Larangan untuk Wanita Haid (2 – Habis)

0

 

, Larangan untuk Wanita Haid (2 – Habis)Menyentuh Mushaf Dan Membawanya

Ulama mazhab bersepakat mengharamkan wanita haid untuk menyentuh al Qur’an. Baik sekedar membawanya apalagi menyentuh untuk membacanya. [alam Al Mausu’ah Fiqhiyah (18/322), dianyatakan bahwa tidak bolehnya menyentuh mushaf bagi wanita haidh adalah ijma’ (kesepakatan) ulama, tetapi di beberapa kitab, kami temukan ini hanya pendapat jumhur (mayoritas), tidak sampai ijma’]

Allah ta’ala berfirman : “Tidak ada yang menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.” (QS. Al Waqi’ah :79)

Dalil hadits

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Abu Bakar bin ;Amri bin Hazm dari bapaknya dari kakeknya adalah Rasulullah n menulis surat untuk penduduk Yaman yang isinya :  “Tidak boleh ada yang menyentuh al Qur’an kecuali orang-orang suci.” (HR. Daruquthni dan al Hakim)

Memang ada sebagian ulama muta’akhirin yang mengatakan wanita tidak mengapa menyentuh mushaf al Qur’an.  Namun ini hanya sebagian kecil pendapat. Menurut hemat kami, sebaiknya dihindari saja bagi para wanita haid untuh menyentuh mushaf Al-Qruan, demi kehati-hatian.

Jadi memang sebaiknya anda tidak menyentuh mushaf dulu selama masa haid. Kecuali bila dalam kondisi darurat, sebagian ulama membolehkan membolak-balik mushaf al Qur’an dengan sarung tangan atau tongkat.

Melafazkan /Membaca Ayat-ayat Al-Quran Mayoritas ulama – yakni dari mazhab Hanafiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah – mengharamkan wanita haid untuk melafalkan dari ayat al Qur’an. Hal ini berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam : “Janganlah orang haid dan junub untuk membaca apapun dari al Qur’an.” (HR Tirmidzi)

Imam At-Tarmizi mengatakan bahwa pendapat ini adalah yang dipegang oleh  mayoritas ahli ilmu di kalangan sahabat, tabi’in dan generasi sesudahnya. Sedangkan imam An Nawawi mengatakan bahwa ini adalah pendapat yang diriwayatkan dari Umar, Ali dan Jabir  h dan juga pendapat Al-Hasan al-Basri, Qatadah, Atho’, Abu Al-Aliyah, An-Nakha’i, Said bin Jubair, Az-Zuhri, Ishak dan Abu Thur.

Namun Hanafiyah dan Hanabilah membolehkan melafalkan ayat al Qur’an yang telah menjadi bacaan dzikir, lafadz doa dan sebagian potongan ayat yang dibaca tidak diniatkan untuk membaca al Qur’an. Sedangkan Syafi’iyah membolehkan membaca dzikir yang diambil dari al Qur’an, namun tidak membolehkan sama sekali membaca ayat al Qur’an dengan niat tidak membaca Qur’an sekalipun.

Sedangkan kalangan Malikiyah membolehkan wanita haid membaca Al-Quran tanpa menyentuh mushaf bila takut lupa akan hafalannya.

Bersetubuh

Ulama juga sepakat mengharamkan hubungan suami istri bagi wanita ketika haid. Keharamannya ini ditetapkan berdasarkan ayat : “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: `Haid itu adalah suatu kotoran`. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al Baqarah :222)

Makna  ‘menjauhi mereka (kaum wanita); pada ayat diatas  adalah untuk tidak menyetubuhinya. Dan keharaman ini berlangsung sampai wanita tersebut selesai dari haid dan  melakukan mandi besar (bersuci dari haid).

Thalaq (bercerai)

Diharamkan menthalaq istri yang sedang dalam kondisi haid , berdasarkan firman Allah Ta’ala : “Wahai Nabi, apabila kalian hendak menceraikan para istri maka ceraikanlah mereka pada saat mereka dapat (menghadapi) ‘iddah-nya… .” (At Thalaq : 1)Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan : “Dari ayat ini para fuqaha (ahli fikih) mengambil hukum-hukum talak. Mereka membagi talak itu kepada talak sunnah dan talak bid’ah. Talak sunnah adalah seseorang mentalak istrinya dalam keadaan suci dan belum disetubuhi (ketika suci tersebut) atau dalam keadaan istrinya telah dipastikan hamil. Sedangkan talak bid’ah adalah seseorang mentalak istrinya ketika sedang haid atau ketika suci namun telah disetubuhi, sehingga tidak diketahui apakah si istri hamil dengan sebab hubungan badan tersebut atau tidak hamil.Apabila seorang suami menceraikan istrinya yang sedang haid, maka si suami berdosa. Ia wajib bertaubat kepada Allah Ta’ala dan ia kembalikan si istri dalam perlindungannya (rujuk) untuk ia ceraikan dengan cerai yang syar’i sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Setelah ia rujuk, ia biarkan istrinya sampai bersih dari haid tersebut (suci), kemudian ia tahan lagi (jangan dijatuhkan talak) sampai datang haid berikutnya lalu suci. Setelah itu, ia bisa memilih antara menceraikan atau tidak. Namun bila ia ingin menceraikan, maka tidak boleh ia gauli istri tersebut dalam masa sucinya itu (yakni dicerai sebelum digauli). (Risalah fi Dima’ith Thabi’iyyah lin Nisa’.

Dalil dari penjelasan di atas disebutkan oleh Al Imam Al Bukhari dalam Shahih-nya bahwasanya Ibnu Umar  radhiyallahu ‘anhuma menceraikan istrinya dalam keadaan haid. Maka Umar menanyakan hal tersebut kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wassallam. Mendengar hal tersebut Nabi  marah, kemudian beliau bersabda : “Perintahkanlah ia (yakni Ibnu Umar) agar merujuk istrinya, kemudian ia tahan hingga istrinya suci dari haid. Kemudian (dia tahan hingga) istrinya haid lagi (datang haid berikutnya) lalu suci. Setelah itu jika ia mau, ia tahan istrinya (tidak diceraikan) dan jika ia mau, ia ceraikan sebelum digauli. Itulah ‘iddah yang diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla untuk menceraikan wanita (bila ingin dicerai, pent.).”

Haid dan Nifas memilki implikasi hukum yang sama. Jadi, apa yang dilarang bagi wanita haid juga dilarang bagi wanita yang sedang nifas. Demikian. Wallahu a’lam. [da-dai]

HABIS

 

 Artikel Terkait

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

you're currently offline