Mengapa Ibu Lebih Utama daripada Ayah?


, Mengapa Ibu Lebih Utama daripada Ayah?“Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah : “Ya Rasulullah, kepada siapakah saya harus berbuat baik?” Jawab Rasulullah : “kepada ibumu”. Sahabat bertanya lagi : “kemudian kepada siapa lagi?” jawab Rasulullah : “Kepada Ibumu”. Kemudian sahabat bertanya lagi : “kemudian kepada siapa lagi?” jawab Rasulullah : “kepada Ibumu”. Kemudian sahabat bertanya lagi : “kemudian kepada siapa?” jawab Rasulullah : ‘kepada Bapakmu”.

Sukar untuk dibeda-bedakan antara ayah dan ibu keduanya harus kita muliakan. Jangan sampai kita berbuat baik hanya kepada ayah saja atau hanya kepada ibu saja. Kalau kita mempunyai sebagian rizki dari Allah, kita ingin memberi kepada orang tua kita, maka sebaiknya kedua-duanya turut merasakan senang dan bahagianya si anak.

Akan tetapi dalam kehidupan kita terdapat suatu waktu yang kita harus mendahulukan salah satu, ayah dulu atau ibu dulu. Umpamanya kalau kita baru datang dari bepergian, atau kalau kita yang berumah tangga (berkeluarga sudah berumah pisah dengan orang tua), kita berkunjung kepada orang tua, dirumah ada ayah dan ibu berdua dan family, kepada siapa dulu kita sungkem atau cium tangan? Atau kita baru pulang dari shalat idul fitri dari masjid, kita datang ke rumah. Ibu dan ayah duduk di kursi. Kepada siapa dulu kita cium tangan dan sungkem mohon maaf? Kepada ayah dulu atau ibu dulu?

Mungkin ada yang beranggapan bahwa ayah yang lebih di hormati lebih dulu dari pada ibu karena beranggapan bahwa ayah yang berusaha mencari nafkah. Ayah yang mempunyai kedudukan dalam masyarakat. Ayah menjadi pejabat dihormati di daerahnya, dan sebagainya, yang anggapan masyarakat tentang seseorang si ayah lebih tinggi pangkat dan derajadnya dari pada si ibu. Dalam hal hubungan di masyarakat terhadap seseorang berbeda dengan hubungan si anak terhadap orang tuanya antara si ibu dan si ayahnya.

Walaupun si ayah mencari nafkah dan ibu tinggal di rumah mengurus rumah tangga, tidak berarti nilai si ibu lebih rendah daripada si ayah. Sebab kebahagiaan rumah tangga terdapat apabila antara suami dan istri hidup harmonis dalam melaksanakan kewajibannya masing – masing. Ada yang harus dikerjakan oleh si ibu yang si ayah tidak bisa, dan ada yang harus dikerjakan oleh si ayah yang si ibu tidak bisa. Dalam pembagian tugas ini apabila dilakukan secara harmonis akan terdapat keserasian dan kepatutan dan kerukunan.

Dalam hubungan dengan anak, maka ada hal – hal yang orang tua antara ibu dan ayah berbeda pengorbanannya dan perasaan kasih sayangnya. Pada umumya hubungan ibu terhadap anak berbeda dengan hubungan ayah terhadap anak. Hal itu dapat kita lihat dan rasakan sendiri bahwa hubungan antara ibu dengan anak cenderung lebih dekat, dari pada hubungan seorang anak dengan ayahnya. Misalnya saja kalau ada suatu persoalan pribadi si anak lebih berani curhat kepada si ibu, misalnya lagi minta sesuatu untuk kebutuhan, si anak lebih berani mengadu kepada ibunya daripada kepada ayahnya.

Dalam proses kejadian manusia melalui ayah dan ibu, mulai terjadi pembuatan (Talqiih an-Nuthfah wal Buwaidah) terjadi dalam rahim si ibu. Kemudian ibu yang mengandungnya selama (umumnya) Sembilan bulan, dengan susah payah. Susah memikirkan bagaimana keselamatan anaknya tidak normal, apalagi apabila kandungannya sudah tua. Payah badannya dalam bergerak, berjalan dan dalam segala keadaannya. Semua ini dirasakan oleh si ibu, tidak dirasakan si ayah. Kemudian diwaktu melahirkan si ibu berhadapan dengan maut. Setelah melahirkan si ibu harus menyusuinya selama dua tahun untuk sempurnanya. Menyusui dengan ASI (Air Susu Ibu) itulah yang terbaik menurut ilmu kesehatan dan kejiwaan, Allah berfirman :

Yang artinya : “dan kami amanatkan kepada manusia terhadap dua orang ibu-bapaknya, ibu telah mengandungnya dalam keadaan susah payah (lemah bertambah lemah) dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu-bapakmu kepada-Kulah kembalimu”. (QS. Luqman :14)

Demikian pula firman Allah:

“para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah member makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf”. (QS. Al-Baqoroh : 233)

Di waktu menyusui ketika si anak masih kecil, yang banyak terlibat adalah si ibu. Mulai di kandungan sampai bayi dua tahun si anak selalu lekat dengan ibu. Maka peranan ibu terhadap anaknya sangat besar yang tak dapat dinilai dengan materi. Demikian pula kasih sayang si ibu terhadap anak yang dilahirkannya, seperti pada dirinya sendiri. [Sumber: pustakaaslikan.blogspot]

 

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.