Mengukur Kasih Ibu

0

, Mengukur Kasih IbuPernah tidak kita empati dengan pengorbanan ibu? Ia dengan sabar mengasihi kita. Sejak kita berada di dalam rahimnya, sembilan bulan lamanya, dengan susah payah ia menjaga. Waktu usia kandungannya masih muda, dan di dalamnya adalah kita, ia amat hati-hati menjaga fisiknya. Tidak lain, ibu khawatir kalo janin yang sedang dikandungnya gugur.

Ia mengatur pola makan dan jenis makanannya, ia senantiasa memperhatikan kesehatan fisiknya. Tidak lupa, ia rajin mendoakan kita setiap habis sholat. Mengharapkan anak yang dikandungnya sehat, berakhlak mulia, dan kelak menjadi anak yang sholeh or sholehah, plus berbakti kepada orangtuanya. Ibu, telah memberikan segala kasihnya kepada kita. Sepenuh hati dan jiwanya.

Waktu kita lahir, senyum ibu mengembang begitu lega, bahagia, sekaligus bangga punya kita. Belahan jiwanya telah hadir ke dunia ini, untuk mengisi rumah sederhananya dengan tawa dan tangisan kita, untuk menemani hidupnya dalam suka dan duka. Ibu selalu lebih besar perhatiannya kepada kita. Karena ia lebih banyak bersama kita. Karena ia paling dekat dengan kita. Gimana tidak, saat tangisan pertama kita ke dunia ini, Allah telah menyiapkan minuman untuk kita. ASI, adalah minuman pertama dan seterusnya hingga usia kita dua tahun. Makanan lain boleh menjadi pendamping asupan untuk tubuh kita. Itu pun dengan amat bijak dipilihkan oleh ibu. Tidak semua jenis makanan boleh masuk ke tubuh mungil kita.

Waktu kita bisa belajar mengucapkan kata “mama”, senyum bahagia menghiasi wajahnya yang tidak kenal lelah mengasuh dan merawat kita. Ia raih kita, dipeluknya, dan diciuminya berulang kali. Kasihnya kepada kita tak bisa dibalas dengan harta. Subhanallah, Allah sungguh telah memberikan kepada seorang ibu kekuatannya untuk menabur rasa cinta dan kasih sayang kepada anak-anaknya. Tak pernah mati cintanya. Tak pernah padam kasihnya.

Waktu kita masuk sekolah taman kanak-kanak, ia setia menunggui kita, menjaganya, dan memperhatikan pertumbuhan kita dengan penuh cinta. Ia tak pernah bosan membimbing dan mengarahkan kita ke jalan yang diridhoi Allah. Ibu selalu menemani kita sampai usia dewasa sekalipun. Bener lho. Kamu pernah tidak memperhatikan kasih nenek? Berbahagialah jika kamu masih punya nenek. Coba sedikit saja memperhatikan bagaimana cinta dan kasihnya kepada anak dan cucunya. Betapa seorang ibu memang amat besar cintanya kepada kita. Suer.

Waktu kita menginjak remaja, ibu sebetulnya tidak bawel binti cerewet. Tidak. Kitanya aja yang acapkali tidak ngerti maksud ibu. Masa remaja kita selalu diisi dengan banyak di luar rumah. Eh, pas ibu kita negor, kita malah membalasnya dengan ucapan, “cerewet amat sih ibu?”

Pernah tidak bertanya sama ibu, bagaimana rasanya saat kita, anaknya, lulus SMU? Sekadar tahu saja, seorang ibu yang melahirkan, membesarkan, dan merawat anaknya, tentu akan merasa bangga dan bahagia melihat anaknya lulus sekolah, apalagi dengan prestasi yang bagus. Ia menangis terharu, sementara kita malah menumpahkan segala kebahagiaan kita dengan pesta bersama kawan-kawan kita. Jarang banget ada anak yang kemudian mencium kening ibunya di saat kelulusan sekolahnya, dan mengucapkan, “aku bangga memilikimu, ibu…”

Waktu kita lulus kuliah, ibu pun merasa bangga, bahkan dengan cintanya ia rela membantu kita untuk mencari pekerjaan yang benar dan karir yang mapan. Ia lakukan semua, karena ingin melihat kita, anaknya, bisa mapan menikmati hidup. Hanya saja, kebanyakan dari kita malah sekolah dan kuliah aja tidak bener. Aduh, kasihan ibu. Jangan sampe cintanya kepada kita bertepuk sebelah tangan.

Kasih sayang dan cinta ibu tidak berhenti di situ. Waktu kita menikah pun, ia yang paling sibuk dan khawatir dengan rencana kita. Bahkan ia dan ayah kita rela membiayai pernikahan kita. Sungguh besar cintanya. Masihkah kita tidak juga mencintai dan menyanginya? [Diambil dari buku “Andai Kamu Tahu (Jangan Jadi Bebek 2)” oleh: O. Solihin, 2004]

 

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.