Matahari Itu adalah Emak

, Matahari Itu adalah Emak

Oleh: drg. diana gustinawati

Subuh baru bangun dari peraduannya saat kudengar lirih tangismu diatas sajadahmu, Mak. Derit jendela kayu dikamarku terhempas angin. Meski tak kau ucap, aku tau bahwa ada kami semua ada dalam doamu. Ah, Emak, kau selalu begitu. Bangun subuh, sholat, dan berdoa yang bagiku terlalu panjang. “Bangunlah Nak, sholat dulu,” jemarimu lembut belai keningku. Ada sepenuh rasa sayang sampai di hatiku meski hanya sebuah usapan saja.

Ketika fajar menyiram dedaunan mangga di belakang rumah kita dan memantulkan sinar perak di buah jambu air disebelahnya, koko ayampun tak kalah meriah menghibur Emak di pagi buta. Tangannya gemulai menari diantara panci panci, piring dan penggorengan di dapur sempit kami. Bulir-bilir keringat ditingkah asap dari tungku tanah liat, menyatu dengan semangtnya menyiapkan sarapan untuk kami. “Masakan pakai kayu bakar itu lebih terasa enaknya, baunya lebih harum” meskipun dua kompor minyak tanah sudah ada di dapur.

Mak, kau seperti fajar itu. Lembut, meriah tapi memberi harapaan dan semangat di awal hariku.

Fajar berganti terang, bayang pohon kelapa yang banyak kumbang tanduknya terlihat rebah di sudut rumah

“Ayolah cepat Nak, matahri sudah tinggi! Nanti kau terlambat sekolah!” Emak bolak balik mondar mandir menyiapkan sepatu, kaos kaki, tas bahkan topi upacara Seninku.

“Nanti Aba jemput, jangan balik duluan, kau masih kurang sehat!” katanya sambil memasukkan topi di tasku. Topi yang sudah kekecilan, tapi aku suka..hehe… atau juga karnaa aku sudah mulai betambah bongsor. Entahlah, yang aku tau aku harus pakai topi karna kalau tidak, aku pasti di setrap berdiri di pinggir lapaangan.

Tahun demi tahun masa kecilku beranjak remaja tak ada yang berubah dari Emak, kecuali urat urat di tangannya yang terlihat semakin menonjol. Meski bukan lagi memasak memakai kayu bakar di anglo, tapi tangan itu bertambah berat bekerja. Setiap jam 3 pagi, di bantu Aba, Emak sudah sibuk didapur menggoreng sekeranjang pisang dan sebaskom adonan bakwan untuk berjualan di kantin.

Di bantu aba yang setia menunggui aku sering sayup mendengar suara desisan minyak goreng panas diantara kantukku yang tak tertaahan.
“mana cukup gaji Aba untuk biaya kuliah kakakmu, sekolahmu dan adikmu. Tidak perlu malu kalau mak jualan untuk membaantu Aba. Hasil jualan untuk kebutuhan rumah, gaji Aba untuk kalian sekolah. Semua harus kuliah nanti” wejangan Emak sambil mengulen adonan bakwan.

Diam-diam saat hampir lulus SMA aku pernah menangis, betapa lelahnya Emak. Tidak seperti ibu-ibu temanku yang lain. Tapi aku sangat bangga, sangat bangga.

Matahari di terik panas, itulah Emak di usia remajaku. Keras, menghujam kuat dan tanpa lelah. Langkah kakinya setiap subuh ke pasar melebihi langkah kaki seorang atlit yang joging!…hehe..setidaknya begitu menurutku.

Jika matahari di tengah kepala kita begitu terik maka ketika meluncur menuju sore sinarnya sejuk tapi begitu terang.

Emak pun menjelang senja usianya masih tetap bersinaar di rumah kami. Jarak berkalang laut yang begitu jauh antara aku dan Emak karna studi ku di sebuah universitas di Pulau Jawa, tidak menghalangi sejuknya sinar Emak di setiap waktu.

“Sehat Nak? Sudah makan? apo gulai? jangan sibuk nian yo, nanti kalau liburan mak masakkan gulai ikan salai pokoknya,” suara ibu nungkin setiap hati terdengar diujung telpon sejak aku mulai kuliah sampai selesai…hehe…aku seperti tidak pernah kehilangan matahari Emak. Setiap bangun pagi di kost-an matahari itu seperti matahari Emak.

Meski dunia dan ilmu semakin maju dan Emak tak bisa mengikuti lagi jalan fikiranku yang sudah penuh dengan kosakata kamus, rumus dan bahasa latin, tapi Emak selalu tahu kapan aku mumet dan kapan aku senang. “Ada apa Nak, Mak gelisah, tebangun tenhaa malam langsung tahajud, kau baik baik aja khan?” hiburnya cemas.

Mungkin itu yang d bilang “ikatan batin” seorang ibu. Dia pasti tau apapun yang dihadapi anak anaknya meski sekedar firasat “tidak enak”.
matahri itu, sungguh, meski jauh tapi sinarnya tak pernah hilang sentuh.

Sekarang matahari emak sudah semakin senja. Kerut keningnya, kerut mukanya, renta usia dan sakit yang mendera namun semangatnya tak pernah padam. Seperti senjaa yang mulai bergerak ke peraduaan malam, emak yang sekarang tidak lagi segesit mataahari pagi. Satu persatu airmata nya menghantar kami semua anak-anaknya menuju gerbang pernikahan. Usapan tangannya renta tak pernah hilang. “Jaga baik-baik suami kalian dan anak-anak kalian. Mak dan Aba tidak punya apa-apa untuk di beri seperti orang lain. Mak tidak punya rumah untuk di beri, tidak punya tanah. Harta Mak dan Aba cuma kalian,” tangisnya pecah saat sakit kritisnya mender. Sekuat tenaga emak berjuang demi sembuh untuk menggendong ponakanku yang pertama, dan Allah mengabulkan itu semua. Mungkin karna tulusnya, Tuhan masih sangat sayang
Ah, Emak apapun kulakukan untukmu, apapun. Sepanjang hidupku aku kan disisimu. Seperti kau dulu.

Matahari senja Emak kini tak lagi terang, tapi sinar indahnya memancar di setip langkah dan fikir ku. Tak cukup kata cintaku untuk Emak, karna terlalu banyak.

Matahari Itu adalah emak.

22 Desember 2013, Aku bukan penulis, tapi aku ingin menulis karena Emak. (Buat semua Ibu, Happy Mother’s Day)

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.