Kisah Shuhaib bin Sinan: Harta itu Diserahkan Pada Pemiliknya

0 140

 

unta“Dan diberikannya makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang tawanan.” (QS. ad-Dahr: 8)

Saat mendengar Rasulullah SAW akan hijrah, lelaki itu tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengikutinya. Rasul pun tak menolaknya. Mereka bertiga, Rasulullah, Abu Bakar, dan Shuhaib bin Sinan–lelaki itu–bersiap meninggalkan Mekkah yang mereka cintai.

Rencana hijrah ini mengundang orang-orang musyrik Mekkah untuk membinasakan Rasulullah dan pengikut setianya. Mereka pun segera menyusun strategi secara cepat demi mewujudkan ambisi yang ditunggu-tunggu selama itu, yakni dengan menggunakan jebakan-jebakan.

Rasulullah dan Abu Bakar yang ekstra hati-hati dalam bergerak menuju Madinah berhasil meloloskan diri dari berbagai rintangan. Sedangkan Shuhaib terjebak dalam salah satu perangkap mereka. Dalam posisi terjepit ia pun mengeluarkan jurus selamat. Sambil menepis tuduhan musyrik Quraisy tentang hal-hal yang tidak benar terhadap Rasulullah dan pengikutnya, ia mencari-cari jalan keluar. Jiwanya di ujung tanduk.

Begitu dilihatnya orang-orang yang menginterogasinya itu lengah Shuhaib secepat kilat loncat ke punggung untanya. Dengan sekencang-kencangnya ia pecut si unta ke gurun luas menuju Madinah. Tak mau kehilangan “mangsa” kaum kufar itu buru-buru mengejarnya. Bahkan, pemimpin mereka memerintahkan pasukan tangguh pemburu target yang jitu.

Jarak Madinah yang masih jauh menyebabkan daya tahan yang dinaiki Shuhaib melemah. Dan pasukan pilihan musyrik yang mengejarnya kian mendekat. Hingga dia dan mereka saling berhadapan. Ia tak habis kecerdasan demi melepaskan diri dari cengkeraman musuh.

Shuhaib yang saudagar dan lihai bersilat lidah itu pun berseru, “Hai orang-orang Quraisy! Kalian semua mengetahui bahwa saya adalah ahli memanah. Demi Allah, kalian takkan berhasil mendekati diriku sebelum saya lepaskan semua anak panah yang berada dalam kantong ini, dan setelah itu aku akan menggunakan pedang untuk menebas kalian sampai senjata di tanganku habis semua!”

Ia menantang maju semua musuhnya. Sambil memperhatikan kekuatan yang sangat tak imbang itu ia sadar kemungkinan untuk menang kecil. Lalu ia menyusun taktik. Maka, ia berseru, “Jika kalian setuju saya akan tunjukkan tempat penyimpanan harta bendaku asalkan kalian membiarkan aku (pergi)!”

Mendengar harta benda yang ditawarkan Shuhaib, lawan-lawannya takluk juga. Shuhaib pun menunjukkan tempat disembunyikannya harta dari hasil perniagaannya selama ini. Setelah itu dia dibiarkan melanjutkan perjalanan. Sampai akhirnya dia dapat menyusul Rasulullah dan Abu Bakar di Quba. Rasulullah menyambutnya dengan sukacita saat sedang berkumpul dengan beberapa shahabat, seraya berseru, “Beruntung perdaganganmu, hai Abu Yahya.”

Masih di tempat dan saat itu turun ayat, “Dan di antara manusia ada yang bersedia menebus dirinya demi mengharapkan keridlaan Allah, dan Allah Maha Penyantun terhadap hamba-hamba-Nya.” (QS al-Baqarah: 207). Ayat ini dimaksudkan sebagai kabar gembira atas pengorbanan Shuhaib untuk berhijrah.

Menyaksikan kesungguhan keimanan dan ketakwaan Shuhaib, Rasulullah kian menyayanginya. Shuhaib memiliki pribadi yang riang dan jenaka, selain perilakunya yang pemurah dan dermawan. Tunjangan yang ia peroleh dari baitul maal diberikan semua kepada orang-orang miskin papa.

Shuhaib menjaga amanah harta benda umat sehingga diserahkan pada mereka yang berhak menerimanya. Begitu sangat dermawannya hingga Umar bin Khattab suatu hari berseru padanya, “Saya lihat kamu banyak sekali mendermakan makanan hingga melewati batas.”

Dengan enteng seruan itu dijawabnya, “Sebab saya mendengar Rasulullah bersabda, ‘Sebaik-baik kalian ialah yang suka memberi makanan.” Dengan jawaban telak ini Umar jadi memahami karakter Shuhaib yang begitu “ringan” dengan harta bendanya.

Umar hanya bisa mengingati Shuhaib yang masa kanak-kanak dan remajanya sebagai budak belian yang diperjual belika dari satu saudagar ke saudagar lainnya di negeri Romawi. Kemudian, sang majikan terakhir membebaskannya karena melihat kecerdasan, kerajinan, dan kejujuran pada diri Shuhaib.

Hidayah dan kekuatan batinnya untuk istiqamah mengikuti kebenaran menuntun langkah-langkahnya menuju kediaman Arqam di Mekkah, tatkala Rasulullah melakukan dakwahnya secara amniyah. Hingga ia masuk barisan shahabat yang berbai’at pada Rasulullah SAW. Lalu membuktikan bai’atnya dalam setiap waktu dan kesempatan.

Inilah kesaksian Shuhaib, “Tiada suatu perjuangan bersenjata yang dilakukan Rasulullah kecuali pastilah aku menyertainya. Dan tiada suatu bai’at yang dijalaninya kecuali tentulah aku menghadirinya. Dan tiada suatu pasukan bersenjata yang dikirimnya kecuali aku termasuk sebagai anggota rombongannya. Dan tidak pernah beliau bertempur baik di masa-masa pertama Islam atau di masa-masa akhir, kecuali aku berada di sebelah kanan atau di sebelah kirinya. Dan kalau ada sesuatu yang dikhawatirkan Kaum Muslimin di hadapan mereka pasti aku akan menyerbu paling depan, demikian pula kalau ada yang dicemaskan di belakang mereka, pasti aku akan mundur ke belakang. Serta aku tidak sudi sama sekali membiarkan Rasulullah SAW berada dalam jangkauan musuh sampai ia kembali menemui Allah.”

Maka tak salah ketika Khalifah Umar bin Khattab sedang menghadapi sakaratul maut–akibat tusukan pisau seorang munafik saat memimpin shalat berjamaah–Umar menunjuk Shuhaib sebagai untuk memimpin shalat berjamaah hingga penunjukan khalifah baru. Karena ia telah mengenal secara baik Shuaib sebagai shahabat yang istiqamah, takwa, dan menjaga amanah hartanya dengan sebaik-baiknya. []

  Artikel Terkait

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

you're currently offline