Krisis Paruh Baya? No! (3-Habis)

, Krisis Paruh Baya? No! (3-Habis)

Beberapa kajian juga mengindikasikan bahwa beberapa jenis budaya lebih sensitif terhadap fenomena ini dibandingkan budaya lainnya (Annual Review of Psychology, Vol. 55. 2004) Contohnya: jarang ditemui kasus krisis paruh baya dalam budaya Jepang dan Indian dan sangat menghormati sosok orang tua. Sebaliknya, kentalnya “culture of youth” di dunia Barat nampaknya mempengaruhi banyaknya kasus krisis paruh baya di sana.

Yakobus Sniechowski Ph.D (www.webmd.com) mengatakan bahwa kemerosotan produksi hormon ikut berperan dalam krisis paruh baya. Pada lelaki paruh baya, produksi hormon testosteron mulai untuk menyusut,bersamaan dengan itu semangat dan daya tahan mereka juga menurun. Pada wanita juga terjadi kemerosotan produksi hormon estrogen. Tetapi seiring dengan itu, menurut Judith Sherven pada wanita terjadi peningkatan persentase hormon testosteron. Akibatnya banyak wanita yang mengatakan mereka merasa lebih berenergi, berambisi dan memiliki inisiatif lebih banyak dibandingkan sebelumnya.

Perubahan ini juga mungkin disebabkan kesadaran tentang diri yang berubah pada wanita. Utamanya pada ibu rumah tangga yang biasanya tinggal di rumah untuk merawat suami dan anak-anaknya, ketika tanggung jawab dalam rumah tangga telah berkurang (anak sudah besar atau sudah berumah tangga sendiri) mereka memiliki keinginan untuk melakukan hal-hal baru. Robert Tan dari University of Texas menemukan banyak di antara wanita paruh baya ini yang kemudian melanjutkan sekolah lagi, membuka bisnis sendiri, atau melakukan hal-hal produktif lainnya.

Pada umat Islam, sesungguhnya Allah telah menunjukkan bagaimana caranya agar kita tidak mengalami krisis paruh baya ataupun segera bangkit dari krisis tersebut sebagaimana terdapat dalam Al Quran surat Al Ahqaf [46] ayat 15 : “Kami perintahkan manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: Ya tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah kau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat beramal shalih yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”

Banyak masalah yang dihadapi dalam perjalanan usia kita, tapi masalahnya adalah bagaimana kita menghadapi masalah tersebut dan menjadi lebih bijak, lebih dewasa dan lebih bersyukur atas nikmat yang telah diberikan selama ini…Dengan begitu, kita dapat meneruskan perjalanan hidup kita dengan lebih bermakna. [Sumber: yulianti.staff.uii.ac.id]

HABIS

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.