Menjadi Orang Tua

0

 

, Menjadi Orang Tua
Foto; kurniasari44.wordpress

Oleh: Savitry ‘Icha’ Khairunnisa

Percaya atau tidak, hampir semua anak bersedia mengerjakan apa saja yang Anda suruh ketika waktu tidur tiba. Mereka justru jadi rajin dan penuh semangat.

Yang tadinya malas disuruh membereskan meja makan, mendadak jadi petugas bersih-bersih, mengelap meja, mengangkat piring kotor, atau membuang sampah. Disuruh mengambil apa saja juga mau, sementara di waktu lain mereka mungkin akan mengerjakannya dengan mengeluh.

Ketika waktu tidur tiba, anak-anak seperti menjadi kelinci baterai Duracell yang baru di-charge penuh. Rasa lelah dan lemas yang seharian dirasakan sepulang sekolah dan sepanjang sore menjadi hilang.

Apalagi di akhir pekan. Anak saya akan protes ketika disuruh tidur setelah sholat isya’ dan mengaji pada pukul 20.30. Dia sudah tau hari ini hari apa. Akhir pekan adalah hari di mana dia boleh tidur agak larut.

Sama halnya ketika kami mudik. Yang ini tambah parah lagi. Bayangkan ketika keluarga besar selalu berkumpul, dari yang bayi sampai nenek kakek. Pembicaraan tak pernah usai. Permainan tak pernah selesai.

Saya dan adik-adik saya dulu juga begitu. Saya yakin Anda juga begitu. Sebetulnya badan tentu sudah lelah setelah seharian beraktivitas, apalagi bagi yang tidak biasa tidur siang.
Jadi secara biologis memang sudah waktunya tidur. Tapi selalu saja, anak-anak bisa mencari-cari alasan untuk mengulur waktu tidur. Alasannya, belum mengantuk. Padahal begitu ketemu kasur dan bantal, langsung zzzzzzzzzzzzzz.

Begitulah anak-anak…
Jangan tanya kenapa. Memang sudah dari sononya begitu .

Selamat berakhir pekan, dan selamat menjalani transaksi tawar-menawar waktu tidur dengan anak Anda!

 Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.