in

Kisah Juni Melawan Pemerkosaan (1)

Batam. Sabtu sore (28/12/2013), pukul 17.00 WIB. Juni Juni Esti Siregas (24) pulang dari tempat pengajiannya menggunakan sepeda motornya. Ia seorang karyawan PT. JMS Batam. Salah satu kegiatan pekanan Juni adalah aktif mengisi mentoring ke pelajar Sekolah Menengah di kota Batam setiap pekannya. Juni adalah sosok muslimah aktivis yang lembut dan ramah.

juni

Batam. Sabtu sore (28/12/2013), pukul 17.00 WIB. Juni Juni Esti Siregas (24) pulang dari tempat pengajiannya menggunakan sepeda motornya. Ia seorang karyawan PT. JMS Batam. Salah satu kegiatan pekanan Juni adalah aktif mengisi mentoring ke pelajar Sekolah Menengah di kota Batam setiap pekannya. Juni adalah sosok muslimah aktivis yang lembut dan ramah.

Tempat pengajian Juni di daerah Tiban, dan rumahnya di Tembesi, Batu Aji. Berpikir bahwa saat tidak ada agenda lagi, entah kenapa, tiba-tiba Juni terpikir untuk mencoba jalur baru menuju rumahnya. Lama berjalan, Juni sadar bahwa ia tersesat. Selidik punya selidik, ia malah hampir ke Pelabuhan Sekupang.

Saat itu hanya ada dua orang yang berada di sekitar tempat ia tersasar. Satu bapak berambut panjang dan satu lagi seorang pria yang mengendarai sebuah motor. Merasa ada orang, Juni memberanikan diri menyapa pria yang tengah menyalakan starter motornya itu.  “Kalau mau ke Batu aji belok mana, ya? Ini udah buntu ya?”

Si Abang mendelik. “Iya, ini udah buntu. Batu aji dimananya?”

“Daerah Tembesi,” jawab Juni.

“Oya udahlah bareng. Saya juga deket daerah itu, deket pom bensin Melati Subur,” ajak si pria itu.

Jadilah Juni mengikuti abang tersebut. Ia mengendari motor di belakang si abang. Sepanjang jalan, pria itu kerap bertanya. Menurut Juni, pria ini termasuk ramah, sehingga tak pernah terbersit sedikitpun ada pikiran yang bukan-bukan di kepalang.

Lama menyusur jalan, Juni sadar, mereka sampai di daerah Tanjung Riau. Juni tak tahu sama sekali tentang daerah mana. “Bang, kok belum nyampe-nyampe juga? Saya pernah dulu nyasar ke Sekupang, ada ini ada ini, ada kuburan Kristen, koq sampe sekarang belum jumpa juga, lama kali, kan udah jauh kan, udah sunyi lagi?”

Si Abang menjawab, “Oh, mau gak motong?”

“Motong? Dari mana?”

Pria tersebut menunjukan jalan menuju seperti hutan. Juni mulai curiga. Ketika memasuki daerah itu, setelah agak jauh, Juni bertanya, “Bang, kok sunyi?”

Si abang menghentikan motornya, dan menahan laju motor Juni. Pria itu mengeluarkan sebuah gunting. “ Turun!!! Mau mati atau mau hidup?”

Juni terkesiap. “Kenapa Abang ini? Bicara baik-baiklah Bang, kalau mau motorku ambil, mau handphoneku, ambil…”

Pria itu tak menjawab. Malah dengan satu sentakan yang keras, ia menarik jaket Juni. Juni berontak. Ia diseret lelaki itu. Selintas Juni berpikir, pria ini hendak memerkosanya.

Pria itu terus menyeret Juni, dan berusaha untuk membuka helnya. Merasa gelagat sudah tidak beres, Juni berusaha bangkit, dan sebisa mungkin memukul orang tersebut. Ia berusaha meraih kayu untuk memukul si lelaki yang sudah beritikad tidak baik tersebut. Tapi sia-sia. Tenaga lelaki itu terlampau besar untuknya.

Lelaki itu berhasil mempreteli jaket yang dikenakan Juni. Tapi tidak baju gamis lebarnya. Ia menyekap Juni. Juni terus berontak, dan menjerit-jerit. Kesal, si lelaki itu memukul Juni sekuat tenaga. Juni menggeloso ke tanah, dan pura-pura pingsan. Si lelaki menyangka Juni betulan pingsan. Ia menjadi agak lengah, sementara Juni berdoa dalam hatinya, “Ya Allah, ini makhlukMu,… janganlah matikan aku di tempat seperti ini dengan cara yang seperti ini.” Juni terus berdoa tiada henti. Juni mengumpulkan tenaga dan dengan sebat, sambil berterak keras “Allahu Akbar!”, Juni menendang si lelaki. Juni tidak tahu bagian mana yang ia tendang.

Si lelaki beringas kembali. Ia kembali menodongkan gunting ke arah Juni. “Kamu mau mati ya?”

Juni menukas, “Lebih baik aku mati!”

Si lelaki merangsek dan menusukkan gunting itu beberapa kali ke perut Juni.  Tapi ajaib, ketika itu, Juni tidak merasa sakit, dan tak ada darah yang keluar dari perut Juni. Melihat itu, si lelaki tambah beringas. Diarahkannya gunting itu ke leher Juni. Digesek-gesekkannya sebat. Juni berusaha melindungi dengan tangannya sambil bertanya-tanya dalam hati,  “Ya Allah, udah putus belum ya urat leherku ini…”

Juni bisa bangkit. Si lelaki kalap. Mungkin karena Juni ternyata masih belum mati juga. Juni sendiri tidak merasakan apa-apa lagi. Yang ada di kepalanya hanya satu, ia berdoa agar ia selamat dan tetap terjaga.

Si lelaki yang geram kemudian menerkam Juni dengan sambil tetap menusukkan guntingnya ke seluruh tubuh Juni. Juni terjerambab. Ia meronta-ronta. Sekarang, ia merasakan mulutnya berdarah. Ia terus meronta-ronta.

BERSAMBUNG

What do you think?

Written by

Writer di Rumah Keluarga Indonesia

Cinta Terkembang Jadi Kata

Ada Apa dengan Terompet Tahun Baru?