Kisah Keajaiban Adzan (2-Habis)

0

, Kisah Keajaiban Adzan (2-Habis)Kemudian Ustad Abdurrahman duduk tepat di sebelah kanan kepala Abdullah, sehingga memungkinkan beliau untuk berbicara di telinga Abdullah dengan jarak paling dekat.

Sejenak beliau berdo’a dan kemudian menggenggam lemah tangan Abdullah.

“Assalamu’alaikum saudaraku, saya Ustad Abdurrahman dari Wollongong.

“Saudaraku, saya datang ke sini untuk menemuimu, saya tahu kamu adalah muslim yang baik, kamu telah menolong Allah untuk mengumandangkan adzan setiap hari di masjid.

“Kamu mengingatkan orang-orang untuk shalat di masjid, saya yakin kalau Allah dan semua orang menyayangi kamu, Allah akan menolong kamu, Dia akan memberimu kesehatan dan kebahagiaan.

“Saudaraku, kami masih ingin mendengar engkau mengumandangkan adzan di masjid, dapatkah engkau melakukannya, Allah akan menyukainya, tolong engkau kumandangkan adzan untuk kami.”

Sejenak terlihat air mata keluar dari kedua matanya dan menetes melewati pipi Abdullah.

Tak berapa lama kelopak matanya bergerak-gerak perlahan, kemudian matanya membuka sedikit demi sedikit.

Bibirnyapun kemudian bergerak-gerak perlahan, seolah ia berusaha untuk mengumandangkan adzan.

Ustad Abdurrahman memandang wajah Abdullah dengan tersenyum: “Alhamdulillah,teruskan saudaraku, kumandangkan adzan untuk kami.”

Dan Subhanallah, secara tidak diduga monitor alat pendeteksi jantung yang dipasangkan di tubuh Abdullah menunjukkan kerja jantung yang berangsur-angsur normal, itu menunjukkan jika Abdullah telah melewati masa kritisnya.

Ahmad yang mengetahui hal itu kemudian melakukan sujud syukur di dalam ruangan itu, kemudian diikuti saudaranya yang lain.

Ahmad memeluk Ustad Abdurrahman dan berkali-kali mengucapkan terima kasih.

Tak berapa lama sang dokter muncul kembali dan mengecek kesehatan Abdullah. “Apa yang terjadi? Apa yang telah kamu berikan kepadanya?” Ia bertanya kepada Ahmad yang berada di dekatnya.

“Adzan,” jawab Ahmad dengan tersenyum.

“Adzan? Apakah adzan yang telah menyembuhkannya?” tanya sang dokter kepada Ustad Abdurrahman yang juga masih berada di situ.

“Ya, Allah menyembuhkannya dengan Adzan,” jawab Ustad Abdurrahman dengan tersenyum pula.

Sang dokter yang bukan muslim tersebut semakin terheran-heran, kemudian ia mengangguk-angguk, ikut tersenyum dan berkata kepada Ustad Abdurrahman: “Suatu hari saya ingin bertanya kepadamu tentang adzan, tolong beri aku nomor yang bisa dihubungi,” katanya.

“Dengan senang hati, dokter,” jawab Ustad Abdurrahman penuh keyakinan.

“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri,” (QS.Fushshilat: 33). “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu,” (QS. Muhammad [47]: 7). [kl]

HABIS

 Artikel Terkait

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

you're currently offline