Kisah Uang Rp 1.000 dan Rp 100.000

0 422

uangDi dunia ini ada orang kaya dan miskin. Jangan menyesal jika Anda terlahir dalam keadaan miskin. Anda hanya boleh menyesal, jika Anda mati dalam keadaan miskin. Mengapa demikian? Karena orang yang hidup masih bisa berusaha, yang asalnya miskin pun bisa berubah menjadi kaya. Nah, berbicara tentang kaya dan miskin, di sini ada sebuah kisah tentang uang Rp 1.000 dan Rp 100.000, yang katanya sih uang Rp 1.000 ini identik dengan orang miskin dan Rp 100.000 identik dengan orang kaya. Namun apakah memang benar seperti itu? Agar tidak salah, silahkan ikuti penjelasan berikut.

Uang Rp.1000 dan Rp 100.000 sama-sama terbuat dari kertas, sama-sama dicetak dan diedarkan oleh Bank Indonesia. Pada saat bersamaan mereka keluar dan berpisah dari Bank dan beredar di masyarakat. Empat bulan kemudian mereka bertemu lagi secara tidak sengaja di dalam dompet seorang pemuda, di antara kedua uang tersebut terjadilah percakapan.

Kemudian Uang Rp 100.000 bertanya kepada yang Rp 1000, “Kenapa badan kamu begitu lusuh, kotor dan bau amis?“

Dijawablah oleh Rp 1000, “Karena aku begitu keluar dari Bank langsung berada di tangan orang-orang bawahan, dari tukang becak, tukang sayur, penjual ikan dan di tangan pengemis.”

Lalu Rp 1000 bertanya balik kepada Rp 100.000, “Kenapa kamu kelihatan masih baru, rapi dan tidak banyak berubah sejak keluar dari bank?

Dijawab oleh Rp 100.000, “Karena begitu aku keluar dari Bank, langsung disambut perempuan cantik dan beredarnya pun di restoran mahal, di mall dan juga hotel-hotel berbintang serta keberadaanku selalu dijaga dan jarang keluar dari dompet.”

Lalu Rp 1000 bertanya lagi, “Pernahkah engkau mampir di tempat ibadah?“

Dijawablah, “Belum pernah.”

Rp 1000 pun berkata lagi, “Ketahuilah bahwa walaupun keadaanku seperti ini adanya, setiap Jum’at aku selalu mampir di Masjid-masjid, dan di tangan anak-anak yatim, bahkan aku selalu bersyukur kepada Allah, Aku tidak dipandang manusia bukan karena sebuah nilai tapi karena manfaat.”

Setelah mendengar perkataan dari uang seribu itu, uang seratus ribu akhirnya menangis karena merasa besar, hebat, tinggi akan tetapi tidak begitu bermanfaat selama ini. [ia]

  Artikel Terkait

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

you're currently offline