Kunjungi yang Jauh, Sayangi yang Dekat (1)

 

, Kunjungi yang Jauh, Sayangi yang Dekat (1)
Foto: jinglepuffbutik.com

“Tolonglah saudaramu, baik dia zalim maupun dizalimi. Apabila dia zalim, cegahlah dia dari perbuatannya. Dan, bila dia dizalimi, upayakanlah agar dia dimenangkan.” (HR. Ahmad)

Maha Agung Allah yang Menciptakan air dengan kecenderungannya yang tulus. Ia mengalir dari atas untuk bisa memberikan penghidupan kepada semua yang di bawah. Tanpa pilih wadah dan jenis tanah. Yang di bawah pun akan menguapkan awan untuk digiring ke mata air yang di atas. Seperti itulah mungkin nilai dari sebuah persaudaraan.

Tanpa hati dan iman, ikatan apa pun akan rapuh
Tidak ada kekuatan apa pun yang dimililiki seorang anak manusia melebihi hati yang dipenuhi cahaya iman. Inilah sumber kekuatan yang bisa mengalahkan kekuatan apa pun. Ia bisa memunculkan kejernihan pikiran untuk berkreasi. Ia bisa menstabilkan aliran darah untuk kesegaran jasmani. Dan, ia bisa mendewasakan jiwa dari kekanak-kanakan syahwat.

Begitu pun ketika terjadi ikatan antar manusia. Skala kecil maupun besar. Ikatan yang punya kekuatan ekstra adalah karena adanya kesatuan hati yang disinari cahaya iman. Tanpa itu, ikatan menjadi sangat rentan.

Rahasia kekuatannya ada di luar ikatan antar manusia itu sendiri. Allah Yang Maha Sayanglah yang menjadi pengikat. Inilah ikatan yang melampaui kedekatan jasmani, suku, harta, dan berbagai kepentingan lain.

Maha Benar Allah dalam firman-Nya di surah Al-Anfal ayat 63, “dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Mahaperkasa, Mahabijaksana.”

Belajarlah mencintai, sebelum ingin dicintai
Umumnya, orang lebih banyak menuntut daripada memberi. Lebih sadar hak diri daripada kewajiban. Inilah sifat dasar manusia yang gagal terkikis dengan perkembangan akal dan kedewasaan jiwa. Sifat kekanak-kanakan yang terus terbawa hingga dewasa.

Padahal, di situlah letaknya kenapa bisa susah menemukan sifat bijaksana. Mereka yang terbiasa menuntut akan sulit memberi. Sebaliknya, inilah yang diajarkan Rasulullah saw., mereka yang terbiasa memberi akan paham betul tentang sebuah tuntutan yang mesti ia tunaikan.

Rasulullah saw. mengatakan, “Sambunglah orang yang memutus hubungannya dengan kamu dan berilah (sesuatu) kepada orang yang enggan memberimu….” (HR. Ahmad)

Inilah makna cinta yang diajarkan Rasulullah saw. Bahwa, cinta tidak akan lahir dari pihak yang saling menuntut. Tapi, cinta akan lestari dari mereka yang tulus untuk saling memberi.

BERSAMBUNG

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.