Ketika Seseorang Kehilangan Tauhid (2-Habis)

0

, Ketika Seseorang Kehilangan Tauhid (2-Habis)Ibarat sebuah bangunan, maka tauhid adalah pondasi dan pilar-pilar penegak kehidupan. Tanpa tauhid tidak akan tegak bangunan kehidupan. Dan tanpa tauhid tidak akan tegak masyarakat Islam. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma, beliau menuturkan bahwa tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu ke negeri Yaman, maka beliau berpesan kepadanya, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi sekelompok orang dari kalangan Ahli Kitab, maka jadikanlah perkara pertama yang kamu serukan kepada mereka syahadat ‘laa ilaha illallah’. Dalam sebagian riwayat disebutkan, ‘Supaya mereka mentauhidkan Allah,’” (HR. Bukhari dan Muslim).

Oleh sebab itu sangatlah mengherankan apabila sebagian orang yang mendakwakan diri sebagai pejuang dakwah Islam orang-orang yang meneriakkan penegakan syari’at Islam namun di sisi lain mereka sangat meremehkan arti penting tauhid dan aqidah. Padahal, tauhid inilah yang menentukan diterima atau tidaknya amal-amal manusia.

Allah ta’ala berfirman, “Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun,” (QS. Al-Kahfi: 110).

Sebesar apapun amal ketaatan yang dilakukan oleh seorang hamba atau sebuah masyarakat akan tetapi jika tidak dilandasi tauhid dan keimanan yang benar maka itu tidak ada nilai dan harganya. Ia akan lenyap begitu saja, terbuang sia-sia bersama dengan keringat yang mereka kucurkan, bersama dengan waktu yang mereka habiskan, bersama dengan tetesan darah yang mereka tumpahkan. Sia-sia tanpa makna!

Allah ta’ala berfirman, “Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu. Jika kamu berbuat syirik maka lenyaplan seluruh amalmu dan kamu pasti termasuk golongan orang-orang yang merugi,” (QS. Az-Zumar: 65).

Allah ta’ala juga berfirman, “Dan Kami hadapkan apa yang dahulu mereka amalkan lalu Kami jadikan ia bagaikan debu yang beterbangan,” (QS. Al-Furqan: 23).

Tidakkah kita ingat ucapan emas Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu’anhuma ketika beliau mendengar ada sebagian orang yang tidak beriman terhadap takdir sementara mengimani takdir adalah bagian tak terpisahkan dari tauhid? Beliau mengatakan, “Demi Dzat yang jiwa Ibnu ‘Umar berada di tangan-Nya, seandainya ada salah seorang diantara mereka yang memiliki emas sebesar Uhud lalu dia infakkan, maka Allah tidak akan menerima hal itu dari mereka kecuali apabila mereka mengimani takdir,” (HR. Muslim).

Tidakkah kita ingat sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meriwayatkan dari Rabbnya, dimana Allah berfirman, “Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang di dalamnya dia mempersekutukan Aku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkan dia dan syiriknya itu,” (HR. Muslim). [mo]

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.