Memberi Seperti Bu Endang

Hidup kadang seperti perjalanan menemui pejabat penting. Selalu ada pintu detektor yang memeriksa dan memaksa untuk memberi. Sukseslah perjalanan mereka yang siap memberi. Dan gagallah yang enggan.

Seribu satu pelajaran membentang mengiringi perjalanan Ramadhan. Sejuta hikmah bertebaran menemani hamba-hamba Allah yang tetap bersemangat memburu pahala. Ada pelajaran besar yang jelas terlihat. Tapi tidak sedikit yang terasa kecil, padahal begitu berarti. Di antara yang terasa kecil tapi begitu berarti adalah memberi.

Di Pajangan, sebuah daerah di kawasan tandus Jawa Tengah; seorang ibu usia empat puluhan tergerak memberi di lingkungan tempat tinggalnya. Beliau bernama Endang Maryatun.

Pada tahun 1978, keadaan daerah Pajangan begitu gersang dengan tanah gamping yang berbatuan. Pada musim kemarau, tanah menjadi sangat kering dan belah. Sebaliknya, di musim hujan tanah menjadi sangat becek. Dengan potret daerah seperti itu, bisa dibayangkan seperti apa kehidupan sosial ekonomi masyarakat setempat. Miskin dan terbelakang.

Tantangan itu justru membuat Bu Endang ingin lebih berbuat. Dengan susah payah, ia mencari jenis tanaman produktif yang cocok dengan tanah jenis itu. Ia mencoba membudidayakan tanaman klengkeng dataran rendah. Perlahan tapi pasti, setelah hampir dua puluh tahun, upaya Bu Endang membuahkan hasil.

Kini, Pajangan menjadi daerah produktif buat tanaman klengkeng dan tanaman obat. Bukan cuma itu. Ibu kelahiran Bantul ini sukses mengembangkan hutan rakyat,  budidaya tanaman klepu, jati super, dan tanaman pangan lokal seperti uwi, gembili, dan kimpul.

Masih banyak hamba Allah lain yang sedang aktif memberi di tengah masyarakat. Ada yang turun di pembelaan hukum, pengelolaan dana umat, sekolah rakyat, dan pembinaan anak jalanan. Ada yang bergerak dengan bantuan donatur, tapi tidak sedikit yang dengan kantong sendiri. Subhanallah!

Memang, memberi tidak semudah yang dibayangkan. Sulit. Tidak semua orang mampu melakukan itu. Harus ada perubahan-perubahan diri agar memberi bukan sesuatu yang memberatkan. Apalagi menyusahkan. Siap jadi Bu Endang yang lain? []

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.