Pampang Foto Anak

Oleh: Yusuf Maulana, Lahir di Cirebon dan ketika dewasa tinggal di Yogyakarta. Setia menekuni industri kreatif dalam dunia literasi. Senang menyimak komunikasi politik dan bertukar ide dengan aktivis mahasiswa.

ANAK dari teman istri saya begitu aktif. Belum lama lahir, ia sudah memiliki akun Facebook! Si anak diaktifkan oleh sang bunda karena saking sayangya pada si anak pertama itu. Fenomena ini sudah jamak ditemui. Bayi-bayi dan batita yang tidak tahu apa-apa soal internet, dikenalkan oleh orangtua mereka dengan cara mendaftarkan diri di jejaring social umumnya.

Fenomena lain wujud sayang orangtua, memasangkan foto aktivitas buah hati mereka di internet. Media sosial menjadi ruang berekspresi ayah dan bunda si anak dalam memampangkan prestasi anaknya. Anak bisa apa difoto lalu diunggah ke internet. Anak tengah melakukan apa atau sedang berada di mana, segera diberitakan oleh orangtuanya via internet.

Seorang teman saat saya tanya mengapa begitu aktif menampilkan buah hati pertamanya di media sosial, menjawab sederhana saja. “Itu cara berkomunikasi dengan keluarga di lain kota.” Ya, dengan sekali tayang di media sosial, kakek dan nenek, paman dan bibi, Oom dan tante, bias mengakses informasi seberapa jauh cucu dan/atau keponakan mereka mengalami kemajuan.

Hak setiap orangtua sih untuk menampilkan foto-foto anak-anaknya. Beragam alasan bisa dikemukakan untuk mendukung pilihan mereka. Mungkin sudah ditimbang jauh-jauh, walau tampaknya lebih banyak yang sekadar menuruti emosi untuk berbagi kepada khalayak di jagat maya. Keinginan berkomunikasi dengan saudara di berbeda tempat boleh jadi logis, tapi bukankah sekarang peranti ponsel memadai ketimbang berbagi ke banyak khlayakan yang tidak berkepentingan?

Cinta pada buah hati, terutama anak pertama atau anak dengan jenis kelamin yang didamba lama, terkadang melahirkan hasrat bereksis di jagat maya. Cinta pada buah hati tersederhanakan dengan keaktifan orangtua berbagi kepada sesama. Tidak dipikir masak-masak apakah itu modus operandi mengeksiskan diri orangtuanya ataukah bukan. Belum lagi bicara antisipasi bahayanya di kemudian hari.

Maraknya penculikan anak dan pelecehan seksual pada anak mestinya menjadikan para ayah dan bunda tidak semberono membagikan foto-foto buah hatinya di internet. Saying, banyak orangtua atas nama cinta tidak menyadari hal ini. Kita tidak pernah tahu teman atau pengikut di media social apakah semua orang baik ataukah tidak. Pintu masuk kejahatan mestinya bias diantispasi dari sini.

Sadar bahaya pada anak-anak, saya sendiri sudah mengurangi untuk mengeksiskan anak melalui foto. Kalaupun menampilkan foto, sebisa mungkin porsi wajahnya tidak begitu tampak. Sekadar wakil fisik yang ada, cukuplah. Rasanya amat tidak memadari manfaat mengeksisikan anak dengan celaka yang bakal diterimanya nanti. Bagaimanapun juga, lebih baik mencegah daripada menyesal kemudian, bukan? []

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.