Mengapa Perempuan yang Sedang Beriddah Dilarang Keluar dari Rumah?

0

, Mengapa Perempuan yang Sedang Beriddah Dilarang Keluar dari Rumah?Masa iddah adalah rentang waktu tertentu yang mesti dijalani oleh seorang perempuan, sebelum dia bisa atau boleh menikah lagi dengan laki-laki lain. Rentang waktu masa iddah tidak sama, bergantung pada penyebab atau jenis perceraian yg terjadi.

Di antara rukun dan hukum-hukum iddah ialah kewajiban isteri untuk tetap tinggal di kediaman rumah tangga dimana ia bermukim bersama suami-Nya sebelum beriddah. Ia tidak boleh keluar darinya secara mutlak. Baik iddah itu berasal dari talaq, atau fasakh, atau kematian suami. Hal itu adalah selama masa iddah seluruhnya. Baik tempat tinggal itu merupakan hak milik suami, atau bukan miliknya, selama tinggal di dalamnya memungkinkannya.

Namun apabila bermukim di rumah tersebut tidaklah mungkin sebagaimana rumah tersebut dibongkar, atau pemilik rumah memaksa untuk mengosongkannya dengan kekuatan…, maka dalam keadaan semacam ini, ia boleh pindah dari rumah itu menuju rumah terdekat yang mungkin dia dapat tinggal di dalamnya dengan tentram. Dengan cara itu, rumah yang dipindahi itu dianggap sebagai ganti rumah suami-isteri itu. Ia masuk ke rumah itu dan tidak keluar dari rumah itu hingga akhir iddahnya.

Apabila pemilik rumah menolak memberikan izin kepadanya untuk berdomisili di dalamnya kecuali dengan sewa misalnya, maka ia wajib menyerahkan sewa semisalnya kepadanya selama ia sanggup akan hal itu.

Kemudian apabila rumah tersebut tersendiri dan khusus untuknya, tanpa ada yang menemaninya selain dirinya dari selain mahram-mahramnya, maka ia bisa berpindah-pindah di dalamnya dari kamar ke kamar, bagaimana ia menghendakinya. Namun jika ia bersama dengan orang lain yang bukan mahramnya, maka ia tidak boleh keluar dari kamar khususnya menuju kamar lainnya kecuali karena terpaksa.

Demikianlah, orang yang sedang beriddah dari talaq atau fasakh diperkenalkan untuk keluar dari tempat tinggalnya di mana ia menetap selama beriddah untuk kepentingan-kepentingan primer yang tidak bisa dihindarkan, seperti berobat, membeli kebutuhan-kebutuhan, apabila ia tidak menemukan orang yang dapat dipercayainya dari mahram-mahramnya. Namun apabila ia menemukan orang yang dapat dipercainya di antara mahram-mahramnya, maka ia tidak boleh keluar. [Sumber: Hukum-hukum Wanita dalam Fiqih Islam/Karya: Dr. Ahmad Al-Haji Al-Kurdi /Penerbit: Dina Utama Semarang]

 Artikel Terkait

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

you're currently offline