Mengapa Sulit Khusyu’ dalam Shalat? (2-Habis)

0

, Mengapa Sulit Khusyu’ dalam Shalat? (2-Habis)3. Karena tidak sadar bahwa sholat itu adalah “Almuhadatsah bainal makhluqi wa Khooliqi” dialog hamba kepada Kholiqnya

“Apabila salah seorang dari kalian sholat, sebenarnya ia sedang berkomukasi dengan Allah,” (HR Bukhori Muslim).

Coba perhatikan dari adzan, panggilan waktu menghadap-Nya, yang dipanggilpun yang bersyahadat, “Asyhaaduallaa ilaaha illallah wa ashhadu anna Muhammadar Rasulullah”, yang tidak beriman tidak dipanggil, karena itulah Rasulullah mengingatkan,

“Yang membedakan kita dengan orang kafir adalah sholat, maka siapa dengan sengaja meninggalkan shalat maka sungguh ia sudah berperangai seperti orang kafir”.

Menutup aurat karena memang menghadap-Nya, menghadap kiblat karena memang fokus jasad ruh, hati pikiran kepada-Nya, apalagi berjamaah jadi rapi shof dan seluruh duniapun satu arah kiblat, lalu bersuci karena memang menghadap Maha Suci, lalu berdiri tegap, takbir, membaca ifitah “innii wajjahtu wajhiyalilldzi fathoros samaawati wal ardho” hamba datang menghadap-Mu duhai pencipta langit dan bumi, tunduk patuh taat pada-Mu.

4. Karena sedikit kita yang faham bahwa dalam sholat tatkala membaca Al-Fatihah terjadi dialog hamba dengan Rabbnya.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Barang siapa membaca surat Al-Fatihah, setiap ayat yang dibaca itu langsung dijawab oleh Allah”.

Lalu Rasulullah menyampaikan ketika seorang hamba berkata, ”Segala puji bagi Allah, seru sekalian alam”. Allah menjawab, “Hamba-Ku telah memuji-Ku”.

Seorang hamba berkata, ”Yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang”. Allah menjawab, “Hamba-Ku memuji-Ku”.

Seorang hamba berkata, ”Raja di Hari Pengadilan”. Allah menjawab, “Hamba-Ku mengagungkan Diri-Ku. Hamba-Ku berserah diri kepada-Ku”.

Seorang hamba berkata, ”Hanya Engkaulah yang kami sembah, hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan”.

Allah menjawab, “Inilah pertengahan antara Aku dan hamba-ku, bagi hamba-Ku apa yang dia minta Aku berikan”.

Seorang hamba berkata, ”Tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan yang telah Engkau anugerahkan kepada mereka, bukan mereka yang kena murka, bukan mereka yang sesat.”

Allah menjawab, “Ini milik hamba-Ku, bagi hamba-Ku apa yang dia minta Aku berikan”, (Hadist Qudsi, HR Muslim). [ia]

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.