in

Pekan Kondom Nasional 1-7 Desember, Untuk Apa?

Mulai hari ini 1 Desember sampai 7 Desember mendatang, ditetapkan sebagai Pekan Kondom Nasional. Perlukah dan untuk apa sebenarnya?

pekan kondom nasional

Mulai hari ini 1 Desember sampai 7 Desember mendatang, ditetapkan sebagai Pekan Kondom Nasional. Perlukah dan untuk apa sebenarnya?

Sebagian besar orang menganggap adanya Pekan Kondom Nasional akan mendorong orang untuk melakukan perilaku seks berisiko.

Menurut Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH bukan itu tujuannya, melainkan untuk mengurangi penularan virus HIV melalui perilaku seks berisiko. “Kalau ada orang diberikan kondom gratis lalu ia melakukan perilaku seks berisiko, tandanya memang sudah dari awal ia merencanakan hal itu,” ujarnya pada Konferensi Pers Hari AIDS Sedunia hari Sabtu (30/11/2013) kemarin, seperti dilansir dari detikhealth.

Nafsiah Mboi berdalih bahwa Kemenkes punya kewajiban untuk mengurangi penularan HIV. Pada perilaku seks berisiko, penularan HIV bisa dicegah dengan menggunakan kondom. Tentunya, menghindari perilaku seks berisiko jauh lebih dianjurkan.

Rencananya sebagian besar produsen kondom di Indonesia akan membagi-bagikan produk mereka secara gratis kepada masyarakat.

Dalam kampanye pencegahan HIV/Aids, solusi yang ditawarkan tampaknya bagus, Namun pada realitasnya program kondomisasi lebih menonjol. Padahal, orang bodoh pun tahu bahwa menyodorkan kondom sama saja dengan menyuburkan seks bebas. Apalagi, faktanya kondom justru dibagi-bagikan di lokasi-lokasi prostitusi, hotel dan tempat-tempat hiburan yang rentan terjadinya transaksi seks yang mayoritasnya berusia produktif, lantas apa namanya kalau bukan menganjurkan seks bebas?

Patut dicurigai program ini mengandung motif bisnis, langsung atau tidak. Para pebisnis kondomlah yang akan mengeruk keuntungan dari program seperti ini. Program ini juga akan melanggengkan dan menyuburkan prostisusi dan perzinaan. Itu artinya bisnis kemaksiyatan ini akan makin besar dan menguntungkan pelaku dan kapitalis bisnis ini.

Padahal Rasulullah SAW pernah bersabda. “Apabila zina dan riba telah merajalela dalam suatu negeri, maka sungguh mereka telah menghalalkan azab Allah diturunkan kepada mereka.” (HR Hakim)

Jelaslah, solusi ala pemerintah itu tidak memberantas faktor penyebab utama (akar masalah) atau menghilangkan media penyebarannya yaitu seks bebas. Padahal media utama penularan HIV/AIDS adalah seks bebas maka pencegahan seks bebas ini bisa efektif jika masyarakat dididik dan dipahamkan kembali untuk berpegang teguh pada ajaran agama.

Diantaranya wajibnya seorang lelaki dan perempuan untuk menutup aurat mereka (QS 33:59 & QS 24:31) ,dan menjauhi aktivitas yang mendekati zina (QS 17:32), Masyarakat yang paham bahwa hubungan seks adalah sakral dan hanya bisa dilakukan dengan pasangan sah melalui ikatan pernikahan maka dengan itu akan membentuk kehidupan sosial yang sehat.  Wallahualam bi asha waab. []

What do you think?

Written by

Writer di Rumah Keluarga Indonesia

Indahnya Jiwa Cinta

Sejak 3 Juli, 40 Perempuan Mesir Tewas dan 500 Lainnya Ditangkap Militer