Menangkap Hasrat Suami

, Menangkap Hasrat Suami

Bu Atun menciumi aroma tubuhnya. Pertama, diciumi bagian sebelah kanan. Selanjutnya, ke bagian sebelah kiri. Ia pun diam seperti sedang merasakan sesuatu. Tampaknya, Bu Atun belum puas. Kegiatan tidak rutin itu pun diulangi lagi. Dimulai dari kanan, berikutnya ke kiri. “Hm, nggak bau apa-apa,” suara Bu Atun pelan. Hasil survei kecil-kecilan itu, justru bikin ia bingung.

Kali ini ia berdiri di depan cermin besar. Hampir seluruh bagian tubuhnya tampak dalam cermin. Cermin itu melekat pada tolet yang biasa ia pakai buat bersolek. Ia tidak melakukan apa-apa. Ia pandangi wajahnya di cermin itu. Di depan cermin itu, ia pun berakting kecil-kecilan. Ia ingin melihat secara jelas bagaimana kalau ia sedang cemberut, senyum, dan tertawa riang. Setelah berkali-kali ia ulangi, ia pun diam. “Ah, nggak ada yang berubah dengan wajahku,” suara Bu Atun lagi juga dalam pelan. Suasana kamar yang sepi itu pun menjadi saksi kebingungan Bu Atun. “Kenapa ya? Ada apa ya?” Bu Atun makin penasaran.

Semua tingkah Bu Atun itu dilakukan bukan lantaran ia mau masuk tivi. Bukan juga lantaran ia diminta berceramah di depan orang banyak. Tapi, ia lakukan itu lantaran ada sesuatu yang ganjil dengan suaminya. Ia pun mulai menerawang tentang sikap aneh suaminya.

Biasanya, tiap kali akan berangkat kerja, suami tercinta menyalami Bu Atun. Senyumnya manis penuh pesona. Kadang, kalau tidak ada anak-anak, sang suami mengecup pipi Bu Atun. Mesra. Saa itu, Bu Atun seperti terbang di angkasa bebas. Indah sekali. Tapi tadi pagi, tidak. Kemarin pun tidak. Suami Bu Atun cuma mengucapkan salam. Itu pun dari balik pintu. Cuma suaranya yang kelihatan, orangnya sudah lenyap. Suaranya terdengar agak lain. Tidak selembut biasanya.

Biasanya lagi, sang suami sering minta tolong kalau mau minta diambilkan sesuatu. “Dik, tolong ambilkan minum, dong. Kalau bisa sih, air putih hangat. Dik, kayaknya aku lapar nih. Makanannya sudah siap belum, ya? Dik, kemejaku yang warna coklat disimpan di mana, ya? Kok, nggak ada di lemari?” Kenang Bu Atun mengingat kebiasaan-kebiasaan suaminya.

Tapi, sejak kemarin, kebiasaan itu seperti tidak pernah ada. Sepulang kerja, sang suami langsung menuju dapur. Ia ambil gelas, dan menuang air putih buat minum. Air itu tidak hangat. Tapi, Bu Atun tidak mendengar suara keluhan apa pun dari suaminya. Pulangnya pun sudah jam setengah sepuluh malam. Ketika ditanya makan, suaminya cuma bilang singkat, “Udah makan di kantor.” Setelah mandi, suaminya tidak bilang apa-apa tentang baju yang mau dipakai. Ia pakai baju sekenanya. Ada kaos, kaoslah yang dipakai. Ada baju koko, baju itu juga yang dipakai buat tidur.

Biasanya juga, sang suami sering cerita-cerita soal kantor. Sambil makan malam, suaminya cerita soal bosnya yang mulai galak. Soal kerjaan yang numpuk. Soal jalan pulang yang macet. Soal gaji yang mau dinaikkan. Dan lain-lain. Ia juga nanya soal anak-anak. Dan Bu Atun pun cerita panjang lebar. Soal si sulung yang ngambek tidak mau sekolah kalau tidak diantar. Soal si bungsu selalu minta digendong, padahal jalannya sudah lancar. Bukan cuma soal anak-anak. Sering juga soal tetangga yang tiba-tiba cemberut. Soal harga belanjaan dapur yang merangkak naik.

Tapi, tadi malam berlalu dengan sepi. Tak ada makan malam bersama. Tak ada cerita-cerita. Setelah menidurkan si bungsu di kamar sebelah bersama dengan si sulung, Bu Atun cuma bisa bengong. Ia pandangi suaminya yang tidur miring menghadap tembok. Ia seperti sedang tidur dengan orang asing. Malam yang dingin terasa panas buat Bu Atun. Pikirannya berkecamuk.

Ah, suamiku. Kenapa semua bisa berubah cepat. Apa salahku. Kenapa tidak ngomong. Bu Atun mencoba mengingat-ingat lagi tentang kesalahan yang mungkin ia perbuat. Mungkin ia tidak sengaja bicara kasar sehingga suaminya tersinggung. Mungkin juga ia lupa menggulai kopi panas suaminya. Atau, mungkin ia lupa menyeterika kemeja coklat kesayangan suaminya. Tapi, kok kayaknya nggak. Semuanya lancar-lancar saja. Dan lagi, kesalahan-kesalahan kecil gitu biasanya tidak bikin suaminya diam seribu bahasa kayak gini.

Apa ya? Jawaban itu harus ketemu sebelum suaminya pulang. Ia yakin ada sesuatu yang tidak berkenan dari dirinya. Dan ia pun tidak mau kalau masalah ini berlarut-larut. Bisa fatal. Suara adzan Isya berkumandang membelah kesunyian. Alunannya begitu syahdu. Bu Atun bersegera ke kamar mandi. Ia berwudu dan shalat. Allah, ingatkan hambaMu yang pelupa ini. Tunjukkan kealpaan yang mungkin terlewatkan dalam rumah tangga ini. Jangan biarkan bahtera rumah tangga ini melaju tanpa arah, hanya karena kami salah menangkap arah angin. Bait-bait doa itu tertutur lancar melalui suara hati Bu Atun.

“Buuu, mau bobo. Adi mau bobo!” teriak si bungsu menyentak kekhusyukan Bu Atun. Ah, anak itu. Selalu saja minta ditemani tidur. Tiap kali Bu Atun selesai shalat Isya, Adi selalu merengek-rengek. Kalau tidak dituruti, nangisnya bisa pecah. “Iya…iya, Nak. Sebentar, sayang,” ucap Bu Atun lembut sambil melipat sejadah dan mukena.

Tugas menemani Adi tidur sebetulnya bukan tugas rutin lama Bu Atun. Kedua anaknya sudah terbiasa dilatih mandiri. Itu karena mereka memang hidup tanpa pembantu. Mandi sendiri, makan sendiri, dan tidur pun biasanya sendiri. Kedua anaknya tidur sekamar. Mereka biasa saling menjaga dan saling menghibur. Tapi, sejak seminggu belakangan ini Adi berubah. Entah kenapa. Itu terjadi setelah Adi sembuh dari gejala tipes. Memang, selama sakit, Adi selalu ditemani tidur. Tugas baru itu akhirnya keterusan sampai sekarang.

Bu Atun berbaring di sisi Adi. Tangannya membelai-belai rambut si bungsu yang mulai gondrong. Adi pun mulai terlelap. Biasanya, bukan cuma Adi yang terlelap tidur. Si ibu pun sering ikut pulas. Bu Atun baru siuman ketika jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Ah, ketiduran lagi.

Astaghfirullah. Bu Atun seperti mengingat sesuatu. Matanya agak terbelalak. Ia segera bangun dari berbaringnya. Ah, mungkin ini penyebabnya. Ya…ya.., mungkin sekali. Ini yang bikin suamiku jadi bertingkah aneh. Tapi…, apa iya sih. Masak ditinggal tidur sepekan aja sudah rungsing kayak gitu. Dan itu pun nggak sampai pagi. Cuma setengah malam.

Bu Atun mengingat-ingat pelajaran beberapa hadits Rasulullah saw. Ada hadits yang menyatakan kalau seorang isteri dilarang keras tidur dengan membelakangi suaminya. Membelakangi. Bu Atun terdiam seperti menghitung-hitung. Sepekan ini, saya bukan saja membelakangi. Tapi, sudah meninggalkan suami. Ah, mungkin hadits itu tidak tertuju pada membelakanginya. Tapi karena kelakuan si isteri yang suka ngambek. Dan lagi, saya keluar kamar kan bukan sengaja. Itu karena tugas. Dan itu pun juga karena ketiduran.

Astaghfirullah. Boleh jadi, sesuatu yang kuanggap sepele, di mata Allah itu besar. Boleh jadi, ada hasrat suamiku yang terhambat. Dan itu adalah sesuatu yang teramat besar buatnya. Ya…ya, ada juga hadits yang cukup tegas buat soal ini. Rasulullah saw. pernah menasihati para wanita agar bersedia melayani suaminya walaupun di atas unta.

Pintu depan tiba-tiba terketuk. Dan salam pun terucap. “Ah, suamiku,” ucap Bu Atun spontan. Dijawabnya salam suami itu dengan lembut tapi terdengar keluar. Dibukanya pintu. Ditatapnya wajah sang suami dengan wajah cerah dan ceria. Digapainya jari-jari tangan kanan suaminya. Ditariknya perlahan dan dilekatkan di hidungnya.

Bu Atun menatap wajah sang suami yang tampak berubah cerah. Senyumnya mulai merekah. Terasa, suhu di ruangan kamar Bu Atun menjadi dingin. Sejuk. Nyaman. Tiba-tiba, Bu Atun lagi-lagi menciumi aroma tubuhnya. “Bau apa, ya?” bisiknya pelan. Eh, iya. Aku lupa, kalau suamiku belum mandi. []

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.