Memahami Pembantaian di Mesir

 

, Memahami Pembantaian di MesirWalaupun kita perempuan, namun tak ada salahnya, dan sepertinya harus kita memahami soal tragedi Mesir dalam dua hari belakangan ini. Apa sebenarnya pembantaian di Mesir tersebut?

Kelompok liberal-sekuler yang menggelar demo besar pada pekan-pekan terakhir di bulan Juli lalu, berhasil “menarik perhatian” militer di bawah kepemimpinan Jenderal Abdul Fattah As-Sisi. Mereka mengangkat tema utama yakni mendepak Presiden Mesir yang terpilih secara demokratis, setahun lalu, Muhammad Mursi, dari kursi nomor satu di negara berpenduduk besar di kawasan Timur Tengah dan Afrika itu.

Secara kebetulan, transisi demokrasi di negeri paramida tersebut masih menyisakan kekuatan tirani dan jaringan rezim Husni Mubarak yang tak mudah dibersihkan dalam tempo singkat. Jadilah kudeta militer sebagai jalan untuk memberikan ruang kelompok oposisi dengan berlindung di balik kekuatan “people power” yang digalang kelompok Tamarrud berhasil menggulingkan dan menahan Mursi pada 3 Juli 2013.

Kekuasaan Presiden Mursi yang diusung Partai Keadilan dan Kebebasan, sayap parpol Ikhwanul Muslimin, yang baru saja pas setahun memerintah tersebut berakhir di tangan militer.

Nasib massa pro-Mursi dan kelompok antikudeta militer yang sebagian berasal dari aktivis Ikhwanul Muslimin menjadi target bulan-bulanan pasukan militer dan polisi Mesir. Di ujung kekuasaan Mursi pun mereka menjadi korban kebrutalan kelompok liberal-sekuler yang anti-Mursi. Terlebih saat Mursi berhasil digulingkan, keganasan militer Mesir kian menjadi-jadi.

Puncaknya terjadi pada Rabu (14/8/2013) dimana aparat keamanan Mesir membasmi pendemo yang melakukan aksinya secara damai selama sebulan dengan menggunakan senjata tajam. Akibatnya, menurut versi Ikhwanul Muslimin, sedikitnya 2.500 menjadi martir (syahid) dan 10.000 lainnya terluka. Ribuan aktivis lainnya ditangkapi aparat. Sedangkan menurut versi pemerintah bentukan militer, mereka yang tewas hanya sekitar 525 orang dan 3.500 lainnya luka-luka.

Kecaman dari berbagai negara begitu deras disampaikan atas tragedi kemanusiaan paling sadis di era demokrasi di Mesir tersebut. Atas jatuhnya korban yang sangat banyak itu, Wakil Presiden pada pemerintahan transisi, Muhamad Al-Baradai, mengundurkan diri sebagai bentuk protes penanganan kekerasan oleh aparat.

Meski demikian, Perdana Menteri interim Mesir Hazem al-Beblawi tak bergeming dan membenarkan penggunaan kekerasan oleh aparat Mesir dalam membubarkan pendukung Morsi. Menurutnya, selama ini para loyalis Morsi kerap menyebar teror dan kekacauan bagi warga lainnya.

“Meneror warga, menyerang publik, dan merusak properti pribadi. Negara harus melakukan intervensi untuk memulihkan keamanan dan kedamaian bagi rakyat Mesir,” tegas Beblawi seperti dikutip detik.com (15/8/2013). Pasca peristiwa pembantaian itu, pemerintahan transisi juga menerapkan kondisi darurat nasional selama satu bulan ke depan. Jam malam pun diterapkan di seluruh wilayah Mesir.

Demokratisasi di Mesir telah dirampok oleh kekuatan militer yang memanfaatkan, atau sebaliknya kelompok anti-Mursi yang memanfaatkan militer. Kini kondisi dan masa depan Mesir jadi tak menentu. Mereka yang mendorong militer melakukan kudeta, satu kata yang sulit dinyatakan Amerika Serikat dan negara-negara Barat, tak tahu mau dikemanakan negara Mesir? []

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.