Larangan untuk Wanita Haid (1)

0

 

, Larangan untuk Wanita Haid (1)Bagi wanita yang tengah haid, ada beberapa hal yang diharamkan oleh syara’, sebagian disepakati oleh para ulama, sedangkan sebagiaannya lagi terjadi khilaf. Apa saja?

Berwudhu atau Mandi

Sebagian ulama dari kalangan mazhab Syafi`i dan al-Hanabilah berpendapat bahwa wanitahaid haram untuk berwudhu dan mandi. Maksud wudhu dan mandi yang diharamkan disini adalah wanita yang sedang haid lalu mandai dan berwudhu dengan niat untuk bersuci dari hadats besarnya itu, seolah-olah darah haidnya sudah selesai, padahal belum selesai.

Adapun mandi dan aktivitas bersuci lainnya tidak ada larangan bagi wanita haid bila dengan tujuan selain larangan di atas. [Bidayatul Mujtahid ( I/54-57), Hasyiah al Bajuri (I/117)]

Shalat

Seorang wanita yang sedang haid gugur kewajibannya untuk melakukan salat. Dan dia tidak perlu mengqadha shalatnya tersebut. Demikian menurut ijma’ (kesepakatan ulama).

Bila ada wanita yang coba-coba mengerjakan shalat  padahal ia masih dalam kondisi haid maka bukan pahala yang di dapat malah dosa yang diterima. Dalil larangannya adalah hadis berikut ini, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam bersabda :  “Darah haid itu berwarna hitam dan dikenali. Bila yang yang keluar seperti itu, janganlah shalat. Bila sudah selesai, maka berwudhu’lah dan lakukan shalat.” (HR. Abu Dawud, Nasa’I dan lainnya)

Dalam riwayat lain, Nabi Shalallahu ‘alaihi wassallam berkata kepada beberapa perempuan : “Bukankah perempuan haid itu tidak shalat dan tidak berpuasa ?’ jawab perempuan – perempuan yang hadir “ya benar” Beliau bersabda :  ‘Itulah kekurangan agama perempuan.” (HR Bukhari).

Puasa

Wanita yang sedang mendapatkan haid mutlak diharamakan berpuasa baik wajib maupun sunnah namun mereka diwajibkan untuk mengqadhanya di hari lain. Dalilnya adalah, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam bersabda : “Bukankah jika perempuan itu haid ia tidak shalat dan juga tidak berpuasa ? itulah kekurangan dalam agamanya.” (HR Bukhari)

Tawaf

Tidak ada perbedaan pendapat dikalangan ulama, bahwa wanita haid boleh melakukan amalan apapun dari ibadah haji kecuali thawaf. Hal ini berdasarkan dalil sebuah hadits : Rasulullah n bersabda kepada umul mukminin Aisyah j, “Bila kamu mendapat haid, lakukan semua amaliyah ibadah haji, kecuali berthawaf di sekeliling ka`bah hingga kamu suci.” (Mutafaqqun ‘Alaih)

Masuk Ke Masjid

Ulama empat mazhab sepakat tentang haramnya wanita haid berdiam di masjid, berdasarkan hadits : “Aku tidak halalkan masjid bagi mereka yang haid dan tidak jug bagi yang junub.” (HR Abu Dawud)

Dalam pandangan jumhur (mayoritas ulama), wanita haid itu disamakan dengan kondisinya orang yang junub, Sedangkan Allah ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu hampiri shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk, hingga kamu sadar dan mengetahui akan apa yang kamu katakan dan janganlah pula (hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub (berhadas besar) kecuali kamu hendak melintas saja hingga kamu mandi bersuci…” (An-Nisa : 43)

Sedangkan sebagian ulama yakni dari kalangan Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat bolehnya wanita haid sekedar melintas di masjid atau karena ada keperluan penting.   Yang tentunya dengan syarat ia yakin bahwa ia tidak akan mengotori masjid ketika itu.  Hal ini berdasarkan dalil sebuah riwayat dari Aisyah : “Bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam bersabda kepadaku : “Ambilkanlah aku sajadah di masjid.” Maka aku menjawab, ‘Aku sedang haid’ Maka beliau menjawab, ‘sesungguhnya hadihmu tidak terletak di tanganmu.” (HR Muslim)Sedangkan Hanafiyah dan Malikiyah mutlak mengharamkan wanita haid untuk memasuki masjid meskipun hanya sekedar diam sebentar atau melintasinya.

Adapula kalangan ulama kontemporer yang membolehkan wanita haid berdiam di masjid bila ada keperluan seperti untuk belajar dan lainnya. []

BERSAMBUNG

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.