setengah juz saja masih sering lupa. Bahkan, bacaan tilawahnya belum standar tajwid. Panjang pendek masih belum pas, makhraj masih kerap tertukar. Pendek kata, Pak Jojo merasa jauh dari sebutan ustat.

Mungkin, masyarakat cuma melihat dari tampilan luar keluarga Pak Jojo. Sering berbaju koko, rutin ke masjid, dan kemana-mana memegang mushaf kecil. Bukan itu saja. Isteri Pak Jojo pun tak pernah lepas jilbab. Tiap keluar rumah, jilbab dan gamis selalu melekat. Juga, kaus kaki. Suatu hal yang hampir tak pernah dilakukan ibu-ibu di kampung itu. Bahkan oleh yang biasa dipanggil masyarakat sebagai ustadzah sekali pun.

Tak ada yang seperti isteri Pak Jojo. Busananya yang begitu Islami. Tingkah laku yang hampir tanpa dosa. Dan senyum manis yang selalu menghias kesehariannya di tengah masyarakat. Tak jarang, masyarakat memanggil isteri Pak Jojo dengan Ibu Haji. Padahal, belum sekali pun isteri Pak Jojo pergi ke Mekah. Jangankan ke Mekah, ke serambinya saja belum.

Di masjid, tak seorang pun yang berani jadi imam salat sebelum memastikan kalau Ustat Jojo berhalangan hadir. Selalu saja Ustat Jojo sebagai imam. Walaupun yang dibaca tak pernah berkisar dari surah ke-103 hingga 114. Karena memang cuma itu yang benar-benar dihafal Pak Jojo.

Anehnya, para jamaah justru memuji Pak Jojo. “Ustat Jojo benar-benar bijaksana. Tak pernah baca surah panjang. Saya salut dengan Ustat!” ucap seorang jamaah masjid suatu kali.

Bijaksana? Duh, kalau ingat itu, Pak Jojo jadi malu sendiri. Ia malu dengan dirinya, dan tentu saja kepada Allah. Kurang kok dapat pujian. Ia jadi terkenang dengan kejadian ketika masih SMA.

Waktu itu, di masjid dekat rumah temannya, ia dinobatkan masyarakat jadi imam tarawih. Pasalnya, cuma ia yang mengenakan baju koko dan kopiah haji. Tentu saja ia menolak. Karena rakaat tarawih begitu banyak. Padahal, ia baru benar-benar hafal lima surah. Nggak cukup kan! Tapi karena masyarakat memaksa, ia pun jadi imam. Hingga di rakaat keenam, jamaah salat merasakan kalau sujud sang imam begitu lama. Lama sekali. Tak ada komando apa pun. Ketika seorang jamaah mendongak, ternyata sang imam sudah tidak ada di tempat. Kabur!

Kalau ingat itu, Pak Jojo istighfar. Jangan sampai kejadian itu terulang. Sejak itulah, ia memaksakan diri untuk menambah hafalan Alquran. Biar lambat, asal selamat.

Selain jadi imam salat, Pak Jojo juga dipercayakan masyarakat untuk baca doa. Dalam kegiatan apa pun. Mulai dari syukuran, khitanan, hingga pesta pernikahan. Masyarakat menilai, doa Pak Jojo lebih patut dikabulkan Allah daripada Ustat lain. Karena Pak Jojo hampir tak pernah bohong, pelit, merokok, apalagi godain janda.

Masalahnya, Pak Jojo tidak banyak hafal doa. Karena itulah, ia menggunakan kiat khusus. Ia awali doa dengan yang berbahasa Arab dan diakhiri pun dengan yang bahasa Arab. Sementara tengahnya, dan itulah yang paling panjang, ia gunakan bahasa Indonesia. “Supaya lebih meresap!” ucapnya suatu kali.

Hari minggu itu, seorang ibu memanggil Pak Jojo. “Pak Ustat, tolong cepat ke rumah saya!” ucap ibu itu sambil menangis dan agak memaksa. Dengan segera, Pak Jojo mengikuti. Ia mengira, panggilan itu tak jauh dari permintaan untuk berceramah dan baca doa. Insya Allah, akan ia usahakan.

Setiba di rumah ibu itu, Pak Jojo agak bingung. Banyak orang berkumpul. Sebagian ada yang menangis. “Ayah kami meninggal, Tat! Tolong dimandikan,” ucap anggota keluarga lain.

Pak Jojo terdiam. Tak sepatah kata pun terucap. Ia bingung mau bilang apa. Pasalnya, jangankan memandikan mayit, memegang saja belum pernah. Lama ia mematung. Tekadnya cuma satu: jangan sampai kejadian di usia SMA dulu terulang lagi. Kabur dari jamaah salat. Kan repot kalau ustat dianggap takut mayat. []

 

 

 

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.