Kunjungi yang Jauh, Sayangi yang Dekat (2-Habis)

0

 

Foto: jinglepuffbutik.com
Foto: jinglepuffbutik.com

Perhatikanlah yang paling lemah, agar diri dapat kekuatan
Orang akan memahami kalau ia berada di posisi atas ketika pandangannya tertoleh ke bawah. Andai pandangan itu selalu setara atau bahkan lebih ke atas, orang tidak akan sadar kalau banyak orang di bawahnya. Menoleh atau tidak inilah yang bisa dibilang hal mahal dari mereka yang berada di atas.

Begitu pun soal kekuatan posisi di atas, rahasianya ada pada orang-orang di bawah. Mendekat dengan yang di bawah, akan menyerap energi diri untuk bisa meraih posisi yang lebih atas.

Itulah mungkin, di antara rahasia percepatan meraih sukses yang dilakukan Rasulullah saw. dan para sahabat. Sebagian besar pendukung gerakan ini adalah mereka yang tergolong orang-orang bawah. Hal itu pula yang pernah dilakukan para nabi sebelum Rasulullah saw.

Firman Allah swt. dalam surah Hud ayat 27, “Maka berkatalah para pemuka kafir dari kaumnya (nabi Nuh), ‘Kami tidak melihat engkau, malainkan hanyalah seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang yang mengikuti engkau, melainkan orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya….”

Dalam pandangan yang lebih sederhana, Rasulullah saw. mengajarkan kita dengan haditsnya. “Tiadalah kamu mendapat pertolongan (bantuan) dan rezeki, kecuali karena orang-orang yang lemah dari kalangan kamu.” (HR. Bukhari)

Kunjungi yang jauh, sayangi yang dekat
Dalam kehidupan sosial, jauh dan dekat adalah sebuah kelumrahan. Karena manusia adalah anak lingkungannya. Pola pikir seseorang dibentuk oleh lingkungan di mana ia tinggal. Dan masing-masing lingkungan punya kekhasan yang beda.

Masalahnya, bukan jauh atau dekat; baik dari pendekatan jarak, pandangan, pola pikir, budaya, organisasi, bahkan agama. Tapi, lebih bagaimana orang memberikan penyikapan terhadap sebuah perbedaan.

Semua makhluk Allah selalu punya potensi untuk berbeda dalam pandangan. Malaikat pernah berbeda pendapat soal vonis yang pas untuk kasus meninggalnya seorang algojo tobat yang telah membunuh seratus nyawa. Begitu pun dengan para sahabat Rasulullah saw., para tabi’in, dan tentu saja para ulama di masa kini.

Persaudaraan yang sejati adalah kemampuan diri untuk bisa mengunjungi mereka yang ‘jauh’. Serta, sambil tetap sayang dengan yang dekat.

HABIS

  Artikel Terkait

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

you're currently offline