in

Ketika Vickynisasi Dikudeta Publik

Wahai, apa-apaan ini nulis tentang Vicky. Tau kan, sosok yang tiba-tiba melejit bak roket di media kita. Sosok yang dengan video singkatnya membumikan (maaf agak hiperbola) bahasa alay yang dengan cepat ditirukan oleh masyarakat luas.

 

vicky-prasetyo-130910bOleh: Sofistika Carevy Ediwindra

Sebuah reportase

Wahai, apa-apaan ini nulis tentang Vicky. Tau kan, sosok yang tiba-tiba melejit bak roket di media kita. Sosok yang dengan video singkatnya membumikan (maaf agak hiperbola) bahasa alay yang dengan cepat ditirukan oleh masyarakat luas. Katakanlah ‘kontroversi kemakmuran’, ‘konspirasi hati’, ‘statusisasi’, ‘labil ekonomi’ maupun yang lain.

Well, kalau Anda bilang saya ikut-ikutan, terhegemoni, atau alay, silakan saja. Tapi di tulisan kali ini, di tengah hiruk pikuk menagih LPJ teman-teman, izinkan saya membagikan hasil diskusi dengan judul di atas. Diskusi ini berlangsung kemarin, Rabu (18/9) di kampus USBI tercinta yang diselenggarakan teman-teman keren Senat Mahasiswa (SEMA).

Nah, dari hasil diskusi yang dipanelkan antara dosen-dosen saya terungkap penyikapan hal ini dari beberapa perspektif baik dari sisi linguistik maupun psikologisnya. Dari sisi linguistik (kebahasaan), disampaikan bahwa terdapat yang namanya semiotik. Semiotik yakni semacam simbol atau tanda. Semiotik ini dikaitkan dengan konteks penggunaan bahasa Vicky. Latar belakang penggunaan bahasa yang beberapa pihak menilai ‘tingkat tinggi’ ini dikarenakan inginnya Vicky untuk ditandai publik sebagai orang intelek. Terdapat pandangan (paradigma) bahwa jika menggunakan bahasa Inggris dalam keseharian maka layak disebut elit, terdidik, dan keren. Tanda inilah yang menjadi salah satu sumbernya.

Dari sisi psikologis, adanya perilaku itu menandakan keinginan adanya self-actualization, keinginan untuk diakui. Di samping itu, ada analisis dari sisi media. Dalam 20 menitan hasil wawancara, yang menjadi sorotan dan sengaja disorot media yakni di dua menit panjang video saja. Inilah efek media, kata salah satu narasumber. Media memblow up hal yang berisi keanehan ala Vicky dan menyebarkannya membentuk opini publik.

Ya, demikian sedikit cuplikan hasil diskusi. Bagi saya, meskipun salah satu narsum menyatakan bahwa Vicky is no body tapi tetap saja ia menjadi someone dengan kealayannya yang jelas beberapa pekan ke depan saja sudah lenyap. Sesuatu yang penting, kuat, dan besar di baliknya yakni media, kekuatan mempengaruhinya, menciptakan sesuatu yang biasa menjadi wah dan tak jarang bombastis. Maka tak heran jika pencalonan presiden atau menciptakan streotip atau menghapus paradigma tertentu sangat efektif lewat media entah televisi, internet, koran, dll.

Menanggapi ini adalah pilihan. Bagi saya, adanya hal ini dan hal-hal lain yang mengkonstruksi keterkenalan seseorang yang sekejap melalui media memframe masyarakat bahwa untuk menjadi terkenal itu sangat mudah. Ya, memang mudah. Namun, mental tercipta di baliknya bisa jadi baik bisa sebaliknya. Masyarakat terlebih muda-mudi seakan kini berlomba untuk menjadi terkenal dengan menciptakan ‘kreatifitas’ meski dalam mayoritas dikatakan ‘nyleneh’ atau apapun.

Semoga kita dapat menjadi generasi kreatif yang produktif dan bermanfaat. []

What do you think?

Written by

Writer di Rumah Keluarga Indonesia

Ciri-Ciri Orang Tua Sukses Mendidik Anak

Dosen Cerdas