Kontemplasi Akhir Liburan

Oleh: Vienna Alifa

Liburan bagi jasmani itu bisa berupa memanjakannya lewat kenyamanan fasiltas beristirahat atau menyerahkannya pada layanan pijat. Rutinitas yang bikin penat bolehlah minggir sesaat. Walau pikiran tetap berputar mencari agenda yang bermanfaat.

Tetapi bagi ruhani, liburan bukan mengenyahkan asupan dzikr dan mengurangi aktivitas ibadah. Justru dengan memperbanyak jumlah dan ragam ibadah mahdhah, jiwa menjadi kian tenang dan relaks. Karena sejatinya tak ada kata libur dalam ritual penghambaan kita pada Sang Pencipta.

Sayang, keberadaan waktu luang memang acapkali menipu. Betapa benar sabda Rasulullaah saw tentang ini : “Dua nikmat dimana banyak manusia yang tertipu; nikmat kesehatan dan waktu luang”. (HR. Bukhari).

Alih-alih memakai hari-hari libur dengan meningkatkan hafalan Al-Quran/mempersering shaum sunnah/merutinkan qiyamullail atau ibadah lain yang kita mengaku sulit istiqamah karena dalih ‘sibuk-tak ada waktu’. Yang terjadi malah terlena, lalai dan kelimpungan hingga liburan nyaris berakhir. Waktu yang longgar semakin berkurang sementara capaian amalan ibadah harian tak lebih pesat ketimbang yang biasa dikerjakan dalam waktu-waktu sempit.

Begitulah…

Setelah berlalunya sang waktu, seperti biasa, yang tinggal hanya penyesalan. Waktu pun terus berjalan menawarkan peluang untuk berbuat baik ataukah kesempatan bertindak keji bagi para pengisinya.
Dan bagi seorang muslim, menyia-nyiakan waktu merupakan sikap tercela. Karena salah satu indikator kualitas keislaman seseorang ternyata dapat diukur dari caranya memanfaatkan waktu.

مِنْ حُسْن إِسْلَام الْمَرْء تَرْكه مَا لَا يَعْنِيه

“Diantara baiknya keislaman seseorang adalah ketika ia meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya,” (HR. Ahmad, Tarmidzi dan Ibnu Majah). Para Salaf Saleh juga berkata: “Diantara tanda datangnya kemurkaan adalah sikap menyia-nyiakan waktu.”

Ya Allah… Jangan abadikan keterlenaan kami atas waktu luang. Sibukkan kami hanya dengan aktivitas yang Engkau ridhoi. Sebaliknya sempitkan kesempatan kami untuk berbuat sesuatu yang tak Engkau sukai. Sehingga di akhirat kami tidak termasuk orang-orang yang merengek minta dikembalikan lagi ke dunia karena penyesalan terlanjur sampai ke tenggorokan mereka….

“Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin,” |Qs. As-sajdah :12 []

*menghitung hari usainya liburan di kampung halaman, sambil merindu kembalinya jadwal padat merayap di tanah rantau*

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.