Nasihat Abu Hanifah, Jangan Mengeluh Jangan Malas

0

, Nasihat Abu Hanifah, Jangan Mengeluh Jangan MalasPada suatu hari, Abu Hanifah sedang berjalan-jalan melewati sebuah rumah yang jendelanya masih terbuka kemudian terdengar oleh beliau suara orang mengeluh dan menagistersedu-sedu. Orang itu mengeluh, “Aduhai, alangkah malang nasibku ini, tiada seorang pun yang lebih malang daripada nasibku yang celaka ini. Sejak dari pagi belum datang setetes ar atau sesuao nasi ke perutku sehingga seluruh badanku menjadi lemah lunglai. Oh, adakah orang yang mau memberi walaupun setetes air?”

Mendengar keluhan itu, Abu Hanifah merasa kasihan sehingga beliau melemparkan bungkusan berisi uang kepada orang yang menangis itu. Abu Hanifah lalu meneruskan perjalanannua. Orang itu terkejut ketika mendapati sebuah bungkusan yang tidak diketahui dari mana datangnya lantas dibukanya. Ternyata bungkusan itu berisi uang dan selembar kertas bertuliskan, “Hai manusia, sungguh tidak wajar kamu mengeluh seperti itu kamu tidak perlu mengeluh dengan nasibmu. Ingatlah kepada kemurahan Allah dan jangan berhenti memohon kepada-Nya dengan bersungguh-sungguh. Jangan suka berputus asa, hai kawan, tetapi berusahalah terus.”

Pada keesokan harinya, Imam Abu Hanifah melewati lagi rumah itu dan suara keluhan itu terdengar lagi. “Ya Allah Tuhan Yang Maha Belas Kasihan dan Pemurah, sudilah kiranya memberikan bungkusan lain seperti kemarin, sekedar untuk menyenangkan hidupku yang melarat ini. Sungguh jika tidak diberi, akan lebih sengsaralah hidupku.”

Mendengar keluhan itu lagi, maka Abu Hanifah pun lalu melemparkan lagi bungkusan berisi uang dan selembar kertas dari luar jendela, lalu beliau meneruskan perjalannnya. Orang itu sangat senang mendapat bungkusan itu lagi. Dengan cepat dibukanya.

Seperti kemarin, dibacanya tulisan yang ada di kertas itu, “Hai kawan, bukan demikian cara memohon, bukan demikian cara berikhtiar. Perbuatan demikian ‘malas’ namanya. Putus asa kepada kebenaran dan kekuasaan Allah. Sungguh Allah tidak senang melihat orang pemalas dan putus asa, enggan bekerja untuk keselamatan dirinya. Jangan… jangan berbuat demikian. Hendaklah engkau bekerja dan berusaha karena kesenangan itu tidak mungkin datang dengan sendiri tanpa dicari dan diusahakan. Orang hidup tidak bisa duduk diam tetapi harus bekerja dan berusaha. Allah tidak akan mengabulkan permohonan orang yang malas bekerja. Allah tidak akan mengabulkan doa orang yang berputus asa. Sebab itu, carilah pekerjaan yang halal untuk kesenangan dirimu. Berikhtiarlah sedapat mungkin dengan pertolongan Allah. Insya Allah, kamu akan mendapat rezeki, selama kamu tidak berputus asa. Nah… carilah segera pekerjaan, saya berdoa semoga engkau sukses.”

Setelah selesai membaca surat itu, dia termenung, insaf dan sadar akan kemalasannya. Selama ini dia tidak mau berusaha. Pada keesokan harinya, dia pun keluar dari rumahnya untuk mencari rezeki. Sejak hari itu, sikapnya pun berubah mengikuti peraturan-peraturan hidup dan tidak melupakan nasihat dari Abu Hanifah. []

 Artikel Terkait

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

you're currently offline