Masa Lalu, Tak Semua Kelabu

0

 

, Masa Lalu, Tak Semua KelabuOleh: Sofistika Carevy Ediwindra

Tidak punya masa lalu? Nonsense. Setiap diri kita kinimerupakan konstruksi dari masa lalu. Apa insight yang muncul dalam benak kita saat terucap kata masa lalu? Menyedihkan, gelap, kelam, atau kelabu?

Framing masa lalu cenderung condong negatif. Ia hampir selalu digambarkan sebagai hal yang layak dilupakan,tidak diakui, dan lebih baik dibuang dari riwayat kehidupan kita. Padahal, puzzle diri kita kini takkan lengkap tanpanya. Kita tiada akan pernah bisaberdiri tegak kini tanpa masa lalu yang menjadi semen perekat dan pengokoh batu bata hidup kita.

Masa lalu Allah hadirkan dalam diri sebagai tarbiyah (pendidikan) bagi kita. Apabila kita adil dalam menimbang, toh tak semua masa lalu itu buruk. Terkadang kitalah yang menutup diri terhadap hikmah besar darikehadiran masa lalu kita. Hikmah, ya, dia kerap kita abai dan acuhkan. Kita justru sering mengutuki masa lalu itu sendiri hingga hikmah pun tidak lagi kita beri ruang di hati. Hikmah itu tidak bisa menembus hati kita yang terlanjur kita bangun pagar baja untuk menutupinya. Maka masa lalu tinggallah masa lalu belaka. Ia berkarat dan menularkan karatnya ke hati kita. Na’udzubillah.

Masa lalu adalah sejarah kita. Jangan lupakan sejarah hampir berarti jangan biarkan masa lalu kita hilang. Sekelam apapun, segelap apapun. Iaadalah guru bagi kita yang luar biasa. Ia mengaja kita menyadari sepenuhnya ketiadaberdayaan sebagai seorang hamba. Ia mengingatkan kita akan tidak pantasnya menyombongkan diri di sehadapan manusia. Kita adalah bukan manusia tanpa cela.

Namun jua masa lalu memberikan kita inspirasi tak berkesudahan. Hadirnya merupakan pertanda bahwa kita masih punya harapan, harapan untuk bangkit dan bahagia. Hadirnya menjadi penguat kita. Adanya di tengah kita menjadi kesyukuran bahwa Allah masih memberikan kita kesempatan untuk belajar darinya.

Melupakan masa lalu hanya akan menghilangkan kesempatan bagi kita untuk mendapat serapan ilmu. Namun demikian, bukan berarti kita harusmengumbar jika ada aib dalam masa lalu kita. Yang harus kita bangun dalam diriadalah pandangan adil terhadap masa lalu kita. Bijak dalam menginsafinya, bersyukur dan menyerap hikmah darinya, menjadikannya sebagai pijakan lompatanperbaikan, adalah sedikit hal yang layak kita lakukan terhadap masa lalu kita. Jangan sekali-kali lupakan bahwa tak ada masa depan tanpa masa lalu.

Jangan sampai kita merasa menjadi pihak yang paling terpuruk dengan adanya masa lalu kita. Mungkin dalam kungkungan kotak dunia kita, kita merasa demikian. Kita lupa bahwa di luar sana masih banyak sahabat dan saudarakita yang memiliki rekam masa lalu lebih buruk. Kita semestinya beranjak dari zona keterkungkungan tersebut dan menghampiri mereka untuk saling belajarmenghikmahi masa lalu. Ini bisa menjadi hal yang membuat kita membalikkan persepsi negatif terhadap masa lalu menjadi hal yang positif. Masa lalu justru menjadi bahan bakar terbaik masa depan kita. Ia merupakan obor kesuksesan kita.

Akhirnya, mungkin memang, setiap diri kita memiliki masa lalu yang kelabu. Masa lalu yang membuat kita malu akannya. Masa lalu yang kianhari kian menyeret kita untuk putus asa, merasa tak layak ada di sekumpulan manusia kini. Tapi, bukan seperti itu penyikapan yang bijak terhadap masa lalu.Masa lalu yang kelabu pun kita bisa ubah menjadi pelangi yang meski muncul sekejapan, membuat kita tersenyum akannya.

Karena tak semua masa lalu itu kelabu. []

 Artikel Terkait

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

you're currently offline