Menulis Keburukan Ibu

 

, Menulis Keburukan IbuAda seorang anak yang datang pada seorang Ustadz, kemudian mengeluh atas perbuatan ibunya. Dia mengatakan “Ibu saya itu orangnya kuno dan tidak berpendidikan. Akibatnya saya merasa teraniaya menjadi anak.”

Lalu dengan tenang Ustadz itu mengatakan, “Tulislah semua keburukan ibumu!”

Kemudian ditulislah keburukan2 ibunya: ibuku orangnya pemarah, kurang perhatian, pelit suka mendendam dsb. Settle selesai, Ustadz itupun kemudian berkata,”Sekarang tulis secara jujur apa jasa dan pengorbanan ibumu.”

Akhirnya anak itu termenung.

“Sewaktu di perut ibu sembilan bulan syta menghisap darahnya. Saat itu, sulit berdiri dan berjalan berat, bahkan berbaringpun sakit. Tiga bulan pertama mual dan muntah karena ada saya diperutnya. Ketika saya akan terlahir ke dunia, ibu meregang nyawa antara hidup dan mati.

“Meskipun bersimbah darah dan sakit tiada terperi, tapi ibu tetap rela dengan kehadiran saya. Setelah lahir, satu persatu jari saya dihitungnya dan dibelainya. Di tengah rasa sakit, beliau tiba-tiba tersenyum dengan lelehan air mata bahagia melihat saya terlahir. Dan, saat itu pula ibu menyangka akan lahir anak yang saleh yang memuliakannya.”

Ketika sang anak menulis terus pengorbanan ibunya, tak terasa berlinanglah airmatanya. Semakin sadar bahwa untaian pengorbanan ibunya sungguh tidak sebanding dengan kebaikan yang telah ia perbuat untuk memuliakan ibunya.

Bahkan jika tubuh kita dikupas tidak akan berbanding, tidak akan bisa menanding perih pahitnya penderitaan orang tua kita. []

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.