Kisah Cinta Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah Az-Zahra (2-Habis)

Dan sekali lagi, tidak berapa lama dari itu, kabar ditolaknya lamaran Utsman bin Affan pun terdengar lagi, betapa bahagianya Ali. Semangat Ali untuk melamar Fatimah pun berkobar lagi, dan semangat itu didukung oleh sahabat-sahabat Ali. Kata sahabatnya “ pergilah Ali, lamar Fatimah sekarang, tunggu apa lagi? kamu kan sudah bekerja keras selama ini, kamu juga sudah mengumpulkan harta dan cukup untuk membeli mahar, tunggu apa lagi? Tunggu yang ke-4 kalinya? baik cepat!”

Dengan segera Ali memeberanikan diri untuk menghadap ke Nabi Muhammad SAW, dengan tujuan melamar Fatimah, dan sahabat-sahabat tahu? lamarannya diterima!

Ternyata memang dari dulu Fatimah az-Zahra sudah mempunyai perasaan dengan Ali dan menunggu Ali untuk melamarnya. Begitu juga dengan Ali, dari dulu dia juga sudah mempunyai perasaan dengan Fatimah az-Zahra. Tapi mereka berdua sabar menyembunyikan perasaan itu sampai saatnya tiba, sampai saatnya ijab kabul disahkan. Walaupun Ali sudah merasakan kekecewaan 3 kali mendahulukan orang lain, akhirnya kekecewaan itu terbayar juga.

“Jodoh memang tidak kemana,” dari cerita itu, lebih memperjelas lagi kan bahwa “Cinta itu, mengambil kesempatan, atau mempersilakan yang lain.”

Cinta adalah hal fitrah yang tentu saja dimiliki oleh setiap orang, namun bagaimanakah membingkai perasaan tersebut agar bukan cinta yang mengendalikan diri kita, tetapi diri kita yang mengendalikan cinta. Mungkin cukup sulit menemukan teladan dalam hal tersebut disekitar kita saat ini. Walaupun bukan tidak ada barangkali, kita saja yang tidak mengetahuinya. Dan inilah kisah dari Khalifah ke-4, suami dari putri kesayangan Rasulullah tentang membingkai perasaan dan bertanggung jawab akan perasaan tersebut “Bukan janj-janji.” [tq]

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.