Mereka Membolehkan Vaksin

 

, Mereka Membolehkan VaksinImunisasi adalah masalah khilafiyah, maka konsekuensi selanjutnya adalah bersikap adil dalam perbedaan pendapat ini. Adil tersebut ditunjukkan dengan tidak mencela golongan yang mengambil pendapat yang berbeda dari yang kita anut.

Selain itu, adil juga ditunjukkan dengan tidak menyembunyikan pendapat lain. Demikian contoh yang ditunjukkan para ulama dalam masalah-masalah khilafiyah.

Berikut ini adalah fatwa-fatwa dan pendapat-pendapat mengenai hukum imunisasi yang akan saya kelompokkan dalam dua golongan besar, yaitu pendapat yang membolehkan dan yang mengharamkan. Perlu diperhatikan juga bahwa fatwa-fatwa berikut ini ada yang membicarakan vaksin tertentu saja (misal IPV) dan ada juga yang menghukumi imunisasi secara umum.

Pendapat yang Membolehkan Vaksin

Fatwa Syaikh Bin Baz No 6/21. Majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun X/1427/2006M. Dikutip dari kitab Al-Fatawa Al-Muta’alliqah bi Ath-Thibbi wa Ahkami Al-Mardha, hal. 203. Darul Muayyad, Riyadh. Versi bahasa Indonesia di blog dr. Arief. Versi bahasa Inggris ada di salafitalk. Ringkasan fatwa: pada dasarnya imunisasi boleh krena termasuk berikhtiar menghindari penyakit, jika ada vaksin yang membahayakan maka tidak boleh menggunakannya.
Fatwa Majelis Eropa Lil-Ifta’ wal-Buhuts. (sumber belum ditemukan). Ringkasan: menggunakannya sebagai obat dan imunisasi hukumnya boleh, untuk menghindari mudharat yang lebih besar.

Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) dalam rapat pada 1 Sya’ban 1423 H (Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia hlm. 370). (sumber online belum ditemukan). Ringkasan: Berobat dengan hal yang najis pada dasarnya adalah haram, pemberian vaksin IPV dibolehkan untuk anak-anak yang menderita immunocompromise, sepanjang belum ada IPV jenis lain yang suci dan halal.

Pendapat Al-Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As-Sidawi dalam Majalah Al-Furqon Edisi 05 Th. ke – 8 1429 H/2008 M. Ringkasan: vaksin IPV yang dibuat menggunakan enzim babi, boleh digunakan karena kondisinya darurat sampai ada vaksin yang bahannya mubah, selain itu bahan najis yang telah lebur menurut tinjauan fikih disebut Istihlak, yaitu bercampurnya benda haram atau najis dengan benda lainnya yang suci dan hal yang lebih banyak sehingga menghilangkan sifat najis dan keharamannya, baik rasa, warna, dan baunya. [fathema]

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.