Macam-Macam Nikah Mut’ah Di Iran (2 – Habis)

0

nikah-mutah-300x225

Mut’ah Pertobatan

“Sebagai langkah pertama untuk “membersihkan”, paksazi, dekadensi Barat,  Pemerintahan revolusi Islam menggusur daerah pelacuran di Teheran dan menangkap, memenjarakan dan juga menghukum sejumlah penduduk wanitanya, akan tetapi banyak yang lain yang dibawa ke rumah sitaan di Teheran untuk direhabilitasi dan purifikasi.

Uang mengalir dari mereka yang merasa simpatik dengan revolusi dan ingin membantu program-program revolusi tersebut. Dua di antara informan saya menyumbang sejumlah besar uang kepada pusat rehabilitasi itu dengan harapan dapat membantu wanita yang “terjerumus” untuk mengubah hidup mereka dan memulai dengan lebih baik.

Dengan menganggap bahwa keperluan finansial adalah penyebab di belakang prostitusi, pusat rehabilitasi tersebut menyediakan kamar dan makanan bagi pelacur dan sebagai imbalannya mengharapkan mereka dapat membantu berbagai pekerjaan di pusat rehabilitasi tersebut. Mereka dilarang meninggalkan pusat rehabilitasu tersebut dan terus diawasi oleh para pengawal revolusi, dengan harapan dengan adanya gemblengan yang intensif, mereka dapat direhabilitasi.

Akan tetapi keberhasilan bisa diraih dan pertobatan akan tercapai ketika seseorang menjadi istri mut’ah dari salah seorang pengawal revolusi atau seorang serdadu yang kembali dari perang Iran-Irak. Dalam bahasa metafora dan tidak terlalu halus, hal ini dikenal sebagai Ab-Itubih Rikhtan, yang artinya adalah kemerdekaan (pencucian) melalui pertobatan. Sementara dilaporkan bahwa beberapa wanita memilih cara ini untuk memperoleh keselamatan di akhirat, banyak yang lainnya dipaksa berulangkali untuk melakukan perkawinan mut’ah, banyak di antara mereka yang tidak menyukai cara ini.

Biasanya perkawinan mut’ah itu jangka pendek, dan setelah itu menyelesaikan masa ‘iddahnya, perkawinan mut’ah jangka pendek dilakukan untuk wanita tersebut dengan pengawal revolusi lain atau serdadu yang baru kembali lainnya. Alasan utama di belakang perkawinan ini adalah bahwa janda yang tidak terikat merupakan sumber godaan dan immoralitas. Karena itu untuk mencegah perbuatan dosa, perkawinan cara ini dilakukan”. (hal. 81-82)

Mut’ah Hukuman

“Begitu faksionalisme antara rezim Islam yang baru terbentuk dengan pihak oposisi menjadi jelas, pembersihan oposisi besar-besaran dimulai. Karena banyak di antara mereka yang ditahan dan dipejarakan adalah wanita belasan tahun, rezim Islam dihadapkan pada situasi yang sulit. Jika mereka dijatuhi hukuman sementara mereka masih perawan, menurut kepercayaan agama, mereka akan masuk surga. Karena itu sebelum dijatuhi hukuman (hal ini dipercaya secara luas), para perawan remaja ini dipaksa melakukan mut’ah dengan salah seorang sipir penjara. Dengan “menodai” pada perawan remaja ini, bukan hanya untuk merendahkan mereka tetapi juga untuk mencegah mereka ke surga.

Mut’ah hukuman hampir merupakan antitesis terhadap Mut’ah Pertobatan. Sementara pada Mut’ah yang satu tindakan seksual dipercayai untuk “membersihkan” dosa wanita (mut’ah pertobatan), sedangkan pada mut’ah yang lain (mut’ah hukuman) dipercayai untuk “menodai” kemurnian dan kepolosan” (hal. 82).

Inilah keterangan tentang realitas mut’ah di negeri Iran, dan untuk menggalakkan serta menghimbau pengikut mereka untuk kawin mut’ah, Syiah telah berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya, dan berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa kawin mut’ah satu kali derakatnya sama dengan derajat Alhusain, dan barangsiapa kawin mut’ah dua kali derajatnya sama dengan Alhasan, dan barangsiapa kawin mut’ah tiga kali maka derajatnya sama dengan derajat Ali bin Abi Thalib, dan barangsiapa kawin mut’ah empat kali maka derajatnya sama dengan derajatku”. (Tafsir Minhajusshadiqin 2: 493)

Demikianlah dusta mereka kepada Rasulullah saw, mereka juga berkata, kawin mut’ah itu bermula dan berakhir; tanpa saksi, tanpa wali, tanpa warisan, tanpa perceraian dan boleh untuk satu jam, satu hari atau lebih dari itu, menurut hajat keperluan kepada wanita-wanita itu.

Telah diriwayatkan oleh Alkulaini, bahwa Abban bin Thal’ab berkata kepada Ja’far Ash-Shadiq: Pada suatu waktu saya dalam perjalanan melihat wanita cantik (untuk saya kawin mut’ah) tetapi saya ragu-ragu kalau wanita itu punya suami atau wanita jalang, dijawab oleh Ja’far Ash-Shadiq: Itu tidak menjadi soal bagimu, yang penting percaya saja apa yang dikatakan wanita itu. [sumber: ahmadbinhanbal]

  Artikel Terkait

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

you're currently offline